Beranda > Kajian FIqh, Masalah Fiqih > Hukum Mengenai Taqlid ( Mengikuti sesuatu tanpa mengetahui sumber hukumnya)

Hukum Mengenai Taqlid ( Mengikuti sesuatu tanpa mengetahui sumber hukumnya)


Petikan di bawah di ambil dari Kitab Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah karangan Dr Said Ramadhan al Buthi untuk berhujjah dengan Kitab Halil Muslimu Mulzamun Bittiba’i Mazhabin Mua’yyanin Minal Madzaahibil Arba’ah karangan Syeikh Khajandi (Muhammad Sulthan Al Ma’shumi Al Khajandi Al Makki) – ulama wahhabi terkenal yang juga guru besar Masjidil Haram yang telah menghukumi bahwa mengikut mazhab itu adalah haram dan mempromosikan bebas mazhab (Alla mazhabiyyah).


Taqlid ialah mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui hujah dan yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut. Dalam hal ini, tidak ada bedanya taqlid dan ittiba’ karena kedua-duanya mempunyai arti yang sama.


Dalam al Quran, ALLah ‘azza wa Jalla menggunakan kata-kata ittiba’ sebagai pengganti kata-kata taqlid, sebagaimana firman -Nya yang artinya :


“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, serta ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas dari kami…”.


(Surah al Baqarah : 166-167).


Tidak  diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan ittiba’ dalam ayat diatas ialah taqlid buta yang terlarang. Ada pun istilah yang anda (syeikh Khajandi) pergunakan membedakan arti taqlid dan ittiba’ dalam masalah ini, hanya ada dua alternatif yaitu :


Apabila beliau (Syeikh Khajandi) mengerti dalil-dalil dan mempunyai kemampuan melakukan istinbath berarti ia adalah seorang mujtahid.


Tetapi apabila ia (Syeikh Khajandi) tidak mengerti dalil dan tidak menguasai cara-cara melakukan istinbath, ia adalah orang yang taqlid kepada mujtahid. Ada pun banyaknya lafaz dan istilah tidak akan mengubah kenyataan ini.


Kemudian, apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa taqlid itu wajib dilaksanakan bila kita tidak mampu berijtihad? Dibawah ini adalah dalil-dalinya yang dilihat dari beberapa segi :


Pertama : ALLah subahanahu wa ta’ala berfirman bermaksud :


“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” – (Surah an Nahl:43).


Para ulama telah sepakat bahawa ayat itu merupakan perintah kepada orang yang tidak mengerti hukum dan dalil agar mengikuti orang yang memahaminya. Seluruh ulama usul telah menetapkan ayat itu sebagai dasar pertama untuk mewajibkan orang awam agar taqlid kepada mujtahid.

Semakna dengan ayat itu, firman ALLah subahanahu wa ta’ala yang artinya :


“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman (mukmin) itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mreka itu dapat menjaga dirinya?” (Surah at Taubah : 122).


Dalam ayat ini, ALlah ‘azza wa Jalla melarang semua orang pergi berperang dan melakukan jihad, tetapi memerintahkan agar segolongan dari mereka tetap tinggal di tempatnya untuk mempelajari ilmu agama sehingga bila yang pergi berperang telah kembali. Mereka akan mendapatkan orang-orang yang dapat memberikan fatwa tentang urusan halal dan haram serta menjelaskan hukum-hukum ALLah subahanahu wa ta’ala lainnya. (Al Jaami’ Li Ahkaamil Quraan Imam Al Qurthubu, Jilid VIII, hlmn 293-294).


Kedua : Adanya ijma’ yang menunjukkan bahawa para sahabat Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam tidak sama tingkatan ilmu dan tidak semuanya ahli fatwa sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Khaldun. Dan masalah agama pun tidak diambil dari mereka semua. Di antara mereka ada yang menjadi mufti atau mujtahid, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan ada pula yang meminta fatwa dan menjadi muqallid yang jumlahnya sangat banyak.


Para sahabat yang menjadi mufti (mujtahid) dalam menerangkan hukum agama, tidak selalu menerangkan dalil-dalilnya kepada yang meminta fatwa. RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah mengutus para sahabatnya yang ahli hukum ke daerah-daerah yang penduduknya tidak mengenal Islam. Selain hanya mengetahui aqidah dan rukun-rukun saja. Kemudian para penduduk daerah tersebut mengikuti fatwa utusan RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam dengan mengamalkan ibadah dan muamalah, serta segala macam urusan yang ada sangkut pautnya dengan halal dan haram.


Apabila para utusan Rasul menjumpai masalah yang tidak ditemukan dalilnya dari Al Kitab (al Quran al Karim) dan As Sunnah ((al Hadith Asy Syarif), ia melakukan ijtihad dan memberi fatwa menurut petunjuk dari hasil ijtihadnya. Selanjutnya, penduduk setempat mengikuti fatwa tersebut.

Imam al Ghazali RahimahuLLah dalam kitabnya Al Mustashfa pada bab Taqlid dan Istisfa mengatakan :


“Dalil orang awam harus taqlid ialah ijma’ sahabat. Mereka memberikan fatwa kepada orang awam, tanpa memerintahkannya untuk mencapai derajat ijtihad. Hal ini dapat diketahui dengan pasti dan dengan cara mutawatir, baik dari kalangan ulama maupun awam.”


Imam Al Amudi berkata dalam kitabnya Al Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam, :


“Adapun dalil taqlid dari segi ijma’ ialah orang awam pada zaman sahabat dan tabi’in, sebelum timbul golongan yang menentang, selalu meminta fatwa kepada para mujtahidin dan mengikuti mereka dalam urusan hukum syariat. Para ulama dari kalangan mereka dengan cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan tanpa menyebutkan dalilnya dan tidak ada seorang pun yang ingkar. Hal ini berarti mereka telah ijma, bahwa seorang awam boleh mengikuti mujtahid secara mutlak.”

Wallohu ‘alam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: