Arsip

Archive for the ‘Mukjizat para Rasul’ Category

BERILAH ANAKMU NAMA MUHAMMAD, NISCAYA KEBERKAHAN AKAN KAU PEROLEH DUA KALI LIPAT


 

Dalam masalah Aqidah, keislaman seseorang tidak akan sah dan tidak disebut sebagai muslim sebelum nama “Muhammad” disebutkan setelah nama Allah SWT, yakni ketika mengucapkan kalaimah Syahadat, demi melengkapi penyaksian akan ketuhanan Allah SWT yang mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya.

Mengingat Keagungan dan Kemuliaan yang terdapat pada Pribadi Yang mulia Nabi Muhammad SAW, dan untuk mengenang masa Hidup Beliau dan jasa – jasanya dalam menunjuki umatnya dari jalan kegelapan menuju jalan yang penuh Cahaya Rahmat dan Ampunan Allah SWT, Para salafushalih sangat menganjurkan untuk memberikan nama anak-anak kita dengan nama “Muhammad” atau “Ahmad”. Mereka berkeyakinan bahwa sebuah keluarga akan lebih mendapatkan keberkahan dan ketentraman jika salah seorang anaknya dinamai dengan nama Nabi ini. Bahkan ada sebagian guru agama, merasa sungkan dan enggan memberi hukuman atau memukul muridnya yang kebetulan bernama “Muhammad” atau “Ahmad”, walaupun dia memang bersalah dan layak dihukum. Hal ini demi adab dan menjaga diri dari menciderai keagungan Nabi.

Bahkan menurut sebuah Hadits yang lemah (dhaif), para malaikat yang menjaga neraka dan menyiksa orang – orang yang berdosa disana akan memberikan keringanan khusus kepada para muslimin yang sempat mampir di neraka dan memiliki nama ini, sehingga tidak menerima hukuman yang sama dengan para penghuni neraka lain sebelum akhirnya dimasukkan ke surga.

Berhati – hatilah dan bersikaplah bijak sebisa mungkin dengan orang – orang yang bernama Muhammad, bukan karena kita takut, enggan, atau apapun, akan tetapi demi menjaga martabat Nabi dan kemuliaannya. Penghormatan kita kepada orang –orang yang kebetulan memiliki nama tersebut akan dibalas oleh Allah SWT, karena Allah SWT sangat mencintai beliau.

Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan dan kelebihan terhadap orang yang diberi nama Muhammad. Dalam sebuah Hadits dikatakan,”Apabila kamu menamakan seseorang itu Muhammad, hendaklah kamu hormati dia dan lapangkan tempat baginya didalam suatu majelis, dan jangan masamkan mukamu kepadanya.” Dan diriwayatkan pula bahwa tidak ada suatu kelompok yang mengadakan musyawarah dan ada bersama mereka seorang yang bernama Muhammad, namun mereka tidak mengajaknya ke dalam musyawarah itu, melainkan mereka tidak akan diberkahi.”

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Malikah dari Ibnu Juraij dari Nabi SAW, yang telah bersabda,”Barang siapa memiliki istri yang sedang mengandung dan bercita – cita hendak menamakan anak yang masih dalam Rahim itu dengan nama Muhammad, Allah Ta’ala akan mengaruniakan kepadanya anak lelaki, dan jika ada seorang yang bernama Muhammad didalam sebuah rumah, niscaya Allah Ta’ala mengaruniakan berkah didalam rumah itu.”

Seorang perempuan telah berkata kepada Rasulullah SAW,”Ya Rasulullah, aku ini seorang perempuan yang tidak mempunyai anak lelaki yang hidup,” Maka Rasulullah SAW menjawab,”Bernazarlah engkau kepada Allah bahwa, apabila engkau mendapat anak lelaki, engkau akan namakan anak itu Muhammad.” Maka ia pun melakukannya, ternyata anak lelakinya hidup selamat dan baik.

Telah diriwayatkan dari Abu Umamah,”Barang siapa mendapat anak lelaki lalu ia namakan dia Muhammad karena menghendaki keberkahannya, ia dan anaknya akan masuk syurga,” (Disebutkan dalam kitab Al – Firdaus). Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Tidak ada suatu jamuan makan lalu datang hadir kepadanya seorang yang namanya Ahmad atau Muhammad melainkan Allah Ta’ala akan memuliakan rumah itu dua kali lipat.”

Sesungguhnya Allah SWT dengan segala kekuasaanNya telah mengutus Nabi-Nya, Muhammad SAW, dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan Risalah. Beliau menjadi Rahmat bagi alam semesta dengan risalah tersebut dan menjadi sebab seseorang mendapat petunjuk kejalan yang lurus. Maka sudah semestinya seorang hamba taat kepadanya, menghormatinya, dan melaksanakan hak – haknya. Dan salah satu dari hak Beliau atas umatnya adalah agar mereka membcakan shalawat dan salam kepada beliau sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa – jasa beliau dan sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat – malaikatNya bershalawat untuk Nabi, Hai orang – orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al – Ahzab:56). Ibnu Qoyyim berkata dalam kitabnya, Jalaul – Afham, “Maksudnya, Jika Allah dan malaikat – malaikat-Nya berShalawat untuk Rasul-Nya, hendaklah kalian juga bershalawat dan memberi salam untuknya, karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat,”

Namun sangat disayangkan, banyak umat Islam yang sudah melupakan hak yang agung tersebut. Mereka menyamakan penyebutan nama beliau dengan penyebutan tokoh tokoh dunia lainnya, baik dari kalangan umat Islam maupun Kafir. Penyebutan Predikat Nabi dan Rasulullah serta mengiringi penyebutannya dengan Shalawat dan Salam, baik dalam pidato maupun tulisan mereka, semakin jarang ditemukan. Ini gambaran dari sikap yang tidak menghormati beliau sebagai utusan Allah yang dimuliakan.

Menyebut nama Rasulullah tanpa menyertakan Shalawat dan Salam kepada Beliau termasuk sikap kurang sopan (Ghalil Adab) dan mengurangi hak Nabi. Bahkan para Ulama memakruhkan dengan hanya menyertakan salam tanpa shalawat dengan menguc apkan ‘alaihis – salam.

Imam Al – baihaqi menukil dalam kitab-nya, Syu’ab al – Iman, dari Al – Halimi, ia berkata, “Sudah dimaklumi bahwa hak Nabi sangat Mulia dan agung serta mulia dan terhormat bagi kita. Hak beliau atas kita jauh lebih daripada hak seorang tuan atas budak – budaknya atau orangtua atas anak – anaknya. Karena Allah Ta’ala telah menyelamatkan kita dari siksanya diakhirat nanti melalui beliau. Allah juga menjamin arwah, badan, kehormata, harta, dan keluarga serta anak – anak kita didunia melalui beliau, menunjuki kita dengan perantara beliau. Dengan menta’ati Beliau Allah akan menyampaikan kita ke syurga Na’im.

Adakah satu nikmat yang bias menyamai nikmat ini?. Derajat mana yang bias menyamai derajat ini? Dan kedudukan mana yang bisa menyerupai kemulyaan Ini?. Wajiblah bagi kita untuk mencintainya, mengagungkan dan menghormati beliau lebih daripada penghormatan seorang mahasiswa kepada dosennya, atau seorang anak kepada orangtuanya. Seperti inilah petunjuk kitabullah, sehingga Allah SWT memerintahkan scara langsung dalam Kitab-Nya yang artinya, “Maka orang – orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur-an), mereka itulah orang – orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf:157). Dalam firman-Nya yang lain, “Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya (Rasulullah), dan menghormatinya.” (QS Al-Fath;9).

Allah menambahkan dalam ayat ini, hak Rasulullah SAW di tengah – tengah umatnya agar dimulyakan, dihormati, dan diagungkan. Tidak boleh memperlakukan beliau seperti perlakuan seseorang terhadap sesamanya, baik dalam perbuatan maupun dalam perkataan. Seperti Firman Allah yang artinya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain.” (QS An-Nur:63).

Makna ayat diatas adalah, jangan kalian memanggil beliau seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lainnya, jangan menunda – nunda memenuhi panggilannya, atau perintahnya dengan mencari – cari alas an sebagaimana alas an yang kalian gunakan untuk menunda – nunda memenuhi panggilan sebagian yang lain. Melainkan mereka harus mengagungkannya dengan segera memenuhi panggilannya, langsung menta’atinya.

Diantara bentuk menyamakan panggilan beliau seperti panggilan antara sesama kita adalah dengan menyebut langsung nama beliau serta tanpa disertai shalawat dan salam, padahal ini tuntunan dari rasa cinta kepada beliau. Tidak membaca shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW ketika kita mendengar nama yg Mulia ini disebut merupakan tanda orang Bakhil, berdasarkan sabda Beliau, “Orang Bakhil adalah Orang yang bila namaku disebut disisinya lalu tidak bershalawat atasku.” (HR Ahmad dan An-Nasai).

 

 

Iklan

Memaknai Kisah Perjalanan dari Dakwah Rasulullah saw


Artikel kali ini saya ingin sedikit mengajak kepada Semua untuk merenungkan Perjalanan dakwah Rasulullah saw yang selalu mendapatkan perlawanan yang kuat dari Bangsa Quraisy. Begitu banyak duri yang ditebarkan bangsa Quraisy untuk mengahalang-halangi dakwah Rasulullah saw. Namun Hebatnya Rasulullah saw sedikitpun tidak gentar menghadapi teror yang dilancarkan orang-orang Quraisy baik secara fisik maupun non fisik yang ditimpakan kepada Beliau.

Kesabaran dan keteguhan hati yang dianugrahkan Allah kepada Rasulullah menjadi Perisai dan keberaniannya dalam menghadapai masa-masa sulit. Walau jiwanya selalu diancaman kematian.Kemampuan meredam amarahnya patut jadi contoh, begitupun keikhlasannya memberikan yang terbaik kepada orang yang menyakitinya akan membuat kita terhanyut dalam memaknai perjalanan hidupnya, hingga kelapangan dadanya untuk memaafkan lawan mampu membuat lawan-lawannya menjadi simpati terhadap Islam.

Kepandaian Rasulullah saw mengambil kebijakan dalam menyikapi sikap musuh memperlihatkan betapa tingginya kecerdasaan emosi beliau (EQ). Sehingga Memaafkan musuh adalah menjadi pekerjaan mudah baginya. Walau sang musuh jelas-jelas sejak semula berniat membunuhnya. Apalagi kepada musuh yang kebenciannya masih tipis, atau baru pertama kali melakukan perbuatan aniaya terhadap dirinya.

Semoga Teladan yang diberikan oleh Rasulullah saw. Ini mampu kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini agar kita mampu mencapai pribadi yang sukses dalam menggapai kehidupan dunia dan akhirat. Amin.

Penderitaan Rasulullah saw (1)

Dikisahkan dalam kitab Bidayah wal Nihayah dan Hilyatul Aulia: Baihaqi memberitakan dari Abdullah bin Ja’far ra. katanya: Apabila Abu Thalib telah meninggal dunia, mulailah Nabi SAW diganggu dan ditentang secara terang-terangan. Satu peristiwa, beliau telah dihadang di jalanan oleh salah seorang pemuda jahat Quraisy, diraupnya tanah dan dilemparkan ke muka beliau, namun beliau tidak membalas apa pun.

Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: ‘Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!’ beliau membujuk puterinya itu.
Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, namun selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengusik ketenteramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku!

Thabarani telah memberitakan dari Al-Harits bin Al-Harits yang menceritakan peristiwa ini, katanya: Apabila aku melihat orang ramai berkumpul di situ, aku pun tergesa-gesa datang ke situ, menarik tangan ayahku yang menuntunku ketika itu, lalu aku bertanya kepada ayahku: ‘Apa sebab orang ramai berkumpul di sini, ayah?’ ‘Mereka itu berkumpul untuk mengganggu seorang pemuda Quraisy yang menukar agama nenek-moyangnya!’ jawab ayahku. Kami pun berhenti di situ melihat apa yang terjadi. Aku lihat Rasulullah SAW mengajak orang ramai untuk mengesakan Allah azzawajaila dan mempercayai dirinya sebagai Utusan Allah, tetapi aku lihat orang ramai mengejek-ngejek seruannya itu dan mengganggunya dengan berbagai cara sehinggalah sampai waktu tengah hari, maka mulailah orang bubar dari situ.
Kemudian aku lihat seorang wanita datang kepada beliau membawa air dan sehelai kain, lalu beliau menyambut tempat air itu dan minum darinya. Kemudian beliau mengambil wudhuk dari air itu, sedang wanita itu menuang air untuknya, dan ketika itu agak terbuka sedikit pangkal dada wanita itu. Sesudah selesai berwudhuk, beliau lalu mengangkat kepalanya seraya berkata kepada wanita itu: Puteriku! lain kali tutup rapat semua dadamu, dan jangan bimbang tentang ayahmu! Ada orang bertanya: Siapa dia wanita itu? jawab mereka: Itu Zainab, puterinya – radhiallahu anha. (Majma’uz-Zawa’id 6:21)

Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: ‘Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah ‘Laa llaaha lliallaah!’ nanti kamu akan terselamat!’ beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari.

Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh … ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orangorang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik.
(Majma’uz Zawa’id 6:21)

Penderitaan Rasulullah saw (2)

Bukhari meriwayatkan dari Urwah r.a. katanya: Aku bertanya Amru bin Al-Ash ra. mengenai apa yang dideritai Nabi SAW ketika beliau berdakwah mengajak orang masuk Islam, kataku: ‘Beritahu aku tentang perbuatan yang paling kejam yang pernah dibuat oleh kaum musyrikin terhadap Rasulullah SAW? Maka Amru berkata: Ketika Nabi berada di Hijir Ka’bah, tiba-tiba datang Uqbah bin Abu Mu’aith, lalu dibelitkan seutas kain pada tengkuk beliau dan dicekiknya dengan kuat sekali. Maka seketika itu pula datang Abu Bakar ra. lalu dipautnya bahu Uqbah dan ditariknyanya dengan kuat hingga terlepas tangannya dari tengkuk Nabi SAW itu. Abu Bakar berkata kepada Uqbah: ‘Apakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan ‘Tuhanku ialah Allah!’ padahal dia telah membawa keterangan dari Tuhan kamu?!’ (Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:46)

Suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Amru bin Al-Ash ra. katanya: Aku tidak pemah lihat kaum Quraisy yang hendak membunuh Nabi SAW seperti yang aku lihat pada suatu hari di bawah lindungan Ka’bah. Mereka bersepakat merencanakan pembunuhan beliau sedang mereka duduk di sisi Ka’bah. Apabila Rasulullah SAW datang dan bersembahyang di Maqam, lalu bangunlah Uqbah bin Abu Mu’aith menuju kepada Rasulullah SAW dan membelitkan kain ridaknya ke tengkuk beliau, lalu disentaknya dengan kuat sekali, sehingga beliau jatuh tersungkur di atas kedua lututnya. Orang ramai yang berada di situ menjerit, menyangka beliau telah mati karena cekikan keras dari Uqbah itu. Maka ketika itu segeralah Abu Bakar ra. datang dan melepaskan cekikan Uqbah dari Rasulullah SAW itu dari belakangnya, seraya berkata: Apa ini? Adakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan ‘Tuhanku ialah Allah!’ Uqbah pun segera berundur dari tempat Rasuluilah SAW itu kembali ke perkumpulan teman-temannya para pemuka Quraisy itu. Rasulullah SAW hanya bersabar saja, tidak mengatakan apa pun. Beliau lalu berdiri bersembahyang, dan sesudah selesai sembahyangnya dan ketika hendak kembali ke rumahnya, beliau berhenti sebentar di hadapan para pemuka Quraisy itu sambil berkata: ‘Hai kaum Quraisy! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Tuhan! Aku diutus kepada kamu ini untuk menyembelih kamu!’ beliau lalu mengisyaratkan tangannya pada tenggorokannya, yakni beliau rnenjanjikan mereka bahwa mereka akan mati terbunuh. ‘Ah, ini semua omong kosong!’ kata Abu jahal menafikan ancaman Nabi SAW itu. ‘Ingatlah kataku ini, bahwa engkau salah seorang dari yang akan terbunuh!’ sambil menunjukkan jarinya ke muka Abu jahal. (Kanzul Ummal 2:327)

Penderitaan Rasulullah saw  (3)

Ahmad memberitakan dari Urwah bin Az-Zubair dari Abdullah bin Amru ra. bahwa Urwah pernah bertanya kepada Abdullah: ‘Tolong beritahu aku apa yang pernah engkau lihat dari kaum Quraisy ketika mereka menunjukkan permusuhannya kepada Rasulullah SAW?’. Abdullah bercerita: Aku pernah hadir dalam salah satu peristiwa ketika para pemuka Quraisy bermusyawarah di tepi Hijir (Ka’bah), mereka berkata: Apa yang kita tanggung sekarang lebih dari yang dapat kita sabar lagi dari orang ini! Dia telah mencaci nenek-moyang kita, memburuk-burukkan agama kita, memporak-perandakan persatuan kita, dan mencerca tuhan-tuhan kita, siapa lagi yang dapat bersabar lebih dari kita … !’

Di tengah mereka berbincang-bincang itu, tiba-tiba muncullah Rasulullah SAW datang dan langsung menghadap sudut Ka’bah, lalu beliau bertawaf keliling Ka’bah, dan apabila beliau berlalu di tempat kaum Quraisy itu sedang duduk, mereka melontarkan beberapa perkataan kepadanya, namun beliau hanya berdiam diri belaka. Apabila beliau bertawaf kali kedua, mereka tetap menyampaikan kata-kata mengejek, namun beliau tidak berkata apa pun. Tetapi pada tawaf keliling ketiga, bila mereka mengejek-ngejek lagi, beliau lalu berhenti seraya berkata kepada mercka: ‘Hai pemuka Quraisy! Dengarlah baik-baik! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Tuhan, sebenarnya aku ini mendatangi kamu untuk menyembelih kamu!’ Mendengar itu, semua orang yang di situ merasa berat sekali, sehingga setiap seorang di antara mereka merasakan seolah-olah burung besar datang untuk menyambarnya, sampai ada orang yang tidak sekeras yang lain datang untuk menenangkan perasaan beliau supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang mengancam, karena mereka sangat bimbang dari kata-katanya. ‘Kembalilah sudah, wahai Abu Al-Qasim!’ bujuk mereka. ‘Janganlah engkau sampai berkata begitu! Sesungguhnya kami sangat bimbang dengan kata-katamu itu!’ Rasuluilah SAW pun kembalilah ke rumahnya.

Kemudian pada hari besoknya, mereka datang lagi ke Hijir (Ka’bah) itu dan berbicarakan permasalahan yang sama, seperti kemarin, dan aku duduk di antara mereka mendengar pembicaraan mereka itu. ‘Kamu semua cuma berani berkata saja, cuma berani mengumpat sesama sendiri saja, kemudian apabila Muhammad mengatakan sesuatu yang kamu tidak senang, kamu lalu merasa takut, akhirnya kamu membiarkannya!’ kata yang satu kepada yang lain. ‘Baiklah,’ jawab mereka.’ Kali ini kita sama-sama bertindak, bila dia datang nanti.’ Dan seperti biasa Rasulullah SAW pun datang untuk bertawaf pada Ka’bah, maka tiba-tiba mereka melompat serentak menerkamnya sambil mereka mengikutinya bertawaf mereka mengancamnya: ‘Engkau yang mencaci tuhan kami?’ kata yang seseorang. ‘Engkau yang memburuk-burukkan kepercayaan kami, bukan?’ kata yang lain. Yang lain lagi dengan ancaman yang lain pula. Maka setiap diajukan satu soalan kepada Rasulullah SAW itu, setiap itulah dia mengatakan: ‘Memang benar, aku mengatakan begitu!’ Lantaran sudah tidak tertanggung lagi dari mendengar jawaban Nabi SAW itu, maka seorang dari mereka lalu membelitkan kain ridaknya pada leher beliau, sambil menyentakkannya dengan kuat. Untung Abu Bakar ra. berada di situ, lalu dia segera datang melerai mereka dari menyiksa Nabi SAW sambil berkata: ‘Apakah kamu sekalian mau membunuh seorang yang mengatakan ‘Tuhanku ialah Allah! ‘diulanginya kata-kata itu kepada kaum Quraisy itu, dengan tangisan yang memilukan hati. Kemudian aku lihat kaum Quraisy itu meninggalkan tempat itu. Dan itulah suatu peristiwa sedih yang pernah aku lihat dari kaum Quraisy itu yang dilakukan terhadap Nabi SAW – demikian kata Abdullah bin Amru kepada Urwah bin Az-Zubair ra. (Majma’uz Zawa’id 6:16)

