Beranda > Kajian FIqh > RISALAH AHLUL SUNNAH WAL JAMA’AH

RISALAH AHLUL SUNNAH WAL JAMA’AH


Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah

Menurut abu al-Baqa’ dalam Kuliyat-nya, sunnah (dengan ta’ dibaca dlommah dan nun bertasydid) dalam pengertian bahasa adalah metode atau tata cara walaupun hal tersebut tidak mendapat legitimasi (agama). 

Sementara menurut syara’, sunnah merupakan metode yang mendapatkan legitimasi/restu (agama), dan hal ini telah ditetapkan keabsahannya oleh Rasulullah saw serta orang-orang yang faham betul tentang agama seperti halnya para sahabat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: tetap teguhlah kalian dalam memegang sunahku, dan sunnah Khulafa’ al-Rasyidin setelahku. 

Sedangkan secara umum sunnah adalah hal-hal yang dilakukan dengan penyandaran pada Nabi atau para wali. Lafadz ”al-Sunaa” merupakan turunan dari kata ”Sunnah” yang dibuang huruf ta’-nya dengan alasan penisbatan.

Sedangkan lafadz Bid`ah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Zaruq dalam kitab Uddatul Murid: ”menurut terminologi Islam, bid’ah adalah pembaruan-pembaruan perkara agama seakan-akan (pembaruan tersebut) adalah bagian dari agama, padahal sebenarnya bukan, baik dari sisi bentuk maupun Haqiqah-nya”. 

Rasulullah SAW bersabda: ”Siapapun yang membuat pembaharuan dalam masalah kami (agama) dengan sesuatu yang berasal dari luar (agama) maka (pembaruan tersebut) ditolak.” Juga Sabda Rasulullah saw., ”Setiap pembaharuan adalah bid’ah”.

Para ulama telah menjelaskan bahwa maksud kedua hadits di atas semestinya dikembalikan pada perubahan hukum, bukan dengan pendekatan apa adanya (letterlijk) yang hanya di dasarkan pada kemutlakan (bunyi) hadits. Karena Syariat menerima bentuk-bentuk pokok (ushul), maka semestinya hadits ini dikembalikan lagi pada perubahan hukum syariat atau cabang-cabangnya. dengan demikian hadits ini semestinya dianalogikan pada perkembangan penerapan syariat.
maksudnya perubahan hukum pada kalimat : 

Para ulama telah menjelaskan bahwa maksud kedua hadits di atas semestinya dikembalikan pada perubahan hukum, adalah bahwa hal ini harus di dasarkan pada kaidah ushul fikih, : alhukmu yadiiru ma’al illah wujuudan wa’adaaman (ada atau tidaknya suatu hukum, harus di dasarkan pada ada atau tidaknya penyebab terjadinya suatu perkara yang mesti dihukumicontoh : mau tayamum, trus ternyata , loh kan ada air banyak? kok tayamum? oh kalo gitu ya nggak boleh, eh tenyata ; tetep mau tayammum, kenapa? karena ternyata ia menderita sakit yang akan bertambah parah dan mengancam keselamatan jIwanya jika terkena air, maka tayamum menjadi boleh meskipun ada banyak air. begitu : karena awal mula munculnya hukum tayammum adalah karena tidak ada air. begitu, yakni cerita sahabat yang berjunub kemudian tidak mnemukan air untuk mendi jinabat. Namun ada perhubungan yang lebih tepat, yakni kaidah ushul fikh yang berbunyi : taghoyyurul ahkam bitaghoyyuril azminah wal amkinah تغير الأحكام بتغير الأزمنة والأمكنة (perubahan hukum didasarkan ‘(karena adanya)’ pada perubahan zaman dan tempat.

contoh : hukum jihad perang militer : apakah fardhu ain ataukah fardhu kifayah, ini didasarkan pada perubahan situasi (status keadaan) dan jarak penduduk dengan medan perang.

contoh yang paling mengerucut misalnya : yang namanya perayaan perpisahan anak-anak sekolah (haflah akhir sanah), mesti dilakukan oleh anak-anak yang sudah lulus ujian. ini tepat.

ada anak-anak kelas dua SMU misalnya, baru semester pertama kok mengadakan acara perpisahan akhir tahun? nah ini namanya mengada-ada (bid’ah)

termasuk sistem pemerintahan (kepemimpinan) misalnya : Nabi tidak pernah mendirikan kekhalifahan (cukup ia mnejadi sentral) . lalu para sahabat mendirikan kekhalifahan, kemudian setelah itu adalah para muluk (pemerintahan raja-raja). nah ketika perang dunia dua usai, mulailah era nation state 9negara bangsa) jadi bagi bangsa indonesia misalnya, sudah tidak relevan lagi saat ini untuk membicarakan kekuasaan raja-raja (dulu keraton sangat berkuasa). nah sekarang mereka tinggal menjadi sejarah saja selain kebudayaan.

ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang memang belum ada pada zaman Nabi, namun sekarang dapat kita adakan karena telah terjadi perubahan zaman. yang terpenting adalah tidak melanggar prinsip pokok, yakni tidak dalam rangka memperluas peluang kemaksiatan meraja lela.
contoh lain : dahulu seluruh harta kekayaan umat ditanggungkan kepada bauitul mal yang dikelola oleh pemerintah (kas negara). ini berlaku hingga zaman kekhalifahan dinasti-dinasti abbasiyah.

namun sekarang kita mendapati banyak badan-badan swasta memiliki baitul mal sendiri-sendiri.

misalnya, tayammum, apakah boleh dilakukan? nah di sini kita mesti memperhatikan faktor-faktor lain sebelum mengeluarkan hukum,

di beberapa negara Islam, bahkan ormas (organisasi keagamaan adalah perkara yang dianggap sebagai penghianatan terhadap negara, misalnya di LIbya.Hukum-hukum fikih, misalnya adalah contoh yang sangat tidak dipisahkan dari adanya perubahan-perubahan. jadi kebid’ahan tidaklah semata-mata dapat diukur dari ada atau tidakadanya sebuah kegiatan pada zaman Nabi dan sahabat saja.

karena kalau segala hal yang tidak ada pada zaman Nabi namun sekarang kita jalani (dalam hal ibadah) kemudian selalu dianggap sebagai kebid’ahan, maka memekai peci dan sarung ketika ke masjid adalah bid’ah.

 

Syeikh Zaruq berkata, “ukuran standard (sudut pandang/prespektif) bid’ah ada tiga. pertama dilihat dari sisi perbuatan tersebut, jika ditemukan adanya kerangka syariat (dalil) yang menopangnya, maka ia bukanlah termasuk bid’ah. Namun jika terdapat kerangka syariat (dalil) yang menolaknya dari seluruh sisi, maka ia adalah (bid’ah yang) bathil dan sesat.

sedangkan jika terdapat kerangka syariat (dalil) yang saling berjalin kelindan dengan kesyubhatan dalam kadar yang seimbang, maka hendaklah ditimbang-timbang kadarnya. Kadar manakah (di antara dalil-dalil kesunnahan dan kesyubhatan tersebut)yang lebih unggul, maka hasil pertimbangan inilah yang digunakan. 

ukuran standar (sudut pandang/prespektif) kedua adalah, pertimbangan pada kaidah para imam dan orang-orang terdahulu yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW (salafus shalih). Segala pembaharuan peribadahan yang bertentangan dengan setiap aspek peribadahan mereka semestinya diabaikansaja (artinya bid’ah). Sedangkan segala pembaharuan yang memiliki kesesuaian dengan dasar-dasar perilaku mereka, maka ia adalah perbuatan hak(shalih). Sementara apabila terjadi perselisihan, baik dalam perincian maupun keseluruhannya, maka segalanya dirunutkan pada keaslian hukum dan dalil-dalil tentangnya terdapat patokan (kaidah) bahwa segala yang dilakukan oleh para ulama salaf dan diikuti pula oleh para ulama kholaf, maka ia bukanlah perkara bid’ah dan tidak tercela. sedangkan segala yang benar-benar ditinggalkan oleh mereka maka ia bukanlah kesunnahan dan tidak terpuji

Segala perbuatan yang diputuskan memiliki dasar namun tidak ditemukan dalam perilaku para ulama salaf, maka menurut Imam Malik: ia termasuk Bid’ah, karena mereka tidak mungkin mneinggalkannya kecuali memiliki alasan.

Namun menurut Imam Dyafi’i, hal demikian bukanlah bid’ah meskipun mereka (para salafus shalih) tidak melakukannya. Karena bisa jadi mereka memiliki alasan untuk meninggalkannya, baik karena adanya udzur (syar’i) pada waktu tersebut, ataupun karena adanya sesuatu yang lebih utama darinya. Hukum tetap diambil berdasarkan ketentuan Allah, demikianlah seterusnya

Kemudian, setiap orang yang berpendapat lain tidak dapat dinyatakan sebagai melakukan kebid’ahan karena keputusan hukumnya berseberangan dengan suatu pendapat tertentu. Dimana hasil ijtihadnya tidak dapat menghegemoni (mengintervensi) pendapat yang berseberangan. Para pemilik pendapat juga tidak dapat membatalkan pendapat-pendapat lain yang berseberangan dengan alasan kesyubhatan (remang-remang/samar-samar). Karena jika ini terjadi, maka seluruh ummat akan saling membid’ahkan.

ijtihadiyah adalah berkedudukan sama. Menurut kita (KH. Hasyim Asy’ari), baik apakah hasil ijtihad tersebut adalah tunggal (sama) atau berbeda-beda

(Terdapat periwayatan sebuah hadits tentang) sabda Rasulullah SAW. (Suatu ketika/dalam sebuah perjalanan) Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sampai ada, salah seorang pun mendirikan sholat, kecuali setelah sampai di (tempat) Bani Quraidhah. Maka rombongan yang mendapati pesan Rasulullah SAW ini pun telah mendapati (menangi/Jw) waktu Ashar ketika masih di dalam perjalanan.Namun rupanya mereka berbeda pendapat tentang (berbeda menangkap maksud dari) pesan Rasulullah SAW sebelum keberangkatan mereka tadi. Beberapa di antara mereka menyatakan, “Kita diperintahkan untuk bersegera (menunaikan sholat),” maka mereka pun segera mendirikan sholat di perjalanan tersebut.

sementara sekelompok yang lain menyatakan, “Kita diperintahkan untuk melaksanakan sholat di sana (tempat tujuan),” hingga mereka pun mengakhirkan sholat (baru mendirikan sholat setibanya di tempat Bani Quraidhah.

Namun ternyata Rasulullah SAW tidak memarahi (menyalahkan) satu pun kelompok di antara mereka.

hal ini menunjukkan keabsahan perbuatan yang dilaksanakan berdasarkan pemahamannya atas suatu perintah syariat, jika tidak didorong oleh nafsu (menginginkan keuntungan-keuntungan duniawi tertentu) 

Ukuran standard (udut pandang/perspektif) ketiga adalah, pemilihan dalil hukum. Ini terperinci berdasarkan hukum syariah; yakni wajib, sunnah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Maka setiap amalan yang condong kepada argumen yang jelas, tidak bertele-tele, ia dianggap benar. jika tidak demikian, maka ia adalah bid’ah. Berdasarkan ukuran standar ini, banyak hukum yang ditentukan oleh para ulama berdasarkan perkiraan (kaidah) bahasa untuk memudahkan. (Wallahu a’lamu)

Kemudian Syeikh Zaruq berkata, BId’ah dibagi menjadi tiga. Pertama, bid’ah yang jelas, yakni sesuatu yang ditetapkan tanpa memiliki landasan asal syariah, baik dari yang wajib sunnah ataupun yang lainya, maka tertolaklah kesunnahannya atau batallah keabsahannya. Ini adalah bid’ah terjelek, meskipun ia memiliki seribu sandaran berdasarkan (kaidah asal maupun cabang), maka ia tetap tidak diakui keabsahannya.

