Arsip

Archive for Maret, 2010

Arti dunia menurut Rasulullah SAW II


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda; “Seandainya Bani Adam memiliki sebuah lembah yang penuh berisi emas, dia akan senang untuk memiliki lembah yang serupa. Tak ada yang memenuhi mata Bani Adam kecuali tanah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Di riwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Seandainya Bani Adam memiliki dua lembah yang penuh berisi harta, maka dia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Tapi Allah memberi ampunan bagi siapa saja yang mau bertobat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Amru r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Dunia ini manis dan berwarna hijau. Barang siapa yang mengambilnya sesuai dengan hak yang dimiliki, maka dia diberkahi. Celakalah orang yang menceburkan diri dan menghiasi dirinya dengan nafsu. Tak ada yang ia dapatkan pada Hari Kiamat kelak kecuali neraka.” (HR. Thabrani)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda; “Aku melihat surga, dan kudapati ternyata sebagian besar penghuninya adalah orang-orang fakir. Kemudian aku melihat neraka ternyata, dan kudapati ternyata sebagian besar penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad dengan sanad Jayyid, dari Abdullah bin Amru dengan lafal; “Aku melihat neraka, dan kudapati para penghuninya kebanyakan adalah orang-orang kaya dan wanita.”)

Diriwayatkan dari Abu Darda’ r.a. bahwa Nabi saw. bersabda; “Tidak pernah matahari terbit, kecuali pada kedua sisinya diutus dua malaikat. Keduanya mendengarkan penduduk bumi, lalu berkata,`Wahai manusia, mintalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya harta yang sedikit namun mencukupi dari pada harta melimpah yang dapat membinasakan.’ Dan tak pernah matahari tenggelam, kecuali diutus dua malaikat pada kedua sisinya, lalu berdo’a`Ya Allah, berikanlah balasan secepatnya kepada orang yang menginfakkan hartanya, dan berikanlah azab secepatnya kepada orang yang kikir.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan lafalnya dari sanad yang sahih)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. membaca ayat “barang siapa yang menginginkan kebun akhirat” (QS. Asy-Syura; 20) kemudian beliau bersabda; “Allah berfirman, `Wahai Bani Adam, habiskanlah waktumu semata-mata untuk beribadah kepada-Ku, Niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan, dan Aku cukupi kefakiranmu. Tapi jika engkau tidak melaksanakannya, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak akan mencukupi kefakiranmu.`” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Ibnu Hibban dengan sedikit peringkasan; “Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan” juga Al-Hakim dan Baihaqi)

Diriwayatkan dari Tsaubani r.a. ia berkata, “ketika turun ayat `Dan yang memiliki emas dan perak` (QS. at-Taubah 38) kami sedang bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Salah satu sahabat berkata, `Ayat itu turun pada emas dan perak, seandainya kami mengetahui harta apa yang paling baik, niscaya kami akan(memilih untuk) memilikinya?` Maka beliau bersabda; “Harta yang paling baik adalah lidah yang senantiasa berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri yang beriman yang menjaga keimanannya (suaminya-pen.).” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi)

Sumber: Abu Shony

Arti Dunia Menurut Rasulullah SAW I


Diriwayatkan dari Zaid bin tsabit r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda; “barang siapa yang menginginkan akhirat, maka Allah akan mengumpulkan segenap kemampuannya, menciptakan rasa kaya dihatinya, dan memandang dunia dengan penuh kebencian. Dan barang siapa yang menginginkan dunia maka Allah akan mencerai beraikan semua urusannya, memperlihatkan kefakiran di hadapan matanya, dan ia tidak bisa mendapatkan kenikmatan duniawi kecuali sebesar yang Allah gariskan untuknya.” (HR. Ibnu Majah)