Berawal dari kerinduan terhadap Rasulullah saw

Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah SAW berkulit hitam namun berhati putih mempunyai banyak kenangan tersendiri pada lelaki mulia yang menjadi nabinya. Kenangan itu berkerak dan melekat dalam diri Bilal ra. sampai jauh setelah Rasulullah SAW wafat. Agar tak terkoyak moyak hatinya, Bilal ra. memutuskan untuk tak lagi adzan sepeninggal Rasulullah SAW. Sampai suatu ketika, rindu Bilal ra. tak tertahankan. Ia pun mengumandangkan adzan.

Kisah itu diawali dengan cerita Bilal ra. tentang mimpinya semalam. Lelaki asal Ethiopia itu, suatu malam bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Bilal bertemu dengan Rasulullah SAW. “Bilal, betapa rindu aku padamu,” kata Rasulullah SAW dalam mimpi Bilal.

Satu orang mendengar cerita Bilal ra. Tak berapa lama, orang pertama menceritakan mimpi Bilal ra. pada orang kedua. Orang keduapun bercerita pada orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Menjelang sore, nyaris seluruh penduduk kota Madinah, kota yang sudah lama ditinggalkannya, tahu tentang mimpinya itu. Maka bersepakat penduduk Madinah, meminta Bilal ra. untuk adzan di masjid Rasulullah saat waktu shalat maghrib tiba.

Tak kuasa Bilal menolak keinginan sahabat-sahabatnya. Senja merah, angin sepoi dan langit bersih dari mega. Bilal mengumandangkan adzan. Penduduk Madinah tercekam kerinduan. Rasa dalam dada membuncah, detik-detik bersama Rasulullah, manusia tercinta terbayang kembali di pelupuk mata. Akhirnya, penduduk Madinah pun menitikkan air mata rindunya. Dan Bilal ra, tentu saja ia diharu biru rindu pada kekasihnya, nabi akhir zaman itu.


Belajar dari Kecerdasan EMOSI NABI.


MENJAGA TEGUH AMANAH WALAU DIRI DIANCAM DAN TERANIYA.

Ketika MUhammad SAW menyuruh para Sahabatnya supaya berhijrah ke Yatsrib ( Madinah ) setelah penduduk negeri itu beriman dan di Bai’at, Para Kaum Kafir Quraiys berupaya dengan berbagai cara untuk mencegahnya. maka mereka kaum Kafir QUraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah ( Aula Pertemuan ) untuk membicarakan masalah hijrah yang telah dimulai oleh para sahabat Muhammad SAW.

Tokoh tokoh Quraisy yang hadir dalam pertemuan di Darun Nadwah diantaranya : Abu Sufyan Shakhr bin Harb, Abu Jahl Amru bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams, Umayah bin Khalaf al-Jumahi, Jubair bin Muth’im bin Adiy, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, An-Nadhr bin al-Harits, Hakim bin Hizam, Zam’ah bin al-Aswad, Nabih dan Munabbih ( dua putra al-Hajjaj ), dan para pemimpin Quraisy lainnya, juga dihadiri oleh utusan utusan dari kabilah kabilah lainnya.

Ketika musyawarah berlangsung dalam suasana yang panas karena mempertahankan pendapat2nya, lalu terdengar suara setan dalam bentuk seorang Syaikh dari Najd dan Baca selanjutnya…

Inilah fakta Bulan pernah terbelah sebagai mukjizat Rasulullah SAW


Bulan pernah terbelah di zaman Nabi Muhammad s.a.w. Tidak percaya? Lihat foto dibawah ini dan ikuti perdebatannya. Yang mengagumkan, ilmu pengetahuan modern sekarang membenarkannya berdasarkan temuan/foto-foto astronomi modern.

perhatikan garis besar dlm gambar bulan diatas,

BISMILLAHIRRAhMAANIRRAhIMM.

SUBHANALLAH…………..
MAHA BESAR ALLAH SWT ATAS SEMUA CIPTAANNYA

MISTERI TERBELAHNYA BULAN

Allah SWT berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)”

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :

Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir Baca selanjutnya…