Kedua adalah BId’ah Idhofiyah (bid’ah yang disandarkan). Yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu hal. jika ia dapat selamat karena penyandaran ini, maka tidak dianggapsah memperdebatkannya. Apakah ia sunnah atau bid’ah atau berdasarkan perselisihan dari yang telah ada pada mulanya (sandaran awalnya) asumsi hukum yang saling tarik menarik. Salah satu pihak akan mengatakannya sebagai bid’ah, sementara yang lain akan menganggapnya sebagai sunnah, sebagaimana pwenjelasan diatas mengenai pengorganisasian jamaah (persekutuan doa) dan dzikir bersama-sama.

Ringkasan :
bid’ah pertama: pokoknya asal baru. SESEORANG bener-bener ngarang-ngarang sebuah ibadah. ia berimajinasi bebas untuk menciptakan ibadah.

bid’ah kedua : sifatnya cangkokan atau ikutan atau boncengannya. bila yang diikuti baik ia menjadi baik, bila yang diboncengi buruk ia menjadi buruk juga

bid’ah yg ketiga : adalah bid’ah perdebatan sudut pandang perbedaan argumen (dalil) saja

 

Pengecualian dari hal ini adalah segala perbuatan yang tidak dapat dipisahkan dari dalil-dalil syariat. seperti masalah-masalah ijtihadiyah (penentuan hukum berdasarkan ijtihad). di mana antara sebuah ketentuan dan dalil-dalilnya, hanya dihubungkan oleh persangkaan para mujtahid saja. Tulisan al-Qur’an, kemerdekaan bermadzhab, kitab-kitab gramatika dan matematika (eksakta) juga merupakan pengecualian.

Karena ini pula, ibnu Abdi Salam membagi pembaharuan menjadi lima masalah : pertama, bid’ah yang tidak ada pada zaman Rasulullah, ini justru wajib, seperti mempelajari gramatika dan buku-buku asing; Kedua, sunnah, yakni pembaharuan-pembaharuan yang mendukung pemahaman mengenai syariah; ketiga haram, yakni pembaharuan sebagaimana pemikiran Qodariyah, jabariyah dan Mujassimah

Keempat, dianjurkan (mandub) seperti membangun pesantren dan sekolah-sekolah dan segala jenis peradaban yang belum ada di masa awal-awal (Islam). Keempat makruh seperti menghias masjid dan menghias al-Qur’an. Kelima , sahsah saja seperti bersalam-salaman setiap selesai sholat subuh dan ashar, menikmati kemudahan atau perluasan selera (akses) terhadap makanan dan minuman, pakaian dll.
Washil bin Atho’ (pendiri Mu’tazilah) memanag diusir dari majlis gurunya imam Hasan Basri.

Muhammad bin Abdul Wahab adalah kasus berbeda, ia telah hidup di zaman modern dengan fasilitas koleksi kitab yang memadai, bila pun berbeda, itu perkara lain.
yang jelas pada beberapa referensi tentang ibnu taimiyah, masih terdapat kesepakatan-kesepakatan karena ibnu taymiyah adalah salah seorang ulama mujaddin dalam madzhab hambali.

sementara dakwah ahlussunnah waljamaah (al-Asy’ari) lebih menitik beratkan pada kemampuan masyarakat awam, jadi demi sebuah keharmonisan ummat maka al-Asy’ari selalu memilih jalan tengah-tengah (kalliminnaasa biqodri uquulihim)

 

dituduhkan sebagai kebid’ahan seperti penggunaan tasbih, melafadzkan niyat, tahlilan katika mempersaksikan (berdoa/mendoakan setelah menyolatkan) orang yang meninggal; padahal tiada suatu apa pun yang menghalangi (kegiatan-kegiatan ini), termasuk ziarah kubur dll, bahwa ternyata semuanya bukanlah bid’ah.

(mencuri/merampas/menipu/mengeruk/memanipulasi) harta rakyat melalui bujukan/gendam/hipnotis/rayuan konsumerisme (wisata belanja atau keramaian dadakan semisal pasar malam dan pesta-pesta pertunjukan serta perjudian semacam bola ketangkasan (pertaruhan kontes-kontes idola) dll. adalah kebid’ahan yang terburuk

Pada zaman dahulu, penduduk pribumi Muslim semenanjung Nusantara (Melayu), bersepakat pada (satu) pemikiran madzhab dan satu jaringan ontologi. Secara keseluruhan, mereka mengikuti madzhab pemikiran Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i dalam bidang fikih, pada Imam Abu hasan al-Asy’ari dalam bertauhid, serta pada Imam al-Ghazali dan Abu Hasan al-Syadzili dalam bidang tasawuf.

Hingga pada tahun + 1330 H. mulai muncullah bermacam-macam partai (ormas/sekte) dengan pemikiran pendapat yang berbeda-beda. para tokoh pun saling berebut pengaruh.

di antara mereka adalah para ulama (kaum tuo/mng) yang tetap teguh pada ajaran leluhur mereka dengan pengacuan hukum pada madzhab tertentu. berpegang teguh pada kitab-kitab mu’tabaroh, dan populer di antara mereka. mencintai keluarga Rasulullah SAW, para wali dan orang-orang shaleh. Mengambil keberkahan, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal. Berziarah kubur, menalqin mayyit, bersedekah untuk orang-orang yang telah meninggal, meyakini adanya syafaat Rasulullah, kemanfaatan doa, bertawassul dll.

terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan rasyid Ridha. Melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab al-najdy, Ahmad bin Taimiyah serta murid-murid Ibnul Qoyyim al-jauzy dan Abdul hadi.

Mereka mengaharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunnahan, seperti bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah SAW serta berselisih dalam kesepakatan-kesepakatan lainnya. 

Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ Fataawa-nya, “……………… dengan demikian, karena berkeyakinan (yakni mengunjungi makam rasulullah sebagai sebuah bentuk ketaatan), mereka telah jatuh pada keharaman yang telah disepakati oleh umat Muslim. Karenanya, keharaman adalah sesuatu yag mestinya ditinggalkan……………..”

Al-Allamah Syeikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya, Tathirul Fuad min danasil I’tiqood (Pembersihan hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa, “kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun kholaf. Mereka adalah duri “dalam daging/musuh dalam selimut” yang hanya merusak keutuhan Islam.

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang Lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun kholaf.

Mereka menyatakan, “para ulama bukanlah orang-orang yang terbebas dari dosa, maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” Mereka menyebarkan (pandangan/asumsi) ini pada orang-orang bodoh agar tidak dapat mendeteksi kebodohan mereka.

Maksud dari propaganda ini adalah munculnya permusuhan dan kericuhan. Dengan penguasaan atas jaringan teknologi mereka merusak tatanan masyarakat. Mereke menyebarkan kebohongan mengenai Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Menganggap dirinya melaksanakan amar makruf nahi munkar, mereccoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid’ahan. Padahal Allah maha mengetahui, bahwa mereka berbohong

KH Hasyim Asy’ari menyatakan, Sebenarnya mereka merupakan para ahli bid’ah dan pengumbar nafsu.

Qadhi Iyadh menyatakan dalam kitan al-Syifa bahwa, mereka merupakan orang-orang yang paling merusak agama. Terkadang memasukkan kepentingan dunia pada perselisihan-perselisihan keagamaan yang semestinya diselesaikan dengan kaidah agama.

Al-Allamah Mullah Ali al-Qori’ menyatakan dalam penjelasan-penjelasannya bahwa Allah telah mengharamkan homr narkoba/psikotropika dan perjudian dengan alasan ini (mendatangkan/memicu permusuhan dan kebencian). Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya syetan mengharapkan terjadinya permusuhan di antara kalian dan saling membenci dengan adanya psikotropika dan perjudian. 

Di antara mereka (pribumi Nusantara pasca 1330 H.) muncul pula kelompok rafidhiyyah. Mereka mencela Sayyidina Abu Bakar dan umar Ra. Membenci para sahabat dan berlebihan dalam emncintai sayyidina Ali dan keluarganya Ra. 

Sayyid Muhammad berkata dalam Syarah al-Qomus al-Mukhid bahwa, sebagian dari mereka telah mendekati kekufuran dan kezindikan. (kita mohon perlindungan kepada Allah dari kekufuran mereka)

Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kalian mencaci para sahabatku, karena siapapun yang mencaci mereka, maka Allah, pra malaikat dan seluruh manusia (yang beriman) melaknatinya. allah tidak menerima peribadahan dan pengaduan mereka. 

Mukmin Tanpa Dua Syahadat?
Rukun Iman Asy’ariyah tidak memuat dua kalimat syahadat. Ini benar-benar membingungkan. Padahal, kadar minimal dari iman yang mesti dipenuhi adalah iman kepada Allah Yang Esa, Kerasulan dan Kebangkitan. Inilah yang menuntut penerapannya secara lahir melalui shalat, puasa dan lainnya.

Sedangkan batas terbawah dari kekufuran adalah pengingkaran secara terang-terangan terhadap suatu perkara setelah menyadari kebenarannya, dan bertekad untuk menentangnya. Syirik (mengingkari tauhid) salah satu pemuncak kekufuran.Rukun Islam dalam teologi Asy’ariyah dimulai dengan Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhamamad adalah utusan Allah. Konsekuensinya yang pertama, bila rukun iman mendahului rukun Islam, maka seseorang bisa dianggap mukmin sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat. Konsekuensi kedua, bila dua kesaksian tersebut berdiri sejajar dengan shalat, ouasa dan ibadah lainnya, maka penyebutan dua kata tersebut hanyalah bersifat fikihiah, normatif, ta’abbudi, bukan aqidah dan produk ienteleksi. Konsekuensi ini muncul sebagai akibat dari diturunkannya penyaksian ini pada rukun Islam.
Konsekuensi ketiga, kesaksian akan Allah dan kerasulan hanyalah sebuah ibadah yang masuk dalam regulasi fikih dengan hukum wajib, sebagaimana shalat dan puasa.

Konsekuensi-konsekuensi demikian sungguh membingungkan. Betapa tidak, dua kalimat syahadat itu adalah intisari dari totalitas dan iman dan islam.
konsekwensi pertama talah jelas : terdapat istilah (mukminun batinan wa kaafirun dhoohiron) syahadat sebagai sebuah pernyataan dengan lisan adalah regulasi fikih (dalam bahasa anda normatif). ia membedakan apakah seseorang muslim atau kafir, karena ini pekerjaan lisan (pernyataan). bukan apakah seseorang mukmin atau kafir (ini jika shahadat dimaknai sebagai pekerjaan hati/keimanan/kepercayaan). yah shahadat sebagai sebuah pernyataan jelas masuk dalam regulasi fikih. buktinya ketika terjadi peperangan, mereka yang mau mengucapkan syahadat akan mendapatkan pengampunan dan terikat kewajiban-kewajiban serta mendapat hak-hak tertentu.

dalam konteks masyarakat sekarang, hal ini paling mudah disaksikan dalam upacara pernikahan. para penghulu selalu meminta pembuktian keislaman melalui pengucapan syahadat sebelum menikahkan.

Wallohu ‘alam bishshowab.

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: