Beranda > Sejarah > Islam Telah ke Indonesia sejak sebelum kelahiran Rasulullah SAW

Islam Telah ke Indonesia sejak sebelum kelahiran Rasulullah SAW


Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai.

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.

PERMULAAN DAKWAH ISLAM KE INDONESIA

Kekhilafahan Islam Menjadi Negara Nomor Satu di Dunia

Pada tahun 23 H/ 644 M Islam yang terwujud dalam Kekhilafahan menjadi negara nomor satu di dunia tanpa pesaing, setelah di masa pemerintahan Khalifah ’Umar bin Khaththab ra., Khilafah Islam berhasil membebaskan Persia, Mesir dan Syam dari cengkraman dua negara adidaya saat itu, yakni Romawi Bizantium dan Kisra Dinasti Sasan. Di masa pemerintahan Khalifah ’Utsman bin ’Affan ra. (23–35 H/ 644–656 M), ke arah timur wilayah kekuasaan Islam meluas hingga ke India. Pada masa inilah risalah Islam berhasil mencapai pusat Kekaisaran Cina, kawasan Kanton, Pulau Sumatera dan Kerajaan Kalingga di Jawa dibawa oleh utusan-utusan Khilafah Islam, baik oleh misi dakwah yang dipimpin Saad bin Abi Waqash ra. maupun misi dakwah yang dipimpin Muawiyah bin Abi Sufyan ra.

Pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin ’Abdul Malik dari Bani Umayyah (715 M), wilayah Khilafah Islamiyah membentang sangat luas dari Punjab di India hingga Andalusia di Eropa. 717 M Dan pada tahun 98 H/ 717 M Khilafah Islam yang dipimpin oleh Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. berhasil menerapkan Syariat Islam dengan baik. Penerapan peradaban Islam yang dilakukan oleh Khilafah Islam ini memudahkan Muslim Arab, Persia dan India yang berdagang hingga ke Nusantara (Archipelago) mendakwahkan Islam ke penduduk nusantara, mulai dari aspek aqidah, ibadah, sistem ekonomi, sosial, peradilan hingga sistem pemerintahannya. Karena dakwah Islam yang paling efektif adalah dengan melihat langsung bagaimana syariat Islam diterapkan. Dari interaksi dakwah Islam yang terjadi di kalangan para pedagang inilah penduduk di nusantara mengenal Islam dan kemuliaan peradabannya.

Dakwah kepada Raja Srindravarman 718 M Dakwah Islam yang bermula di kalangan pedagang ini akhirnya sampai ke telinga para raja Hindu dan Budha yang tersebar di Nusantara. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi (Kerajaan Melayu) yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan da`i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”

Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Dakwah Islam di Peureulak Pada masa Khalifah al-Ma`mun dari Bani Abbasiyah, tepatnya tahun 820 M setitik harapan muncul dari pesisir utara pulau Sumatera, di pusat perdagangan yang bernama Peureulak. Peureulak saat itu adalah tempat persinggahan para pedagang muslim Arab dan Persia. Di sana mereka mendakwahkan Islam ke penduduk Peureulak, menikah dengan putri-putri Peureulak, sehingga lahirlah anak-anak muslim campuran darah Arab, Persia dan Peureulak. Islamisasi melalui jalur perdagangan dan pernikahan ini akhirnya menembus jajaran elite penguasa Peureulak.

Kesultanan Peureulak; Kesultanan Islam Pertama di Nusantara Islam akhirnya membuat perubahan yang luar biasa bagi Peureulak dengan berdirinya Kesultanan Peureulak. Kesultanan Peureulak didirikan pada hari Rabu 1 Muharram tahun 225 H (839 M) dengan sultan pertamanya Sultan Alaiddin Sayid Maulana ‘Abdul ‘Aziz Shah. Kesultanan Peureulak beribukota di Bandar Peureulak yang berganti nama menjadi Bandar Khalifah. Saat itu Khilafah dipimpin oleh Khalifah al-Mu`tashim billah.

839 M

Sejak Kesultanan Peureulak berdiri, Syariat Islam diterapkan di salah satu bagian Indonesia yang oleh Marcopolo disebut dengan nama The Law of Muhammad (Undang-undang Muhammad).
Sebagaimana Sribuza Islam, Kesultanan Peureulak ini pun diserang oleh Kerajaan Sriwijaya Budha pada tahun 986 M. Pada tahun 1006 M Sriwijaya Budha menarik pasukannya untuk menghadapi Kerajaan Darma Wangsa di Pulau Jawa.

Khilafah Abbasiyah Mengalami Kemunduran

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, setelah mengalami masa keemasannya, sejak Abad ke-4 H Khilafah Islamiyah yang diperintah Bani Abbasiyah mengalami kemunduran akibat melemahnya kemampuan berijtihad. Kemunduran ini terus berlangsung hingga terjadinya Perang Salib di akhir abad ke-11 M. Perancis yang mengambil alih kepemimpinan dunia bersama Inggris menganeksasi wilayah Syam.

Kemunduran ini membuat Khilafah Islamiyah tak berdaya ketika Pasukan Tartar yang dipimpin Hulaghu Khan dari Imperium Mongol menyerbu dan menghancurkan Baghdad, ibukota Daulah Khilafah Islamiyah saat itu, dan membunuh Khalifah al-Musta’shim billah dari Bani Abbasiyah pada tahun 1258 M. Sejak itu kaum muslimin hidup tanpa khalifah.

Meski demikian, di sebelah barat kota Baghdad, kaum muslimin masih berada dalam naungan Kesultanan-kesultanan Islam. Di Anatolia ada Bani Saljuk Rum, di Syam hingga Mesir ada Bani Mamluk, dan di Hijaz berkuasa Syarif Makkah.

MENJADI BAGIAN DARI KHILAFAH ISLAM

Syarif Makkah Syarif Makkah adalah penguasa Hijaz yang saat itu merupakan wilayah setingkat propinsi dari Khilafah Abbasiyah. Ketika Sultan Baybars al-Bandaqadari dari Kesultanan Mamluk membai’at al-Mustansir billah dari Bani Abbasiyah sebagai khalifah pada tanggal 13 Rajab tahun 659 H atau 1261 M, Syarif Makkah pun menggabungkan kembali wilayah Hijaz ke dalam kekuasaan Khilafah Abbasiyah ini.

Syarif Makkah Mengangkat Meurah Silu Menjadi Sultan 1261 MSyarif Makkah juga yang mengirim misi dakwah yang berhasil mengislamkan Samudra-Pasai dan menjadikannya sebagai bagian dari Khilafah Islamiyah. Meurah Silu menjadi sultan di Kesultanan Samudra-Pasai dengan gelar Sultan Malikus Saleh. Sehingga sejak tahun 1261 M Kesultanan Samudra-Pasai menjadi bagian dari Khilafah Abbasiyah Mesir, di bawah kontrol Makkah atau Serambi Mekah. Dan memang begitulah seharusnya, setiap wilayah yang berhasil di-Islamkan secara sukarela dan penguasanya pun bersedia menerapkan Syariat Islam, maka wilayah tersebut wajib menggabungkan diri menjadi bagian dari Khilafah Islamiyah.

Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam Samudra-Pasai mengalami perubahan besar pada masa pemerintahan Meurah Silu. Awalnya kesultanan ini adalah Kerajaan Samudra dan Kerajaan Pasai yang pada tahun 433 H (1042 M) digabungkan menjadi Kerajaan Samudra-Pasai. Pada tahun 659 H (1261 M) Kerajaan yang terletak di pesisir timur laut Aceh ini diubah menjadi kesultanan oleh Meurah Silu dengan nama resmi Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam. Meurah Silu menjadi sultan pertamanya dengan gelar Sultan Malikus Saleh.
Tahun 1292 M Kesultanan Peureulak menggabungkan diri dengan Kesultanan Samudra-Pasai yang sedang tumbuh dan berkembang pesat, yakni

Dakwah Islam Besar-besaran dari Pasai ke Seluruh Nusantara

Sejak menjadi bagian dari Khilafah, Kesultanan Samudra-Pasai melesat menjadi pusat koordinasi dan pengkaderan dai yang akan dikirim ke seluruh penjuru Nusantara.
Dakwah Islam secara besar-besaran ke nusantara pun dimulai. Dari Pasai, dakwah Islam menyebar melalui dua jalur:

* Jalur Malaka dan Jalur Giri di Gresik. Dari Malaka dakwah Islam bergerak ke Johor, Kedah, Trengganu, Pattani, Kelantan, Campa, Brunai, Sulu, Mindanao dan Manila. Dari Johor dakwah menyebar ke Riau dan Siak. Dari Mindanao dakwah menyebar ke Sulawesi Utara.
* Dari Giri dakwah Islam menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Palembang, Tanjung Pura, Banjar, Sulawesi Selatan, dan Ternate. Dari Ternate menyebar ke Buton dan Sulawesi Tengah. Dan dari Sulawesi Selatan dakwah Islam menyebar ke Kutai di Kalimantan Timur dan Bima di Nusa Tenggara.

Target Politik

Misi dakwah Islam ini memiliki target politik yang jelas, yakni menyiapkan berdirinya kesultanan-kesultanan yang akan menerapkan syariat Islam dan menggabungkannya dengan Khilafah Islam yang saat itu diperintah oleh para khalifah dari Bani Abbasiyah.
Penyiapannya dilakukan melalui dua jalur. Jalur pertama, menyiapkan rakyat kerajaan dengan memunculkan kesadaran Islam pada diri mereka. Jalur kedua, menyiapkan pemilik kekuatan riil di kerajaan tersebut dengan mendakwahkan Islam kepada mereka dan membantu mereka dalam metode dan strategi agar mereka mampu menerapkan Syariat Islam dengan baik. Dalam sistem kerajaan Hindu-Budha, pemilik kekuatan riil adalah raja dan para pangeran, karena kekuatan militer berada langsung di bawah mereka.

Dakwah Poros Negara

Dakwah tidak lagi hanya dilakukan oleh para pedagang, tetapi dilakukan Daulah Islamiyah yang didukung oleh kesultanan-kesultanan di seluruh penjuru wilayah Daulah Khilafah. Dukungan ini dilakukan dengan mengirimkan para ulama terkemukanya untuk diutus berdakwah ke nusantara. Poros Kekuasaan Islam ini nampak jelas seperti dalam misi dakwah Islam ke Pulau Jawa. Pada tahun 808 H (1404 M) berangkatlah Sembilan da`i ulama dari berbagai tempat di wilayah daulah Khilafah atas sponsor Sultan Muhammad Jalabi dari Kesultanan Turki Utsmani ke tanah Jawa melalui Kesultanan Samudra Pasai. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghribi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, Muhammad Maulana Ali Akbar dan Syekh Subakir dari Persia.
Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra-Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati). Gelar sunan berasal dari kata susuhunan yang berarti “yang dijunjung tinggi” atau “panutan masyarakat setempat”.

Dakwah Wali Songo di Pulau Jawa 1436 M

Misi dakwah Islam ke Tanah Jawa ini terorganisir dengan rapi dengan pembagian tugas dan wilayah yang jelas. Pada sidang tahun 1436 M yang diadakan di Ampel, Surabaya, kelompok dakwah ini membagi tugas dakwah menjadi sembilan pengurus atau wali: Sunan Ampel (Raden Rahmat), Maulana Ishaq dan Maulana Jumadil Kubro mengurus Jawa Timur; Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Maulana al-Maghribi mengurus Jawa Tengah; sedang Syarif Hidayatullah, Maulana Hasanuddin, dan Maulana Aliyuddin mengurus Jawa Barat.

Misi dakwah ini dikenal dengan nama misi dakwah Wali Songo dengan pucuk pimpinan dipegang Sunan Ampel yang memiliki akses paling dekat dan kuat dengan pemegang kekuasaan Kerajaan Majapahit saat itu, yakni sebagai keponakan Prabu Brawijaya Kertabumi.

Untuk menambah kekuatan SDM, masing-masing wali mencetak kader-kader da`i melalui proses belajar mengajar dalam halqah-halqah dan memberi tugas untuk berdakwah di daerah tertentu hingga satu orang da`i membawahi wilayah setingkat kecamatan. Sunan Ampel misalnya, yang bertanggung jawab untuk kawasan Surabaya hingga pusat Kerajaan Majapahit di Mojokerto mengkader Abu Hurairah menjadi Sunan Kapasan yang membawahi kecamatan Kapasan di Surabaya. Dengan cara ini jumlah da`i semakin banyak khususnya dari kalangan penduduk dan penguasa setempat.
Mulai tahun 1463 M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu Putri Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan, Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban, Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qasim (Sunan Drajad) dua putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit. Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit, sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Berdirinya Negara Islam Demak 1478M.

Akhirnya setelah berjuang 75 tahun, target politik dakwah Wali Songo pun tercapai. Berdirilah kesultanan Islam pertama di Jawa, yakni Kesultanan Demak pada tahun 1478 M dengan Raden Hasan al-Fattah sebagai sultan pertama. Raden Hasan yang bernama asli Jin Bun adalah putra Prabu Brawijaya Kertabhumi Raja Majapahit terakhir dengan Dewi Kian seorang putri Cina. Saat itu Majapahit telah runtuh akibat serangan Prabu Girindrawardana dari Kediri, sehingga sebagai Pangeran Majapahit, Raden Hasan adalah pemegang kekuasaan sah atas bekas wilayah Majapahit.

Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten

Sementara itu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang wali yang bertanggung jawab untuk kawasan Jawa Barat, dengan strategi yang sangat jitu berhasil mendirikan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten, serta menjalin hubungan dengan Kekaisaran Cina. Syarif Hidayatullah adalah cucu Raja Siliwangi Raja Hindu terakhir di Pajajaran Bogor dari Putri Rarasantang yang menikah dengan Penguasa Mesir, Sultan Syarif Abdullah. Bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang putra Raja Siliwangi, Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Cirebon. Selanjutnya beliau mendirikan Kesultanan Banten bersama Pangeran Sebakingking dan Fatahilah atau Fadhilah Khan (Wong Agung Pasai). Kesultanan Banten dipimpin oleh Pangeran Sebakingking yang bergelar Sultan Maulana Hasanuddin putra Syarif Hidayatullah dari Nyi Kawungen putri Adipati Banten. Sehingga dua kesultanan ini dipimpin oleh para ahlul quwwah yakni para pangeran dari bekas Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Pajajaran sendiri kemudian berangsur redup dan akhirnya tergantikan oleh kekuasaan Islam.

Demikianlah, karena pertolongan Allah semata, dakwah Islam di tanah Jawa berlangsung dengan damai. Raja terakhir Majapahit, Raja Brawijaya Kertabhumi misalnya, setelah mendapat penjelasan dari Sunan Ampel dan Sunan Giri tentang Islam, dia berkata, “Maksud agama Islam dan Budha adalah sama, yang berbeda adalah cara ibadahnya. Karena itu saya tidak melarang rakyat saya memeluk agama baru ini, asal dilakukan dengan penuh kesadaran dan keyakinan, tanpa paksa. Adapun mengenai diri saya sendiri, mungkin kelak saya akan memeluknya…”.

Begitu pula Prabu Siliwangi, Raja Hindu terakhir Pajajaran. Walaupun keduanya menolak masuk Islam, namun mereka membiarkan rakyat, pangeran dan panglima perang mereka memeluk Islam. Kondisi inilah yang menyebabkan Islam masuk ke tanah Jawa dan pulau-pulau lain di nusantara dengan damai dan tidak memerlukan pengiriman pasukan Jihad. Subhanallah!

Majelis Syura Para Sultan

Fungsi para wali yang dipimpin Sunan Ampel yang setelah wafat dipegang oleh Sunan Giri ini, selain mengangkat para sultan di tanah Jawa, adalah layaknya Majelis Syura bagi sang Sultan. Para wali memberi arahan-arahan strategis kepada para sultan dalam melaksanakan syariat Islam, baik dalam politik ketatanegaraan Islam, pengajaran Islam kepada warga negaranya, hubungan dengan Kesultanan Samudra-Pasai, maupun hubungan dengan negara tetangga mereka: Majapahit, Pajajaran, Blambangan, dan Kekaisaran Cina.

  1. 2 Februari 2010 pukul 11:35

    artikelnya top banget !!!

  2. Choirun Niza
    2 Februari 2010 pukul 23:27

    “Mantab Kang….setuju….karena Islam sudah ada sejak Nabi Adam. Adanya Rasulullah SAW diutus di Arab, alasan yang utama adalah kehidupan di tanah sekitar situ yang benar2 jauh dari peradaban (dikenal jahiliyah). Sedang di negara kita kultur kehidupan secara turun-menurun dalam sejarah sungguh mengenal tatanan dan orang2nya berusaha mencari nilai ketauhidan.

    Termasuk sejarah dataran cina, jepang atau Indonesia dan sekitarnya masih mengenal tatanan kehidupan untuk kedamaian. Dan ajaran2 itu akhirnya lebih terperinci dan lengkap tentu setelah kedatanngan Rasulullah SAW. Dalam sejarah, bumi dulu itu menghijau permukaannya apalagi di daerah tropis (terlintasi garis khatulistiwa)…termasuk gurun2 di padang pasir…bisa menjadi seperti itu, mungkin karena murka Allah atas perbuatan makhluk2nya yang jauh dari menyembah Allah.

    Sementara Indonesia, sejak dulu kala adalah tempat paling kaya akan flora dan fauna, ibarat manifestasi surga di dunia. Ini membuktikan bahwa sejak dulu kala pula orang2 Indonesia sudah mempunyai nilai2 keIslaman sehingga dilindungi Allah, dan disempurnakan dengan kedatangan Rasulullah SAW.

    Menguasai hingga mendalam semua Ilmu Pengetahuan memang tidak mudah…Wali songo adalah contoh kesolidan kerja sama dalam berdakwah. Mereka ibarat penyusun bangunan rumah. Meski tidak hidup persis dalam satu zaman, tapi tiap2 wali mempunyai keahlian masing yang saling melengkapi dan menjadi teladan yang baik.

    Artikel yang menarik Kang….serasa di ajak kembali ke zaman dongeng kerajaan…hehehe….jadi pingin menemukan seorang Pangeran Berkuda Putih yang bisa terbang…bwahahaha….”

  3. iman man
    6 Agustus 2010 pukul 16:57

    duh makasih ilmu’y. ini sejarah yg sangat luar biasa.

  4. khairullah
    11 Desember 2010 pukul 15:45

    emang luar biasa…. tapi saya belom tau persis tentang perdepbatan-perdebatan sekarang tentang ” dimana kah Islam pertama masuk di Indonesia”..
    di Aceh aja ada dua persi, antara peureulak dan Pase. belum lagi di pulau jawa..
    kalau bisa tolong saudara jelaskan dengan detil sejarahnya tentang ini. tnks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: