Arsip

Archive for November, 2010

Al Imam Ali Zaenal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abu Thalib


Beliau adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli sujud).

Beliau adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.

Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in. Beliau juga seorang imam agung. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin, mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu, zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam setiap sesuatu.

Berkata Yahya Al-Anshari, “Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Berkata Zuhri, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”

Kelahiran beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum kelahirannya, Nabi SAW sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya. Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab, “Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?.” Beliau tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat, “Labbaikallah…,” beliau pingsan.

Suatu saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya, baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut, akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, “Tunggulah sebentar orang laki-laki ini.” Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi. Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?.” Orang laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata laki-laki itu, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu Rasulullah.”

Beliau berkata, “Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk menginginkan balasannya.” Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam Ali bin Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua).


Beliau setiap malamnya memangkul sendiri sekarung makanan diatas punggungnya dan menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata, “Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka Tuhan.” Muhammad bin Ishaq berkata, “Sebagian dari orang-orang Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka. Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka tak lagi mendapatkan penghidupan itu.”

Beliau jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya. Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya disini.

Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.

Sumber : Kitab Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]

Iklan

Kalam Sayyidina Ali Karromallahu WajHah


1. Barangsiapa yang mengetahui hakikat dirinya maka telah mengenal Tuhannya ( Rabnya )

2. Sesungguhnya Allah SWT mengutus Muhammad saww dengan membawa kebenaran guna mengeluarkan hamba-Nya dari penyembahan sesamanya kepada penyembahan Alllah SWT ,dari perjanjian dengan hamba-Nya menuju kesetiaan pada-Nya dan dari ketatan terhadap sesamanya menuju ketaatan kepada Tuhannya serta dari kepemimpinan sesamanya kepada kepemimpinan Allah SWT.

3. Tidaklah seseorang bersimpuh dihadapan Al-Quran, melainkan ia mendapatkan tambahan dan pengurangan, Tambahan kedalam petunjuk dan pengurangan dari kebutaan ( kegelapan ). Ketahuilah tiada seseorang yang akan merasakan kekurangan jika bersama AL-Quran dan tidak akan ada yang merasa berkecukupan dari selain Al-Quran.

4. Orang yang rela atas ( ketika melihat ) perbuatan suatu kaum, seperti orang yang ikut serta bersama mereka. Dan atas setiap orang yang ikut serta dalam kebathilan akan mendapatkan dua dosa, dosa karena perbuatannya dan dosa karena kerelaannya atas perbuatan tersebut.

5. Imam Ali as. Ditanya tentang keimanan, Lalu beliau menjawab : Iman itu berdiri diatas empat pondasi : kesabaran,keyakinan,keadilan, dan jihad. Sedangkan kesabaran mempunyai empat sendi : kerinduan, kehawatiran, kezuhudan dan kesiapan ( waspada ). Barang siapa yang rindu akan syurga, dia akan berpaling dari tuntutan hawa nafsunya. Barang siapa yang takut akan api neraka, maka dia akan menjauhi hal-hal yang terlarang. Barang siapa yang zuhud ( tidak rakus ) terhadap dunia, akan menganggap ringan segala musibah. Dan barang siapa yang bersiap-siap menghadapi kematian, dia akan bersegera mengerjakan kebaikan. Jihad juga mempunyai empat asas : Memerintah kepada kebaikan dan menegah hal yang munkar, jujur ( tetap tangguh ) disetiap tempat ( medan laga ) dan benci kepada orang fasik.. Barang siapa yang menyuruh kepada kebaikan, maka dia telah memperkokoh kekuatan kaum muslimin, dan barang siapa yang mencegah kemunkaran maka telah membuat terhinanya kaum kafirin, Dan barang siapa yang jujur ( tangguh ) disetiap keadaan, maka ia telah melaksanakan kewajibannya. Dan barang siapa yang benci kepada kaum fasik dan marah karena Allah, maka Allah juga akan marah untuknya ( karena membelanya ) dan akan merelakannya itu di hari kiamat.

6. Sesungguhnya jihad itu adalah salah satu pintu menuju surga yang Allah khususkan bagi para wali-Nya. Dan Jihad adalah pakaian ketakwaan serta baju besi yang kokoh dan merupakan benteng pertahanan yang kuat.. Barang siapa yang meninggalkan jihad karena benci kepadanya, maka pastilah Allah pakaikan kepadanya baju kehinaan.

7. Sesungguhnya awal terjadinya fitnah adalah hawa nafsu yang dituruti dan hukum ( yang diada-adakan ) yang bertentangan dengan kitab Allah.Sedang pelaksana hukumnya adalah seorang yang tidak berlandaskan kepada aturannya Allah SWT. Seandainya kebathilan itu tidak bercampur dengan kebenaran, maka tidak akan samar lagi bagi orang yang mendatanginya. Dan seandainya kebenaran itu murni dari samarnya kebathilan, maka bungkamlah mulut-mulut penantangannya. Namun diambil sebagian dari kebenaran dan sebagian dari kebathilan , kemudian dicampur aduk antara keduanya dan disitulah syetan mulai memperdaya para pengikutnya. Dan hanya orang-orang yang mendapatkan petunjuk kearah kebaikan dari Allah SWT yang akan selamat dari tipu dayanya.

8. Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari pribadi-pribadi, tetapi akan dapat dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa penganutnya.

9. Jangalah sekali-kali engkau menjadi budak orang lain, sebab Allah telah menciptakanmu dalam keadaan merdeka.

10. Sesungguhnya memerintah kepada kebaikan serta mencegah kemunkaran tidak akan mendekatkan seseorang kepada ajalnya, dan tidak akan mengurangi rizkinya, Namun akan melipatgandakan pahala serta membesarkan kebaikannya. Dan yang lebih afdhal dari keduanya yaitu kalimat keadilan yang diserukan di hadapan seorang pemimpin yang zalim.