Saudaraku, kalau kita mengira bahwa arti kekayaan itu adalah jumlah nominal harta yang banyak, atau sering kita beranggapan bahwa kemiskinan itu hanyalah ditentukan oleh sedikitnya harta yang dimiliki mungkin ada baiknya kita merenung kembali. Sebab menurut Hadist diatas, kekayaan dan kemiskinan itu adalah hak prerogatif dari Allah yang akan diberikan kepada kita. Sebab sangat sering kita jumpai seseorang yang secara lahiriah dimanja dengan harta dan kemewahan, tapi yang dia rasakan sesungguhnya hanyalah perih pedihnya kehidupan. Dan tidak sedikit kita temui, mereka yang secara lahiriah serba kekurangan, tapi jauh didalam lubuk hati mereka, ada perasaan tentram dan damai. Jadi Allah-lah yang kuasa kepada siapa hakikat kekayaan akan dimasukkan didalam hati. Kurangnya keyakinan kita akan apa yang sudah disabdakan oleh Rasulullah inilah yang sering menyebabkan kerancuan dengan rasio akal manusia. Pun demikian kita juga harus jujur dalam beragama, janganlah kita seolah-olah secara lahiriah adalah orang yang mengejar akhirat semata, namun didalam hati tiada henti kecemasan dan kegundahan untuk terus mencari dan menumpuk harta dunia. Banyaknya harta tapi tanpa Rahmat Allah, yang ada hanyalah adzab belaka. Sedikitnya harta tapi Rahmat Allah tiada henti tercurah, yang didapat adalah nikmat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bin Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata,”Aku mendengar Ibnu Zubair dalam salah satu khutbahnya dimimbar kota Makkah berkata, `Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersabda; Seandainya anak Adam diberi satu lembah yang penuh berisi emas, maka dia akan mencari lembah yang kedua. Seandainya dia diberi lembah yang kedua, maka dia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tak ada yang mampu menutup perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah memberikan ampunan kepada siapa saja yang bertobat.” (HR. Bukhori)

Saudaraku, satu indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah saw. sangat mengena bila kita semua mau jujur dengan diri ini. Bukanlah maksud agama ini melarang umatnya untuk mencari nafkah, namun yang menjadi point of view-nya disini adalah keserakahan kita dalah mencari dan mengumpulkan harta. Sebatas apa yang kita butuhkan dalam aspek utama dari kehidupan, maka alangkah indahnya bila kita mau membisikkan kata cukup kedalah hati kita sendiri. Sebab akal akan terus mengatakan pada diri kita, bahwasanya kita masih kurang dan akan terus kurang. Hanyalah sekarang tergantung diri ini apakah lebih percaya dan meyakini apa yang dibisikkan oleh hati atau apa yang dikatakan oleh akal. Sedang Hadist diatas adalah sebuah petunjuk yang arif untuk kita memilih. Dan yang pasti belum terlambat untuk kita bertobat kepada Allah SWT. INSYAALLOH.

Kisah Taubatnya Ahli maksiat


BismillaHirrahmaanirrahiim.

Alkisah,  Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi’ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.

Ia berkata, “Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Aku ingin Bertobat, Aku minta tolong kepadamu,  Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?”
Ibrahim bin Adham berkata : “Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah,”.
Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, “Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?”
“Benar,” jawab Ibrahim dengan tegas. “Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?”
“Baiklah,” jawab Jahdar tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya,” kata Ibrahim lebih tegas lagi.
Syarat yang kedua ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”
“Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?” tanya Ibrahim.
“Kau benar Aba Ishak,” ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” tanya Jahdar dengan penasaran.
“Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dimana Allah swt tidak bisa melihatmu.”
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”
“Bagus! Kalau kau mengetahui dan yakin bahwa  Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?” tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi’ah tidak berkutik dan membenarkannya.
“Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?”
“Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh.”
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku lakukan.”
“Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.
“Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah darinya!”
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “Cukup?cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat kepada Allah.”

Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu’.
Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutny, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku.”
Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, “Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?”
Ibrahim bin Adham menjawab, “Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana.”
Betapa kagetnya Jahdar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku.

Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya.”

Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi’ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.

Nikmat Ilahi Yang Terlupakan


Nikmat Ilahi.

Bismillahirrahmaanirrahim,

Berbicara tentang Syukur, maka terlebih dahulu harus diuraikan tentang makna Nikmat. Karena antara nikmat dan syukur memiliki arti yang berkaitan. Timbulnya Syukur karena ada sesuatu yang disyukuri. Dan sesuatu yang disyukuri tersebut adalah  nikmat Ilahi yang telah kita rasakan manfaatnya.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menyimpulkan tentang nikmat ini dimana menurut Beliau, setiap kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan bahkan setiap keinginan yang terpenuhi termasuk ruang lingkup dari sebuah nikmat. Begitupun kenikmatan yang akan dirasakan oleh orang-orang beriman nanti diakhirat berupa Kebahagiaan Akhirat.

Pada hakikatnya nikmat adalah suatu totalitas. Namun karena terpengaruh oleh sifat manusia sehingga nikmat itu  terbagi menjadi dua :

  • Nikmat yang bersifat Fitri ( asasi ), yakni nikmat yang dibawa manusia sejak lahir kedunia.
  • Nikmat yang mendatang ( menyusul ), yang diterima dan yang dapat dirasakan setiap waktu.

Nikmat dari Allah yang diberikan epada manusia ketika lahir ( nikmat fitri ) dilukiskan dalam Al-Qur-an :

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ

وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu sekalian bersyukur. ( An-Nahl : 78 )

Ketika seorang bayi dilahirkan dari rahim ibunya adalah telanjang bulat. Tanpa  melekat sehelai benangpun ditubuhnya. Sehingga  Allah membekalinya dengan alat-alat perlengkapan yang diperlukan untuk perjuangan hidupnya, seperti yang telah disebutkan dalam ayat di atas.

Betapa besar dan banyak nikmat dan anugrahNya yang diberikan kepada kita.  Jika kita merenungkan sejenak atas nikmat yang dianugrahkan Allah swt yang melekat ditubuh kita, mulai dari tangan, kaki, mulut, mata, telinga, hidung, dan sebagainya.  Semua perlengkapan tubuh ini selalu bergerak secara otomatis sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Cobalah  perlihatkan mata kita pada sesuatu,  lalu tangan kita mengambil sesuatu yang dapat dimakan oleh mulut kita,  kemudian  apa yang dirasakan lidah?, disaat yang bersamaan akalpun dapat menunaikan tugasnya memikirkan dan merekam segala apa yang telah kita pegang, lihat, dan rasakan oleh mulut. disaat yang bersamaan pula telinga kita masih tetap bisa mendengar, dan hidung masih bisa mencium, dan sebagainya.

Alangkah hebat dan mahalnya instrumen yang dipasang di tubuh kita ini. Tak ada alat yang mampu diciptakan seorang manusia super pun mampu menandingi alat-alat yang diciptakan Allah swt berupa organ tubuh yang sekarang melekat sempurna pada tubuh kita.  Namun demikian, sungguh banyak diantara kita yang melupakan nikmat-nikmat itu.

Seandainya organ tubuh itu kita beli dirumah sakit, maka berapa juta dollar uang yang harus dikeluarkan untuk itu.

Seandainya Allah menyuruh membeli, maka dengan apa kita menebusnya?.

Maka sudah sepatutnya kita berterima kasih dan selalu mengucapkan puji dan syukur serta patuh ke Hadirat Allah yang Maha Rahman dan Rahim , karena Allah swt tidak akan menuntut agar kita membeli atau menyewa organ-organ tubuh sekarang melekat pada tubuh ini.  Sekalipun manusia tidak mensyukurinya, Allah swt tidak rugi, karena Allah swt tidak membutuhkan amal-amal makhlukNya, tidak bergantung kepda manusia. Justru sebaliknya, jika kita tak tahu diri dan tidak mensyukuri segala NikmatNya yang begitu besar, tentu kita sendiri yang rugi dan celaka.

Sesungguhnya nilai syukur itu bukan untuk kepentingan Allah swt, Allah swt memerintahkan hamba-hambanya agar senantiasa mensyukuri nikmatNya tiada lain adalah untuk kepentingan hamba-hambaNya sendiri. Sesempurna apapun angota dan organ tubuh ini, tetap Allah Ciptakan kekurangan didalamnya, dan hanya dengan bersyukur semua kekurangan itu dapat tidak dirasakan oleh kita, lewat suatu do’a yang dipanjatkan kepadaNya dengan penuh rasa kekurangan dan merendahkan diri.

مَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan abrangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. ( An-Naml : 40 ).

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan dari apa ia dijadikan ( At-Thariq : 5 ).


Muhammad Nabi Umat Hindu


Kenyataan Nabi Muhammad adalah utusan bagi semua umat manusia memang tidak bisa dipungkiri, Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya Tuhan sedangkan YAHKAT artinya hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya ABDULLAH ( Hamba Allah). Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya AMINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebiuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasullah mengendarai Buroq.

Sumber : buku KALKY AUTAR Pengarang Prof. Waid Barkash Muallaf dari India

Allah Mendengar setiap do’a HambaNya


Allah Yang Maha kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, telah berfirman
dalam al-Qur’an bahwa Dia dekat dengan manusia dan akan mengabulkan
permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Adapun salah satu ayat yang
membicarakan masalah tersebut adalah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya
Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s.
al-Baqarah: 186).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, Allah itu dekat kepada setiap
hambanya. Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, pikiran, kata-kata yang
diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati setiap
manusia. Dengan demikian, Allah Mendengar dan Mengetahui setiap hambanya yang
berpaling kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Inilah karunia Allah kepada
manusia dan sebagai wujud dari kasih-sayang-Nya, rahmat-Nya, dan
kekuasaan-Nya yang tiada batas.

Allah memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang tiada batas. Dialah Pemilik
segala sesuatu di seluruh alam semesta. Setiap makhluk, setiap benda, dari
orang-orang yang tampaknya paling kuat hingga orang-orang yang sangat kaya,
dari binatang-binatang yang sangat besar hingga yang sangat kecil yang
mendiami bumi, semuanya milik Allah dan semuanya berada dalam kehendak-Nya
dan pegaturan-Nya yang mutlak.

Seseorang yang beriman terhadap kebenaran ini dapat berdoa kepada Allah
mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan
doa-doanya. Misalnya, seseorang yang mengidap penyakit yang tidak dapat
disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam
pengobatan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan
kesehatan, lalu ia pun berdoa kepada-Nya memohon kesembuhan. Demikian pula,
orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdoa kepada Allah agar
terbebas dari ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang menghadapi kesulitan
dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk
menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdoa kepada Allah untuk
memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon
bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga
bersama-sama orang-orang beriman lainnya, agar lebih meyakini surga, neraka,
Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan sebagainya. Inilah yang telah
ditekankan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

“Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari
kejahatan musuh dan agar rezekimu bertambah?” Mereka berkata, “Tentu saja
wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Serulah Tuhanmu siang dan malam, karena
‘doa’ itu merupakan senjata bagi orang yang
beriman.”

Namun demikian, terdapat rahasia lain di balik apa yang diungkapkan dalam
al-Qur’an yang perlu kita bicarakan dalam masalah ini. Sebagaimana Allah
telah menyatakan dalam ayat:

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan.
Dan manusia itu tergesa-gesa.” (Q.s. al-Isra’:11).

Tidak setiap doa yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Misalnya
seseorang memohon kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak
untuk anak-anaknya kelak. Akan tetapi Allah tidak melihat kebaikan di dalam
doanya itu. Yakni, kekayaan yang banyak itu justru dapat memalingkan
anak-anak tersebut dari Allah. Dalam hal ini, Allah mendengar doa orang
tersebut, menerimanya sebagai amal ibadah, dan mengabulkannya dengan cara
yang sebaik-baiknya. Sebagai contoh lainnya, seseorang berdoa agar tidak
terlambat dalam memenuhi perjanjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika
ia sampai di tujuan setelah waktu yang ditentukan, karena ia dapat bertemu
dengan seseorang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk
kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini, dan Dia mengabulkan doa
bukan berdasarkan apa yang dipikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang
terbaik. Yakni, Allah mendengar doa orang itu, tetapi jika Dia melihat tidak
ada kebaikan dalam doanya itu, Dia memberikan apa yang terbaik bagi orang
itu. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang sangat penting.

Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia
ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar doa mereka. Sesungguhnya hal
ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena “Allah itu
lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri.” (Q.s. Qaf: 16).
Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang
dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika
seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpinya. Allah
adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja
seseorang berdoa kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima
doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik
baginya.

Doa, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah
yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui doa, Allah akan memberikan
kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya.
Allah menyatakan pentingnya doa dalam sebuah ayat:

“Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak karena doamu.
Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan
menimpamu’.” (Q.s. al-Furqan: 77)

” Allah Mengabulkan Doa Orang-orang yang Menderita dan Berada dalam
Kesulitan

Doa adalah saat-saat ketika kedekatan seseorang dengan Allah dapat
dirasakan. Sebagai hamba Allah, seseorang sangat memerlukan Dia. Hal ini
karena ketika seseorang berdoa, ia akan menyadari betapa lemahnya dan betapa
hinanya dirinya di hadapan Allah, dan ia menyadari bahwa tak seorang pun
yang dapat menolongnya kecuali Allah. Keikhlasan dan kesungguhan seseorang
dalam berdoa tergantung pada sejauh mana ia merasa memerlukan. Misalnya,
setiap orang berdoa kepada Allah untuk memohon keselamatan di dunia. Namun,
orang yang merasa putus asa di tengah-tengah medan perang akan berdoa lebih
sungguh-sungguh dan dengan berendah diri di hadapan Allah. Demikian pula,
ketika terjadi badai yang menerpa sebuah kapal atau pesawat terbang sehingga
terancam bahaya, orang-orang akan memohon kepada Allah dengan berendah diri.
Mereka akan ikhlas dan berserah diri dalam berdoa. Allah menceritakan
keadaan ini dalam sebuah ayat:

“Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat
dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara
yang lembut: ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini,
tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” (Q.s. al-An’am: 63).

Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar berdoa dengan
merendahkan diri:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s.
al-A’raf: 55).

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia mengabulkan doa orang-orang
yang teraniaya dan orang-orang yang berada dalam kesusahan:

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia
berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu
sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah? Sedikit sekali
kamu yang memperhatikannya.” (Q.s. an-Naml: 62).

Tentu saja orang tidak harus berada dalam keadaan bahaya ketika berdoa
kepada Allah. Contoh-contoh ini diberikan agar orang-orang dapat memahami
maknanya sehingga mereka berdoa dengan ikhlas dan merenungkan saat kematian,
ketika seseorang tidak lagi merasa lalai sehingga mereka berpaling kepada
Allah dengan keikhlasan yang dalam. Dalam pada itu, orang-orang yang
beriman, yang dengan sepenuh hati berbakti kepada Allah, selalu menyadari
kelemahan mereka dan kekurangan mereka, mereka selalu berpaling kepada Allah
dengan ikhlas, sekalipun mereka tidak berada dalam keadaan bahaya. Ini
merupakan ciri penting yang membedakan mereka dengan orang-orang kafir dan
orang-orang yang imannya lemah.

Mempelajari sistem kerja Alat Pendengaran kita


Saudara2ku…, Pernahkah kita memperhatikan dan menanyakan bagaimana telinga kita yang bisa mendengar suara2, bahkan bisa membedakan jenis2 suara yang ditangkap oleh ke dua telinga ini? kenapa bukan hidung atau mulut kita yang dapat mendengar suara2?. Semoga Artikel dibawah ini, dapat membantu kita semua dalam mempelajari sistem kerja panca indra dan anggota tubuh yang telah Allah Anugrahkan secara sempurna kepada kita sebagai makhluk CiptaanNya.

Pembahasan tentang Pendengaran, saya mulai dari bagian luar telinga. Menurut Ilmu Pengetahuan, getaran yang terjadi diudara berpindah masuk kedalam telinga yang tersusun rapi. Getaran itu diteruskan ke dalam gendang-gendang yang terdapat dibagian dalam. Kemudian diteruskan ke syaraf-syaraf pendengaran dalam telinga.

Benar – benar suatu keanehan, sebagaimana dikemukakan ahli telinga , yaitu Dr. Kurty, dikatakan bahwa selaput gendang bentuknya seperti botol, diantara kedua kacang setengah lingkaran. Setiap diantara kacang itu terdapat empat ribu syaraf pendengaran halus yang menghubungkan dengan syaraf pendengaran dalam otak besar. Berapa Panjang syaraf penghubung ini? Bagaimana susunannya? Berapa banyak jumlahnya?dan Apa sebab ditempatkan disini?. Diapit oleh tulang-tulang yang tersusun rapi, Semuanya terdapat dalam selaput gendang yang hampir – hampir tidak dapat dilihat.

Didalam telinga terdapat beratus-ratus sel-sel pendengar, tertumbuk pada selaput yang halus dan tipis. dimana fungsi sel-sel tersebut sebagai penangkap suara, perekam suara, pembeda jenis suara yang ditangkap, Lalu suara itu diteruskan kedalam otak.

Apabila seseorang mendengar suara, sangat menakjubkan sistem kerja alat pendengaran tersebut yaitu telinga, sehingga bisa mengetahui suara siapa dan suara apa yang didengarnya. Bagaimana cara alat pendengaran ini membedakan suara-suara tersebut?.

Semoga Artikel singkat ini dapat menambah rasa syukur kita terhadap Allah swt, Tuhan yang telah menciptakan kita, dan menciptakan seluruh alam dan segala isinya yang beraneka ragam. Amin

Sumber : Kitab Ihya Ulumuddin Bab Syukur

dan sumber2 lainnya.