Arsip

Archive for the ‘Renungan’ Category

KARAMAH UWAIS ALQARNI


SANG WALIYULLAH YANG SHOLAT DIATAS AIR LAUT.

Suatu ketika, khalifah Umar bin khattab r.a teringat akan sabda Rasulullah saw. tentang Uwais al Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah kafila

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.

Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi saw. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ?

“Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Saya mohon.. supaya hari ini saja hamba diketahui orang Untuk hari hari selanjutnya, biarlah saya yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka sangka angin topan berhembus dengan kencang.

Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya.

Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.”

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami, ”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. Kami berkata “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?

”Tanya kami. “Uwais al Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi bagikannya kepada orang orang fakir di Madinah?” tanyanya. “Ya, ”jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al Qorni mengucap salam, tiba tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi bagikan seluruh harta kepada orang orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.

Meninggalnya Uwais al Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya tanya: “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

beliau adalah uwais Al qarni r.a

Percakapan bayi dengan Tuhan sebelum Terlahir ke dunia


Suatu ketika..seorang bayi siap dilahirkan ke dunia, menjelang diturunkan … Dia bertanya kepada TUHAN :

bayi : “para malaikat di sini mengatakan, bahwa besok engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi….bagaimana cara saya hidup di sana,saya begitu kecil dan lemah”

TUHAN : “aku telah memilih satu malaikat untukmu..ia akan menjaga dan mengasihimu”

bayi : “tapi di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa ini cukup bagi saya untuk bahagia”

TUHAN : “malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia”

bayi : “dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?”

TUHAN : “malaikatmu akan mengajarkan..bagaimana cara kamu berdoa”

bayi : “saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat,siapa yang akan melindungi saya”?

TUHAN : “malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun”

bayi : “tapi saya akan bersedih karena tidak melihat engkau lagi”

TUHAN : “malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaku, walaupun sesungguhnya aku selalu berada di sisimu”

saat itu surga begitu tenangnya…sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya

bayi : “TUHAN……….jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku nanti”?

TUHAN : “kamu dapat memanggil nama malaikatmu itu…… I B U …”

 

Kenanglah ibu yang menyayangimu..

Sayangi Orang yang telah melahirkanmu..

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…

Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu..

 

Ingatkah engkau..ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?

Dan ingatkan engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit…

 

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan..

Ibu… yang ketika kau tak meyuruh untuk mencuci baju kecilmu,

dengan senang dan tanpa marah marah…. mencium baju kotormu dan mencucikannya untukmu

Lalu bagaimana dengan mu…..

saat Ibumu memohon pertolonganmu……. untuk mencucikan bajunya

 

Di saat kau melupakannya..,, atau,,, mungkin tak memperhatikannya

Ibumu Selalu menyebut namamu lewat nyanyian tengah malam berbasuh air wudlu….

 

Kembalilah…mohon maaf…pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu..

Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang,ketika ibu telah tiada…

 

Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita…,tak ada lagi senyuman indah…tanda bahagia..

Yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya..yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya..

Tak ada lagi..dan tak akan ada lagi.. Yang akan meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya..

Pulang..dan kembalilah segera…peluklah ibu yang selalu menyayangimu..

 

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..

 

sumber http://o-onews.blogspot.com/2010/09/perbicaraan-bayi-dengan-tuhan-sebelum.html

 

Kisah Perempuan tua dan Kecintaannya Akan Rasulullah saw


Tersebutlah sebuah kisah seorang Perempuan Tua yang tak pernah berhenti berharap  datangnya Syafaat Rasulullah saw. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati,  kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

Insya Allah, Kisahnya akan Bermanfaat dan dapat dipetik Hikmahnya.

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa  ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Pesan Cinta Nabiyullah Ibrahim wa Ismail A.s


 

Ayah adalah penyangga, harapan, belahan jiwa, nasab, pertaruhan, prestise, guru, inspirasi, rasa hormat, dirindukan dan entah apa lagi. Anak adalah harapan, belahan jiwa, qurrota’ayn, nasab, pertaruhan, kesenangan, cobaan, musuh, dirindukan, inspirasi dan entah apalagi. Pola hubungan keduanya sangat khas. Meskipun kadang pasang surut, dominasi rasa cinta biasanya lebih menggunung dari sekedar riak kecil rasa sesal. Jika pun ada yang berakhir tragis, itu tidak lebih sebagai peristiwa yang keluar dari garis fitrah yang jumlahnya hanya sepersekian dari kelaziman. Kelaziman di mana antara ayah dan anak adalah dua cinta yang bertaut darah.

Ayah, betapa ia dirindukan. Anak sungguh ia dirindukan.

Nabiullah Ibrahim adalah pecinta yang paling bersih, di mana rasa cintanya pada Allah melebihi segala-galanya, meskipun kepada Ismail yang telah lama ia nantikan kehadirannya. Kita pasti pernah diberi tahu, bahwa kehadiran Ismail baru ada di saat Ibrahim telah lenjut. Usia yang menurut logika dan persangkaan Ibrahim sendiri adalah fase di mana sangat mustahil ia beroleh anak. Maka betapa gembira pada akhirnya, bahwa ia mendapatkan Ismail yang saleh dan sabar.

Cinta Ibrahim atas Ismail bukanlah cinta buta, tetapi cinta dalam visi mahabbah fillah sehingga mantap mengasah pisau untuk memutus leher anaknya. Tidak ada cerita, Ismail menjadi kabut yang menghalangi dirinya melihat hakikat kebenaran betatapun ia sayang pada Ismail setinggi langit. Tidak seperti segelintir orang tua di zaman ini yang khilaf menjadi koruptor hanya karena bahasa sayang kepada anak yang merengek mobil baru.

Cinta Ismail atas Ibrahim bukan pula cinta palsu, tetapi cinta dalam visi mahabbah fillah sehingga tak gentar menyerahkan lehernya. Tidak ada cerita ia mengelak dari Ibrahim sambil menghujat ayahnya itu sebagai sangar, bengis dan kejam. Tidak seperti segelintir anak di zaman ini yang khilaf menitipkan orang tuanya di panti jompo setelah ia ringkih dan pikun.

Pada akhirnya, Ibrahim dan Ismail sama-sama rela berkorban dan dikorbankan atas nama cinta. Cinta pada Yang Maha Mencintai.

Tak ada yang tega seorang ayah akan mengalirkan darah anaknya. Tetapi demi memenuhi hasrat cinta pada Allah, dijawab juga perintah Allah itu untuk menyembelih Ismail. Subhanallah, Allah lebih memahami dari apa dan siapapun bahwa cinta ayah dan anak amatlah subur. Maka Allah mengganti leher Ismail dengan Kibas yang subur pula.

Saya, kita semua para ayah, tak akan pernah bisa sebanding mengukur cinta pada Allah dengan mengambil patron Ibrahim soal penyembelihan dan darah. Anak-anak kita, tak akan pernah bisa sebanding mengukur cinta pada Allah dengan mengambil patron Ismail soal penyembelihan dan darah. Satu-satunya yang sanggup kita tumpahkan dari darah anak lelaki kita untuk Allah, dan satu-satunya darah yang sanggup diberikan anak lelaki kita untuk Allah, hanyalah tetesan darah khitan. Saat kulupnya kita korbankan agar ia menjadi bersih jasad dan ruhaninya. Dan lagi-lagi, kita pun mengambil teladannya dari Nabiullah Ibrahim ‘alaihissalam ini.

Sekarang dan seterusnya, “Ismail” bagai simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai dan kita sudah barang tentu memilikinya dalam wujud apapun. Boleh jadi “Ismail” kita mengambil bentuk kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankan cinta atas “Ismail”-“Ismail” simbolik itu untuk mencapai tujuan hidup sebenarnya, yaitu merebut cinta Allah?

Taruhlah kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi mengamalkan perintah Tuhan?

Taruhlah kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Siti Hajar, yang merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar Ismail? Dan taruhlah kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang militan seperti Ismail yang rela menjadi korban atas nama cinta pada Tuhannya?

Seyogyanya untuk belajar cinta dari teladan keduanya. Semoga kita bisa.

”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” (terjemah QS. Al-Mumtahanah [60] : 4).

 

Oleh : Ust. Abdul Muttaqin. Era Muslim

 

 

” Rasulullah SAW cinta kepada orang yang mencintai keturunannya “


Abdullah Bin Mubarak mempunyai suatu kebiasaan, yaitu melaksanakan ibadah haji pada suatu tahun kemudian berperang fi sabilillah pada tahun berikutnya. Pada suatu kali, dia pernah menceritakan suatu peristiwa yang dialaminya pada suatu tahun hajinya;

Aku pergi ke pasar Kuffah, Iraq, untuk membeli unta dengan membawa 500 Dinar emas. DI tengah perjalanan, aku melihat seorang wanita yang sedang membersihkan bulu ayam, sedangkan aku yakin bahwa ayam itu berasal dari bangkai ayam. Kemudian aku mendekatinya dan berkata, ” Mengapa kamu melakukan hal ini?”

Dia menjawab, “Wahai hamba Allah, janganlah kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang tidak bermanfaat bagimu.”

dari sela-sela jawabannya aku dapat memahami sesuatu telah terjadi dengannya, lalu aku mendesaknya lagi dengan satu pertanyaan. Dia menjawab, “Wahai hamba Allah, aku terpaksa mengatakan rahasiaku kepadamu, semoga Allah merahmatimu. Aku adalah seorang wanita Alawiyyah (Sebutan untuk wanita keturunan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, yang biasa disebut Syarifah) dan aku mempunyai empat orang putri sedangkan ayah dari anak-anakku ini telah meninggal dunia sejak beberapa waktu lalu. Hari ini adalah hari keempat kami tidak makan apapun. Oleh karena itu adalah halal bagi kami untuk memakan bangkai dalam keadaan darurat seperti sekarang ini. Kemudian aku mengambil bangkai ayam ini seperti yang engkau lihat aku sedang membersihkannya saat ini, untuk kuberikan kepada anak-anakku.”

Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri, “Celakalah engkau, wahai Ibn Mubarak, betapa senang keadaanmu dibandingkan dengan orang ini?” Aku berkata kepada wanita tersebut, “Bukalah kantongmu.” Kemudian aku memasukkan semua uang Dinarku ke dalam kantong kainnya, sedang dia terdiam dan tidak menoleh. Aku bertanya kepadanya, “Kembalilah ke rumahmu dengan uang ini untuk memperbaiki kondisi keluargamu.: Jadi, pada tahun ini Allah SWT telah mencabut dari diriku keinginan untuk menunaikan ibadah haji dan aku segera kembali ke negeriku.

Setelah para jamaah pulang dari haji, aku menemui dan bertamu ke rumah para tetangga dan teman-temanku yang baru kembali dari ibadah haji sambil mengucapkan kepada mereka, “Semoga Allah menerima hajimu dan membalas segala usahamu.” Akan tetapi, anehnya mereka juga mengucapkan hal yang sama kepadaku. Semoga Allah menerima hajimu dan membalas segala usahamu. Bukankah kami bertemu denganmu pada beberapa tempat ini dan itu pada waktu haji?”

Kebanyakan mereka pun mengatakan hal yang sama kepadaku. Aku terus memikirkan keanehan peristiwa ini. Kemudian dalam mimpiku aku melihat Nabi SAW berkata kepadaku,

“Wahai hamba Allah janganlah engkau heran, sesungguhnya engkau telah menolong seorang yang sengsara dari (golongan) anakku amak aku meminta kepada Allah agar Dia ciptakan seorang malaikat yang serupa bentuknya denganmu untuk menghajikanmu.”

Kategori:Renungan, Sejarah Tag:

Ketika Ajal Menjemputmu sekarang, Siapkah?


Baginda Rasullullah S.A.W bersabda : “Apabila telah sampai ajal seseorang maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam tubuhnya dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai ke lutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudian mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudian merekapun keluar. Dan Pada yang terakhir kali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang tersebut.”

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: “Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibril A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazakh itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibril A.S.”. Baca selanjutnya…

Kategori:Renungan, Tasawuf, Umum Tag:, , ,

Kisah Taubatnya Ahli maksiat


BismillaHirrahmaanirrahiim.

Alkisah,  Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Aku ingin Bertobat, Aku minta tolong kepadamu,  Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”
Ibrahim bin Adham berkata : “Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,”.
Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”
“Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”
“Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.
Syarat yang kedua ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”
“Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.
“Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.
“Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dimana Allah swt tidak bisa melihatmu.”
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”
“Bagus! Kalau kau mengetahui dan yakin bahwa  Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.
“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”
“Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”
“Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.
“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah darinya!”
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup?cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat kepada Allah.”

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.
Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutny, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”
Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”
Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.”
Betapa kagetnya Jahdar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku.

Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”

Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.