11. Barang siapa yang keadaannya tidak bias diperbaiki dengan pergaulan yang baik, maka ia akan diperbaiki dengan cara timbal balik ( memberi sesuatu ) yang baik.

12. Penghancur punggungku di dunia ini ada dua orang yaitu orang yang pandai berbicara namun dirinya seorang yang fasik. Dan seorang yang bodoh, namun selalu tekun beribadah. Yang satu akan membela kefasikannya dengan lidahnya sedang yang lain akan membela kebodohannya dengan ibadahnya. Hati-hatilah dari para cerdik pandai ( ulama ) yang fasik dan para ahli ibadah yang bodoh. Karena mereka adalah sebesar-besar fitnah bagi setipa orang yang mudah terpedaya. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saww bersabda : “ Wahai Ali ! Hancurnya umatku adalah ditangan orang-orang munafik yang pandai berbicara.

13. Janganlah engkau menganggap sama antara pelaku kebaikan dan pelaku kejahatan. Ketahuilah sikap yang demikian ini akan menumbuhkan semangat bagi pelaku kebaikan untuk berbuat kebaikan dan akan menjadi pelajaran bagi yang melakukan kejahatan atas kejahatannya.

14. Tidaklah manusia meninggalkan perkara agamanya demi kepentingan dunianya, kecuali Allah akan membukakan baginya hal-hal yang lebih buruk.

15. Dunia ini tidak lebih hanya batas terakhir penglihatan orang buta, dia tidak akan melihat sesuatu dibaliknya. Sedangkan orang yang bashir dapat melihat serta mengetahui sesuatu yang ada dibalik dunia ini. Dia ( bashir ) akan memalingkan pandangannya dari dunia, sedangkan si buta akan membidikan pandangannya ke arah dunia. Orang yang bashir akan berbekal dari dunia, sedangkan yang buta akan berbekal untuk dunia.

16. Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur dengan selainmu. Berbuatlah sesuatu yang menggembirakan orang lain sebagaimana yang engkau harapkan untukmu. Janganlah berbuat sesuatu yang engkau tidak inginkan orang lain berbuat hal itu kepadamu. Janganlah berlaku aniaya sebagaimana engkau tidak suka dianiaya. Berbuatlah baik kepada selainmu, sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat baik kepadamu. Cegahlah dirimu dari perbuatan munkar, sebagaimana engkau tidak ingin orang lain berbuat itu kepadamu. Perbuatlah sesuatu yang merelakan manusia agar ia juga berbuat sesuatu yang merelakan dirimu. Janganlah engkau berbicara tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui, bahkan janganlah engkau utarakan segala sesuatu yang engkau ketahui dan jangalah engkau berbicara sesuatu pembicaraan yang tidak engkau inginkan orang lain berkata itu kepadamu

17. Temanmu ada tiga dan musuhmu juga ada tiga, temanmu yaitu: temanmu, dan teman dari temanmu, serta musuh dari musuhmu. Sedangkan musuhmu yaitu : musuhmu sendiri, serta musuh dari temanmu, dan teman dari musuhmu.

18. Yang banyak bicara akan banyak salahnya. Yang banyak kesalahannya akan sedikit malunya. Yang tidak merasa malu hilang wara’nya. Dan yang hilang wara’nya akan mati hatinya serta nerakalah tempat kembalinya.

19. Janganlah kalian menilai siapa pembicaranya, tetapi nilailah sesuatu yang dibicarakannya.

20. Kebaikan ada pada tiga perkara : penglihatan, diam dan pembicaraan. Setiap penglihatan yang tidak ditunjukan untuk mengambil ibrah ( pelajaran ) adalah kesia-siaan. Diam yang tidak disertai pemikiran adalah kelalaian. Sedangkan pembicaraan yang bukan zikir itu juga merupakan kesia-siaan. Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditunjukkan untuk mengambil ibrah, diamnya karena berpikir dan pembicaraannya berisikan zikir sembari menangisi dan menyesali kesalahannya serta enggan mengganggu orang lain.

21. Seorang anak mempunyai hak dihadapan orang tuanya, demikian pula sebaliknya. Hak orang tua agar ditaati dalam segala hal kecuali dalam maksiat kepada Allah SWT.Sedangkan hak anak dihadapan orang tuanya, agar memberinya nama yang baik dan mendidik ( mengajarkan ) akhlak yang baik serta mengajarkan Al-Quran kepadanya.

22. Dunia adalah tempat kebenaran bagi yang membenarkannya, tempat keselamatan bagi yang memahaminya, tempat kekayaan bagi yang berbekal darinya. Juga tempat ibadahnya para Nabi Allah dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah. Maka carilah rahmat didalamnya dan keuntungan ( surga) sebagai balasannya. Lalu siapakah yang akan mencelanya ? . Dia telah mengumumkan kedekatan ajalnya dan datangnya masa perpisahan. Dia telah merelakan dirinya untuk kalian. Serta menghantarkan kalian dari satu kebahagian kepada kebahagian yang lainnya. Juga memberi peringatan akan cobaan-cobaannya, agar kalian takut dan lebih berhati-hati dari bencana. Wahai para pencela dunia, kapankah dunia memperdayamu dengan segala tipu dayanya ?. Apakah karena banyaknya musibah yang menimpa para orang tuamu ? atau karena adanya kematian yang diderita oleh para ibumu di bawah tumpukan tanah kubur ?

23. Wahai manusia ! Dua perkara yang sangat aku takutkan menimpa kalian. Hawa nafsu yang dituruti serta panjangnya angan-angan. Orang yang menuruti kemauan hawa nafsunya akan menghalanginya dari kebenaran. Panjangnya angan-angan bisa melalaikan kalian akan kehidupan akhirat.

24. Barang siapa yang memperbaiki bathinya, Allah akan memperbaiki lahirnya . Dan barang siapa yang berbuat demi kemaslahatan agamanya, Allah akan mempermudah baginya urusan dunianya.Dan barang siapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Allah akan memudahkan urusannya dengan orang lain.

25. Jangan kalian terlalu menyibukkan diri dengan urusan keluarga serta anak-anak kalian. Andai anak dan keluarga kalian termasuk orang-orang yang dicintai Allah, maka tentu Allah tidak akan membiarkan dan menelantarkan kekasih-kekasih-Nya. Namun apabila mereka termasuk musuh-musuh Allah SWT, mengapakah kalian harus menyibukkan diri dengan mengurus para musuh-musuh Allah ?

26. Nilai setiap orang ( pribadi ) adalah perbuatan baik yang dilakukannya.

27. Harga dirimu akan tetap terpelihara, sedang yang akan merusaknya adalah permintaan ( mengemis ) , oleh karena itu perhatikan kepada siapa akan kamu cucurkan air mukamu ini.

28. Mengapakah anak Adam harus berlaku sombong, padahal awalnya tercipta dari air sperma yang hina dan akan berakhir dengan menjadi bangkai.

29. Maukah kalian kuberi tahu tentang siapa yang benar-benar faqih ( pandai agama ) ? Yaitu orang yang tidak memberi kelonggaran kepada orang lain untuk berbuat maksiat, yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah. Tidak membuat mereka merasa aman dari ancaman Allah SWT. Juga tidak meninggalkan Al-Quran ( karena tidak suka dengannya ), lalu mencari selainnya. Dan tidak ada kebaikan dari suatu ibadah yang pelakunya belum mengerti aturan agama ( fiqih ). Dan ilmu yang baik adalah yang bisa membuat seseorang berfikir akan Tuhannya dan tidak ada baiknya bagi bacaan yang tidak disertai dengan renungan ( tadabur ).

30. Tidak akan melakukan perbuatan zina seseorang yang mempunyai harga diri.

31. Sesungguhnya orang yang bertakwa itu akan merasakan kenikmatan dunia dan nikmat di akhirat nanti.. Mereka juga menikmati dunia bersama pencinta dunia, sedang para pencinta dunia tidak akan bersama-sama mereka untuk merasakan kenikmatan akhirat.

32. Seorang hamba tidak akan merasakan nikmatnya keimanan, sehingga meninggalkan kebohongan baik hanya sekedar senda gurau maupun sungguh-sungguh.

33. Jika engkau menjadikan agamamu mengikuti kemauan duniamu, maka engkau telah menghancurkan agama dan duniamu dan termasuk di antara orang-orang yang merugi di akhirat.Dan jika engkau menjadikan duniamu mengikuti ( tunduk ) kepada aturan agamamu , berarti engkau telah menjaga dunia dan agamamu dan engkau akan tergolong sebagai orang yang beruntung di akhirat.

34. Dunia ini laksana ular yang berbisa, yang licin dan lembut sentuhannya, namun bisanya ( racunnya ) dapat mematikan. Orang yang yang bodoh akan terpesona dengannya sedangkan orang yang berakal akan berhati-hati darinya.

35. Wahai Kumail bin Ziyad ! Sesungguhnya hati itu bagaikan bejana ( wadah). Bejana yang baik akan bisa menampung dan menjaga isinya. Maka perhatikanlah hal-hal yang aku ucapkan kepadamu. Manusia ini ada tiga macam :Orang yang alim dan teguh akan agamanya, Orang yang belajar dalam hal-hal yang dapat menguntungkan, Orang yang dungu dan tidak berharga adalah manusia yang selalu menuruti kejahatannya, dia tidak mempunyai pendirian serta tidak mengambil cahaya ilmu dan tidak bersandar pada pilar yang kuat.

36. Aku berwasiat kepada kalian tentang lima perkara, yang seandainya kalian kerahkan onta-onta kalian untuk mendapatkan wasiat-wasiat itu niscaya usaha itu pantas sekali. Yaitu : Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan suatu kecuali kepada Tuhannya, dan jangan merasa takut atau menyesal, kecuali terhadap dosanya. Janganlah merasa malu untuk mengatakan tidak bisa, jika ditanya tentang hal-hal yang belum kalian ketahui. Dan jangan pula merasa malu untuk belajar hal-hal ya ng belum kalian ketahui. Kalian harus sabar, karena kesabaran terhadap keimanan laksana kepala bagi badannya, maka tidak akan ada kebaikan bagi badan yang tidak ada kepalanya. Demikian pula keimanan yang tidak disertai kesabaran.

37. Bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang jika kalian meninggal, maka mereka akan menangisimu, sedang jika kalian ada di tengah-tengah mereka, mereka akan selalu merindukanmu.

38. Orang yang berdoa tanpa disertai perbuatan ( amal ), bagaikan orang yang memanah tanpa busur.

39. Surga hanya bisa didapatkan dengan amal dan bukan dengan angan-angan.

40. Alangkah banyaknya ibrah ( pelajaran ) , namun sangat sedikit sekali yang bisa mengambil pelajaran darinya.

HUKUM MENCELA ULAMA


 

Bagaimanakah Hukumnya sebagian penuntut ilmu dari kalangan pemuda yang mempunyai kebiasaan mencela Ulama satu sama lain yang tidak sepaham dengannya, membuat manusia menjauh dan menghindar dari mereka? Apakah ini termasuk perbuatan syar’i yang diberi pahala atasnya atau (tidak syar’i) yang disiksa atasnya?

Menurut pendapat Syaikh Muhammad al-Utsaimin r.a, ini adalah perbuatan yang diharamkan. Apabila seorang muslim tidak boleh mengumpat (ghibah, menggunjing) saudaranya sesama muslim sekalipun ia bukan seorang yang alim, maka bagaimana mungkin dibolehkan baginya mengumpat saudaranya sesama ulama dari golongan orang-orang yang beriman? Orang yang beriman wajib menahan lisannya dari ghibah terhadap saudara-saudaranya sesama muslim. Firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hujurat:12)

Hendaklah orang yang melakukan hal ini mengetahui bahwa apabila ia mentajrih (mencela) seorang ulama maka ia menjadi penyebab ditolaknya kebenaran yang dikatakan oleh ulama ini. Maka tanggung jawab dan dosanya adalah terhadap orang yang mencela ini, karena mencela seorang ulama pada kenyataannya bukanlah mentajrih (mencela) pribadinya, bahkan mencela pewaris Nabi Muhammad e. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Apabila ia mentajrih ulama dan mencela mereka niscaya manusia tidak percaya dengan ilmu yang ada di sisi mereka dan ilmu tersebut diwarisi dari Rasulullah e. Dan pada saat itu mereka tidak percaya dengan syari’at yang dibawa oleh ulama yang ditajrih ini.

Saya tidak mengatakan bahwa setiap ulama adalah ma’shum, bahkan setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Dan apabila engkau melihat seorang ulama melakukan kesalahan menurut pendapatmu, maka hubungilah beliau dengan telepon dan sampaikanlah pendapatmu. Jika jelas bagimu bahwa kebenaran adalah bersamanya maka engkau harus mengikutinya. Dan jika tidak jelas bagimu akan tetapi engkau mendapatkan alasan yang membolehkan ucapannya maka engkau harus menahan diri. Dan jika engkau tidak mendapatkan alasan terhadap pendapatnya maka peringatkanlah dia terhadap pendapatnya karena ngotot di atas kesalahan hukumnya tidak boleh. Akan tetapi engkau tidak boleh mentajrihnya dan ia seorang alim yang dikenal umpamanya dengan niat yang baik.

Apabila kita ingin mentajrih para ulama yang dikenal dengan niat yang baik karena kesalahan yang mereka lakukan padanya dari masalah fikih, niscaya kita akan mentajrih para ulama besar, namun yang wajib adalah yang telah saya sebutkan. Apabila engkau melihat seorang ulama melakukan kesalahan maka diskusi dan berbicaralah bersamanya. Bisa jadi bahwa kebenaran adalah bersamanya maka engkau harus mengikutinya atau kebenaran ada bersamamu maka ia yang harus mengikutimu. Atau tidak jelas dan jadilah perbedaan yang terjadi di antara kamu berdua adalah khilaf yang dibolehkan. Saat itu, engkau wajib menahan diri, ia mengatakan apa yang dia katakan dan engkau mengatakan apa yang engkau katakan.

Alhamdulillah, khilaf tidak hanya terjadi di masa sekarang. Khilaf sudah terjadi sejak masa sahabat hingga hari ini. Dan apabila sudah jelas kesalahan akan tetapi ia tetap bertahan terhadap pendapatnya, engkau harus menjelaskan kesalahan dan berjauh darinya. Akan tetapi bukan atas dasar mentajrih dan ingin membalas dendam, karena orang tersebut bisa jadi mengatakan pendapat yang benar pada masalah lain selain yang engkau perdebatkan.

Yang penting sesungguhnya saya memperingatkan kepada saudara-saudaraku dari bala dan penyakit ini. Aku memohon kepada Allah untukku dan mereka kesembuhan dari segala hal yang menjelekkan kami atau membahayakan kami pada agama dan dunia kami.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin – Kitab Dakwah 5/2/61-64.

 

Kategori:Kajian FIqh Tag:, ,

Keteladanan Ahnaf bin Qais dan AMirul mukminin


 

Panglima perang yang memimpin penyerangan ke Persia, Utbah bin Ghazwan, menerima surat perintah Amirul Mukminin, Khilafah Umar bin Khatthab, meminta agar mengirim sepuluh orang prajurit utama dari pasukannya yang telah berjasa dalam perang. Perintah itupun segera dilaksanakan oleh Utbah. Beliau mengirim sepuluh orang prajuritnya yang terbaik kepada Amirul Mukminin di Madinah, termasuk Ahnaf bin Qais. Berangkatlah mereka ke Madinah menemui Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab.

Ketika mereka tiba di Madinah langsung disambut oleh Amirul Mukminin dan dipersilahkan duduk di majelisnya. Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab menanyakannya dan kebutuhan rakyat semuanya. Mereka berkata : “Tentang kebutuhan rakyat secara umum Amirul Mukminin lebih tahu, karena Amirul Mukminin adalah pemimpinnya. Maka kami hanya berbicara atas nama pribadi kami sendiri”, ucap diantara prajurit yang hadir di majelis itu.

Saat itu, Ahnaf bin Qais mendapatkan kesempatan terakhir berbicara, karena ia terhitung yang paling muda, diantara para prajurit yang ada. Kemudian, Qais berkata : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya tentara kaum muslimin yang dikirim ke Mesir, mereka tinggal di daerah yang subur menghijau dan tempat yagn mewah peninggalan Fir’aun”, ucap Ahnaf.

“Sedangkan pasukan yang dikirim ke negeri Syam, mereka tinggal di tempat yang nyaman, bnayak buah-buahan dan taman-taman layaknya istana. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Persia, mereka tinggal di sekitar sungai yang melimpah air tawarnya, juga taman-taman buah-buah peninggalan para kaisar”, ujar Ahnaf.

Namun kami dikirim ke Bashrah, mereka tinggal di tempat yang kering dan tandus, tidak subur tanahnya dan tidak pula menumbuhkan buah-buahan. Salah satu tepinya laut yang asin, tepi yang satunya hanyalah hamparan yang tandus. Maka perhatikanlah kesusahan mereka wahai Amirul Mukminin. Perbaikilah kehidupan mereka perintahkan gubernur Anda di Bashrah untuk membuat aliran sungai agar memiliki air tawar yang dapat menghidupi ternak dan pepohonan. Perhatikanlah mereka dan keluarganya, ringankanlah penderitaan mereka, karena mereka menjadikan hal itu sebagai sarana untuk berjihad fi sabilillah”, tambah Ahnaf.

Umar merasa sangat takjub mendengar uraian Ahnaf, kemudian bertanya kepada utusan yang lain. “Mengapa kalian tidak melakukan seperti yang dia lakukan”, tanya Umar. “Sungguh dia (Ahnaf) adalah seorang pemimpin”, ujar seorang diantara prajurit itu.

Kemudian Umar mempersiapkan perbekalan mereka dan menyiapkan perbekalan untuk Ahnaf. Namun, Ahnaf berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, tiadalah kami jauh-jauh menemui Anda dan memukul perut onta selama berhari-hari demi mendapatkan perbakalan. Saya tidak memiliki keperluan selain keperluan kaumku seperti yang telah saya katakan kepada Anda. Jika Anda mengabulkannya, itu sudah cukup bagi Anda”, tegas Ahnaf. Rasa takjub Umar semakin bertambah, lalu Umar berkata : “Pemuda ini adalah pemimpin penduduk Bashrah”, tegas Umar.

Usai mejalis itu dan para utusan meninggalkannya, dan pergi ke tempat menginap yang sudah disediakannya. Umar melayagkan pandangannya ke barang-barang mereka. Dari salah satu bungkusan tersembul sepotong pakaian. Umar menyentuhnya sambil bertanya : “Miliki siapa ini?”.

Ahnaf menjawab : “Milik saya Amirul Mukminin”, jawabnya. Kemudian Umar bertanya : “Berapa harganya baju ini tatkala kamu membelinya?”. Ahnaf berkata : “Delapan dirham”, sahutnya. Ahnaf tidak pernah berbohong, kecuali kali ini, yang sesungguhnya baju itu dia beli dengan harga 12 dirham.

Umar menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dengan halus dia berkata : “Saya rasa untukmu cukup satu potong saja, kelebihan harta yang kau miliki hendaknya kamu pakai untuk membantu muslim lainnya”. Selanjutnya, Umar berkata kepada para prajurit pilihan itu, yang hendak kembali ke Bashrah : “Ambillah bagi kalian yang diperlukan dan gunakan kelebihan harta kalian pada tempatnya, agar ringan beban kalian dan banyak mendapatkan pahala”, Ahnaf tertunduk malu mendengarkan nasihat Amirul Mukminin itu.

Perjumpaan Ahnaf dengan Umar berlangsung satu tahun. Umar merasa bahwa Ahnaf adalah kader yang memiliki kepribadian yang mulia setelah mengujinya. Kemudian Amirul Mukminin mengutus Ahnaf untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar berpesan kepada panglimanya, Abu Musa al-Asy’ari : “Untuk selanjutnya ikutkanlah Ahnaf sebagai pendamping, ajak dia bermusyawarah dalam segala urusan dan perhatikanlah usulannya”, ujar Umar.

Ahnaf memang masih sangat belia. Tetapi, Ahnaf salah seorang tokoh dari Bani Tamim yang sangat dimuliakan kaumnya. Kaum Bani Tamim sangat berjasa dalam menaklukkan musuh, dan mempunyai prestasi yang cemerlang dalam berbagai peperangan. Termasuk dalam peperangan besar menaklukan kota Tustur dan menawan pemimpin mereka, yaitu Hurmuzan.

Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali –kali menghkhianati kaum muslimin.

Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya : “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili dibawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab : “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah.

Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya dipinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal.

Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada didalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.

Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap disamping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal.

Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata : “Umar? Lalu, di mana pengawalnya atau penjaga?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah.

Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, dan berkata : “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu itu?”

Dengan menunduk lesu, Hurmuzan serta penuh dengan kehinaan ia berkata : “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan.

Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam. Wallahu’alam.

 

 

Pesan Cinta Nabiyullah Ibrahim wa Ismail A.s


 

Ayah adalah penyangga, harapan, belahan jiwa, nasab, pertaruhan, prestise, guru, inspirasi, rasa hormat, dirindukan dan entah apa lagi. Anak adalah harapan, belahan jiwa, qurrota’ayn, nasab, pertaruhan, kesenangan, cobaan, musuh, dirindukan, inspirasi dan entah apalagi. Pola hubungan keduanya sangat khas. Meskipun kadang pasang surut, dominasi rasa cinta biasanya lebih menggunung dari sekedar riak kecil rasa sesal. Jika pun ada yang berakhir tragis, itu tidak lebih sebagai peristiwa yang keluar dari garis fitrah yang jumlahnya hanya sepersekian dari kelaziman. Kelaziman di mana antara ayah dan anak adalah dua cinta yang bertaut darah.

Ayah, betapa ia dirindukan. Anak sungguh ia dirindukan.

Nabiullah Ibrahim adalah pecinta yang paling bersih, di mana rasa cintanya pada Allah melebihi segala-galanya, meskipun kepada Ismail yang telah lama ia nantikan kehadirannya. Kita pasti pernah diberi tahu, bahwa kehadiran Ismail baru ada di saat Ibrahim telah lenjut. Usia yang menurut logika dan persangkaan Ibrahim sendiri adalah fase di mana sangat mustahil ia beroleh anak. Maka betapa gembira pada akhirnya, bahwa ia mendapatkan Ismail yang saleh dan sabar.

Cinta Ibrahim atas Ismail bukanlah cinta buta, tetapi cinta dalam visi mahabbah fillah sehingga mantap mengasah pisau untuk memutus leher anaknya. Tidak ada cerita, Ismail menjadi kabut yang menghalangi dirinya melihat hakikat kebenaran betatapun ia sayang pada Ismail setinggi langit. Tidak seperti segelintir orang tua di zaman ini yang khilaf menjadi koruptor hanya karena bahasa sayang kepada anak yang merengek mobil baru.

Cinta Ismail atas Ibrahim bukan pula cinta palsu, tetapi cinta dalam visi mahabbah fillah sehingga tak gentar menyerahkan lehernya. Tidak ada cerita ia mengelak dari Ibrahim sambil menghujat ayahnya itu sebagai sangar, bengis dan kejam. Tidak seperti segelintir anak di zaman ini yang khilaf menitipkan orang tuanya di panti jompo setelah ia ringkih dan pikun.

Pada akhirnya, Ibrahim dan Ismail sama-sama rela berkorban dan dikorbankan atas nama cinta. Cinta pada Yang Maha Mencintai.

Tak ada yang tega seorang ayah akan mengalirkan darah anaknya. Tetapi demi memenuhi hasrat cinta pada Allah, dijawab juga perintah Allah itu untuk menyembelih Ismail. Subhanallah, Allah lebih memahami dari apa dan siapapun bahwa cinta ayah dan anak amatlah subur. Maka Allah mengganti leher Ismail dengan Kibas yang subur pula.

Saya, kita semua para ayah, tak akan pernah bisa sebanding mengukur cinta pada Allah dengan mengambil patron Ibrahim soal penyembelihan dan darah. Anak-anak kita, tak akan pernah bisa sebanding mengukur cinta pada Allah dengan mengambil patron Ismail soal penyembelihan dan darah. Satu-satunya yang sanggup kita tumpahkan dari darah anak lelaki kita untuk Allah, dan satu-satunya darah yang sanggup diberikan anak lelaki kita untuk Allah, hanyalah tetesan darah khitan. Saat kulupnya kita korbankan agar ia menjadi bersih jasad dan ruhaninya. Dan lagi-lagi, kita pun mengambil teladannya dari Nabiullah Ibrahim ‘alaihissalam ini.

Sekarang dan seterusnya, “Ismail” bagai simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai dan kita sudah barang tentu memilikinya dalam wujud apapun. Boleh jadi “Ismail” kita mengambil bentuk kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankan cinta atas “Ismail”-“Ismail” simbolik itu untuk mencapai tujuan hidup sebenarnya, yaitu merebut cinta Allah?

Taruhlah kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi mengamalkan perintah Tuhan?

Taruhlah kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Siti Hajar, yang merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar Ismail? Dan taruhlah kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang militan seperti Ismail yang rela menjadi korban atas nama cinta pada Tuhannya?

Seyogyanya untuk belajar cinta dari teladan keduanya. Semoga kita bisa.

”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” (terjemah QS. Al-Mumtahanah [60] : 4).

 

Oleh : Ust. Abdul Muttaqin. Era Muslim

 

 

Menyingkap Aqidah Rububiyah wahabi


 

Berikut adalah sebagian daripada terjemahan dari Fatwa yang telah dikeluarkan oleh Pusat Fatwa Mesir berkaitan kesesatan Pembagian Tauhid ala Taymiyyah dan Wahhabiyyah. Oleh kerana sumber fatwanya yang asli agak panjang maka kami pilih yang inti-intinya saja.


TERJEMAHAN:

“Dan pembagian Tauhid kepada Uluhiyyah dan Rububiyyah adalah terhadap pembagian yang baru yang tidak datang kepada generasi Salafus Soleh. Dan orang pertama yang mempeloporinya – mengikut pendapat yang masyhur – ialah Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmati beliau).

Melainkan beliau membawanya kepada had yang melampau sehingga menyangka bahwa Tauhid Rububiyyah semata-mata tidak cukup untuk beriman, dan bahwa sesungguhnya golongan Musyrikin itu bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan sesungguhnya kebanyakan dari golongan umat Islam pada Mutakallimin (ulama’ tauhid yang menggabungkan naqli dan aqli) dan selain daripada mereka hanyalah bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan mengabaikan Tauhid Uluhiyyah.

Dan pendapat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Tauhid Rububiyyah saja tidak cukup untuk menentukan keimanan adalah pendapat yang bid’ah dan bertentangan dengan ijma’ umat Islam sebelum Ibnu Taymiyyah.

Dan pemikiran-pemikiran takfir ini sebenarnya bersembunyi dengan pendapat-pendapat yang sesat, dan menjadikannya sebagai jalan untuk menuduh umat Islam dengan syirik dan kufur dengan menyandarkan setiap pemahaman yang salah ini kepada Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmatinya) adalah tiada lain sebuah tipu daya dan usaha menakutkan yang dijalankan oleh pendukung-pendukung pendapat luar (yang bukan dari Islam ) untuk memburuk-burukkan kehormatan umat Islam.

Dan inilah sebenarnya hakikat dari mazhab golongan Khawarij dan telah banyak nas-nas Syariat menyuruh agar kita berhati-hati dan tidak terjebak ke dalam kebathilannya.”

Pembahasan :

1. Syirik dan Tauhid (Iman) tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan seperti siang dengan malam. “Tidak boleh berkumpul antara iman dan kikir di dalam hati orang yang beriman selama-lamanya” [HR Ibn Adiy].

lihatlah : iman dan bakhil saja tidak akan bercampur! apalagi iman dengan KUfur!!!! TIDAK ADA SEBUTAN UMMAT BERTAUHID BAGI YANG TAUHIDNYA BERCAMPUR DGN KUFUR, YANG ADA ADALAH “MUSYRIK” SECARA MUTLAK!.

2. Orang kafir di nash kafir tidak layak disebut bertauhid (dengan tauhid apapun) bahkan orang yang telah masuk islam tapi melakukan perbuatan yang membuat mereka kufur, itupun tak layak mendapat sebutan bertauhid dan di nash sebagai KAFIR SECARA MUTLAK!

Dalil Kufur Fi’li: Maknanya: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan…” (Q.S. Fushshilat: 37).

Dalil Kufur Qauli: Maknanya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan) tentulah mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolok-olok , tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (Q.S. at-Tubah 65-66).

Maknanya: “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka telah mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kufur dan menjadi kafir sesudah mereka sebelumnya muslim …” (Q.S. at-Taubah: 74)

3. Iman itu yakin sepenuhnya dalam hati, diucapkan dgn lisan dan diamalkan dengan lisan. Orang hanya ucapannya saja itu tak layak disebut beriman/bertauhid!.

Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (Q.S. al Hujurat: 15).

4. Tidak ada pembagaian Tauhid rububiyah dan uluhiyah. Tauhid uluhiyah ialah tauhid rububiyah dan tidak bisa dipisah.

Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827). Lihat ratusan hadis ttg kalimat tauhid laa ilaha illah dalam kutubushitah!

Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah, kalau saja uluhiayah tak mencukupi, maka syahadat ditambah : “laa ilaha wa rabba illallah” tapi nyatanya begitu!!.

hadis tentang pertanyaan malaikat munkar nakir di kubur : “Man rabbuka?”
kalaulah tauhid rububiyah tak mencukupi, pastilah akan ditanya : Man rabbuka wa ilahauka?, tapi nyatanya tidak!!.

5. WAHABY MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”

– orang kafir tetap di sebut kafir secara mutlak, tak ada satupun gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88.

86. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)1368.

87.Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,88.dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman (tidak bertauhid DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK!!)”.


89.Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).
(QS. Az Zukhruf : 86-89)


Orang kafir menurut tauhid rububiyah wahaby sendiri tidak yakin 100% kerububiyahan Allah
MEREKA MASIH MENYAKINI BERHALA-BERHALA BISA MEMBERI MANFAAT!!! Mereka telah di nash kafir atau tidak ada iman oleh Allah dan rasulnya!, tak ada satupun gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88.

Sedangkan “seorang kafir tidak mungkin muslim apalagi mu’min (beriman/bertauhid)“
dan “seorang mu’min itu pasti muslim, tetapi seorang muslim belum tentu mu’min” sesuai dengan firman Allah :“Surat alHujurat : 14

Jadi , muslim = orang islam (secara hukum) sudah syhadatain munafiq = muslim (secara hukum) yang bukan mu’min, dhahirnya muslim tapi aqidahnya belum betul.

mu’min = orang yang iman betul dan kuat dan pasti muslim kafir = bukan bukan muslim apalagi mu’min


‘Orang-orang Arab Badui berkata, “kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu … ”


kenapa wahaby menghukumi orang kafir sebagai “umat bertauhid/beriman rububiyah”????

Kesimpulan (silahkan rujuk pusat fatwa al-azhar mesir):

orang Wahabi mengatakan : orang kafir mengakui adanya Allah tetapi mereka menyembah selain Allah. Jadi, kata mereka, ada orang yang mengakui adanya Tuhan tetapi menyembah selain Tuhan adalah bertauhid Rububiyah iaitu Tauhidnya orang yang mempersekutukan Allah. Adapun Tauhid Uluhiyah ialah tauhid yang sebenar-benarnya iaitu mengesakan Tuhan sehingga tidak ada yang disembah selain Allah.

Demikian pengajian Wahabi.Pengajian seperti ini tidak pernah ada sejak dahulu. hairan kita melihat falsafahnya. Orang kafir yang mempersekutukan Tuhan digelar kaum Tauhid. Adakah Sahabat-sahabat Nabi menamakan orang musyrik sebagai ummat Tauhid? Tidak!

Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam. Mungkinkah bersatu siang dengan malam serentak?Begitulah juga tidak adanya syirik dan tauhid bersatu dalam diri seseorang. Sama ada dia Tauhid atau Musyrik. Tidak ada kedua-duanya sekali. Jelas ini adalah ajaran sesat dan bidaah yang dipelopori oleh puak Wahabi & kini telah merebak ke dalam pengajian Islam terutamanya di Timur Tengah. Kaum Wahabi yang sesat ini menciptakan pengajian baru dengan maksud untuk menggolongkan manusia yang datang menziarahi makam Nabi di Madinah, bertawasul dan amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang lain sebagai orang “kafir” yang bertauhid Rububiyah dan yang mengikuti mereka saja adalah tergolong dalam Tauhid Uluhiyah.

Teks aslinya berbahasa Arab, silalah merujuk ke:

http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=6623

 

Menyingkap Aqidah Rububiyah – Uluhiyah Wahhaby


 

Berikut adalah sebagian daripada terjemahan dari Fatwa yang telah dikeluarkan oleh Pusat Fatwa Mesir berkaitan kesesatan Pembagian Tauhid ala Taymiyyah dan Wahhabiyyah. Oleh kerana sumber fatwanya yang asli agak panjang maka kami pilih yang inti-intinya saja.


TERJEMAHAN:

“Dan pembagian Tauhid kepada Uluhiyyah dan Rububiyyah adalah terhadap pembagian yang baru yang tidak datang kepada generasi Salafus Soleh. Dan orang pertama yang mempeloporinya – mengikut pendapat yang masyhur – ialah Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmati beliau).

Melainkan beliau membawanya kepada had yang melampau sehingga menyangka bahwa Tauhid Rububiyyah semata-mata tidak cukup untuk beriman, dan bahwa sesungguhnya golongan Musyrikin itu bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan sesungguhnya kebanyakan dari golongan umat Islam pada Mutakallimin (ulama’ tauhid yang menggabungkan naqli dan aqli) dan selain daripada mereka hanyalah bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan mengabaikan Tauhid Uluhiyyah.

Dan pendapat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Tauhid Rububiyyah saja tidak cukup untuk menentukan keimanan adalah pendapat yang bid’ah dan bertentangan dengan ijma’ umat Islam sebelum Ibnu Taymiyyah.

Dan pemikiran-pemikiran takfir ini sebenarnya bersembunyi dengan pendapat-pendapat yang sesat, dan menjadikannya sebagai jalan untuk menuduh umat Islam dengan syirik dan kufur dengan menyandarkan setiap pemahaman yang salah ini kepada Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmatinya) adalah tiada lain sebuah tipu daya dan usaha menakutkan yang dijalankan oleh pendukung-pendukung pendapat luar (yang bukan dari Islam ) untuk memburuk-burukkan kehormatan umat Islam.

Dan inilah sebenarnya hakikat dari mazhab golongan Khawarij dan telah banyak nas-nas Syariat menyuruh agar kita berhati-hati dan tidak terjebak ke dalam kebathilannya.”

Pembahasan :

1. Syirik dan Tauhid (Iman) tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan seperti siang dengan malam. “Tidak boleh berkumpul antara iman dan kikir di dalam hati orang yang beriman selama-lamanya” [HR Ibn Adiy].

lihatlah : iman dan bakhil saja tidak akan bercampur! apalagi iman dengan KUfur!!!! TIDAK ADA SEBUTAN UMMAT BERTAUHID BAGI YANG TAUHIDNYA BERCAMPUR DGN KUFUR, YANG ADA ADALAH “MUSYRIK” SECARA MUTLAK!

2. Orang kafir di nash kafir tidak layak disebut bertauhid (dengan tauhid apapun) bahkan orang yang telah masuk islam tapi melakukan perbuatan yang membuat mereka kufur, itupun tak layak mendapat sebutan bertauhid dan di nash sebagai KAFIR SECARA MUTLAK!

Dalil Kufur Fi’li: Maknanya: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan…” (Q.S. Fushshilat: 37).

Dalil Kufur Qauli: Maknanya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan) tentulah mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolok-olok , tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (Q.S. at-Tubah 65-66).

Maknanya: “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka telah mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kufur dan menjadi kafir sesudah mereka sebelumnya muslim …” (Q.S. at-Taubah: 74)

3. Iman itu yakin sepenuhnya dalam hati, diucapkan dgn lisan dan diamalkan dengan lisan. Orang hanya ucapannya saja itu tak layak disebut beriman/bertauhid!.

Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu…” (Q.S. al Hujurat: 15).

4. Tidak ada pembagaian Tauhid rububiyah dan uluhiyah. Tauhid uluhiyah ialah tauhid rububiyah dan tidak bisa dipisah.

Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827). Lihat ratusan hadis ttg kalimat tauhid laa ilaha illah dalam kutubushitah!

Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah, kalau saja uluhiayah tak mencukupi, maka syahadat ditambah : “laa ilaha wa rabba illallah” tapi nyatanya begitu!!.

hadis tentang pertanyaan malaikat munkar nakir di kubur : “Man rabbuka?”
kalaulah tauhid rububiyah tak mencukupi, pastilah akan ditanya : Man rabbuka wa ilahauka?, tapi nyatanya tidak!!.

5. WAHABY MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”

– orang kafir tetap di sebut kafir secara mutlak, tak ada satupun gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88.

86. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)1368.

87.Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,88.dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman (tidak bertauhid DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK!!)”.

89.Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

(QS. Az Zukhruf : 86-89)

Orang kafir menurut tauhid rububiyah wahaby sendiri tidak yakin 100% kerububiyahan Allah
MEREKA MASIH MENYAKINI BERHALA-BERHALA BISA MEMBERI MANFAAT!!! Mereka telah di nash kafir atau tidak ada iman oleh Allah dan rasulnya!, tak ada satupun gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88.

Sedangkan “seorang kafir tidak mungkin muslim apalagi mu’min (beriman/bertauhid)“
dan “seorang mu’min itu pasti muslim, tetapi seorang muslim belum tentu mu’min” sesuai dengan firman Allah :“Surat alHujurat : 14

Jadi , muslim = orang islam (secara hukum) sudah syhadatain munafiq = muslim (secara hukum) yang bukan mu’min, dhahirnya muslim tapi aqidahnya belum betul.

mu’min = orang yang iman betul dan kuat dan pasti muslim kafir = bukan bukan muslim apalagi mu’min

‘Orang-orang Arab Badui berkata, “kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu … ”


kenapa wahaby menghukumi orang kafir sebagai “umat bertauhid/beriman rububiyah”????

Kesimpulan (silahkan rujuk pusat fatwa al-azhar mesir):


orang Wahabi mengatakan : orang kafir mengakui adanya Allah tetapi mereka menyembah selain Allah. Jadi, kata mereka, ada orang yang mengakui adanya Tuhan tetapi menyembah selain Tuhan adalah bertauhid Rububiyah iaitu Tauhidnya orang yang mempersekutukan Allah. Adapun Tauhid Uluhiyah ialah tauhid yang sebenar-benarnya iaitu mengesakan Tuhan sehingga tidak ada yang disembah selain Allah.

Demikian pengajian Wahabi.Pengajian seperti ini tidak pernah ada sejak dahulu. hairan kita melihat falsafahnya. Orang kafir yang mempersekutukan Tuhan digelar kaum Tauhid. Adakah Sahabat-sahabat Nabi menamakan orang musyrik sebagai ummat Tauhid? Tidak!

Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam. Mungkinkah bersatu siang dengan malam serentak?Begitulah juga tidak adanya syirik dan tauhid bersatu dalam diri seseorang. Sama ada dia Tauhid atau Musyrik. Tidak ada kedua-duanya sekali. Jelas ini adalah ajaran sesat dan bidaah yang dipelopori oleh puak Wahabi & kini telah merebak ke dalam pengajian Islam terutamanya di Timur Tengah. Kaum Wahabi yang sesat ini menciptakan pengajian baru dengan maksud untuk menggolongkan manusia yang datang menziarahi makam Nabi di Madinah, bertawasul dan amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang lain sebagai orang “kafir” yang bertauhid Rububiyah dan yang mengikuti mereka saja adalah tergolong dalam Tauhid Uluhiyah.

Teks aslinya berbahasa Arab, silalah merujuk ke:

http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=6623