Beranda > Kisah dan Hikmah > Ramuan pak tua dan telaga

Ramuan pak tua dan telaga


Kisah di bawah ini adalah obat bagi orang orang yang selalu mendapat masalah dan putus asa, semoga setelah membacanya, anda kembali dapat menyongsong kehidupan dengan penuh semangat, dan memahami dengan hati lapang, karena  semua yang terjadi adalah telah di tetapkan jauh sebelum anda diciptakanNya. dan sesekali Allah tidak membebani hambanya diluar batas kemampuanya.

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam ramuan semacam obat dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit…., pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam ramuan tersebut ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.
“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar!” sahut anak muda itu. “Apakah engkau bisa merasakan ramuan yang aku taburkan di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi. “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “

Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam ramuannya  untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.

  1. dana iskandar
    5 Februari 2010 pukul 03:41

    Subhanalallah sungguh bijak pak tua itu,memang sih semua masalah timbulnya dari dalam hati, rasa ga senang ,rasa sakit,marah dan cemburu.dlsb .Rasa susah dan pahit dan susah itu menerpa bukan hanya kepada orang miskin tapi jg kpd org2 kaya bhakan org super kaya ..pada akhirnya besar kecilnya kesusahan tersebut tergantung dari penerimaan hati kita ..ridho tidak kita menerima semua itu …kuncinya hanya harus pasrah dan selalu bersyukur atas apa2 yg telah kita terima dariNya.

  2. 5 Februari 2010 pukul 03:44

    Cerita-cerita disini emang patut diberi jempol..
    Thanks infonya…
    Mau buat blog kamu lebih cantik dan menawan…
    kunjungi http://tips-mempercantik-blog.blogspot.com

    atau ingin resep-resep cinta jitu
    kunjungi http://resep-cinta.blogspot.com

  3. nilla
    26 Februari 2010 pukul 16:46

    nice..
    moga-moga banyak orang yang bisa ambil hikmah dr cerita ini…amin

  4. Eri
    27 November 2010 pukul 15:13

    Malam ini berdiri tegak ku memandang pantai yg tenang
    menikmati bayu yang bertiup lembut seakan berbisik di telinga
    Riak air yang malu2 bermain seakan menyapa dalam hening
    dan bersenandung lirih bagai desah hati yang berdegup pelan
    Ku baca bait demi bait, kata demi kata
    Lembut yang tertata meniupkan harapan akan kedatangan yg di nanti
    bagai anak rambut menari tertiup angin pantai
    aku bahkan tak menyadari akan pesan yg kau titipkan pada sang bayu
    begitu mengharu birukan bulir bulir asa di hati
    ku mainkan irama indah menjawab pesanmu
    setetes butir putih membias di sudut mata
    begitu syahdu pesan yang kau kirim
    ku tatap awan yang berarak seakan menyembunyikan builan
    terbayang seraut wajah gagah yang berjuang di sana
    ku dekap tubuh mungil ini seakan takut hati terbuai hasrat
    awan putih mulai menggumpal seakan perisai terbentuk
    ku gapai dengan gemulai kata dan bait yg terkirim
    ku genggam lembut lindungi mahkota hati
    Kau adalah hidup yang menghidupkan,
    teruslah berjalan raih impian hingga nampak yang lebih baik
    menunduk sedih kecewakan arah keinginan
    Kaulah garis senyum itu,
    Salam keheningan ku titip sang lembayung padamu …

  5. ning
    28 November 2010 pukul 09:32

    izin copas yah..
    syukron..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: