Beranda > Islam, Masalah Fiqih, Tak Berkategori > Pengertian Tawassul dan Istighotsah

Pengertian Tawassul dan Istighotsah


Bismillahirrahmanirrahim, Allohumma       sholli ‘alaa sayyidinaa   Muhammadin wa’alaa   alihii   washohbihii ajma’in,   ‘amma     ba’du

 Dengan   memohon   Rahmat-Nya,     Saya   coba   mengajak kepada  semua   saudara2   ku semua yang di Rahmati Allah SWT,   untuk   mengkaji   ilmu tentang  legalitas “Tawassul / Istighatsah”   yang        sesuai dengan ajaran syariat Islam agar kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek Tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang ke-jumud-an dalam menentukan obyek Tawassul / Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

Hakekat “Tawassul” merupakan hal yang telah menjadikan kejelasan dalam Islam. Al-Quran sebagai sumber utama agama Islam dalam sebuah ayatnya menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35). Dalam ayat tadi Allah SWT menjelaskan bahwa ketakwaan dan jihad merupakan sarana legal untuk menyampaikan manusia kepada Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan adalah; adakah sarana-sarana lain yang legal menurut syariat Islam yang mampu menghantarkan manusia menuju Allah SWT, ataukah dalam penentuan sarana-sarana tadi telah sepenuhnya diserahkan kepada manusia?. Untuk menjawab secara ringkas maka dapat kita katakana bahwa; jelas sekali bahwa penentuan sarana pendekatan diri kepada Allah SWT tidak terdapat campur tangan manusia sehingga dengan ijtihad pribadinya dapat menentukan sarana-sarana apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya sarana-sarana yang telah ditentukan oleh syariat Islam –yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah as-Sohihah Rasulullah SAW- saja yang dapat menjadi penghantar manusia menuju Allah SWT. Sehingga dari sini dapat kita simpulkan bahwa, semua sarana yang tidak mendapat legalitas syariat –baik dengan dalil umum maupun khusus- maka tergolong bid’ah dan kesesatan yang nyata. Dalam kesempatan kali ini, kita akan memasuki kajian legalitas “Tawassul/Istighatsah” sesuai dengan ajaran syariat Islam, baik dari apa yang telah dijelaskan oleh al-Quran, Sunnah Rasulullah maupun prilaku para Salaf Saleh dan Ulama Salaf Ahlusunnah wal Jamaah. Sehingga kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang kejumudan dalam menentukan obyek Tawassul/Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

Jika kita melihat beberapa kamus bahasa Arab yang sering dijadikan rujukan dalam menentukan asal dan makna kata maka akan kita dapati bahwa, kata “Tawassul” mempunyai arti dari ‘darajah’ (kedudukan), atau ‘Qurbah’ (kedekatan), atau ‘washlah’ (penyampai/penghubung). Sehingga sewaktu dikatakan bahwa ‘wasala fulan ilallah wasilatan idza ‘amala ‘amalan taqarraba bihi ilaihi’ berarti ‘seseorang telah menjadikan sarana penghubung kepada Allah melalui suatu pebuatan sewaktu melakukan pebuatan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya’. (Lihat: Kitab Lisan al-‘Arab karya Ibn Mandzur jilid 11 asal kata wa-sa-la). Begitu juga berkaitan dengan asal kata ‘ghatsa’ yang berarti ‘menolong’ yang dengan memakai bentuk (wazan) ‘istaf’ala’ yang kemudian menjadi ‘istighatsah’ yang berarti ‘mencari/meminta pertolongan’. Pengertian-pengertian semacam ini pun akan kita dapati dalam berbagai kamus-kamus bahasa Arab terkemuka lainnya.

Berkaitan dengan konsep Tawassul dan Istighatsah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan beberapa kelompok. Letak perbedaannya dalam masalah penentuan obyek-obyek tawassul dan istighatsah yang dilegalkan oleh syariat Islam. Dikarenakan terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan obyek maka terjadi ikhtilah juga dalam menghukuminya. Dari perbedaan hukum tadilah akhirnya muncul ‘penyesatan’ dari kelompok yang belum dewasa dalam menerima perbedaan, merasa benar sendiri, tidak menganggap pendapat kelompok lain, bahkan menganggap kelompok lain tadi telah berbuat yang dilarang oleh Islam, bid’ah atau syirik.

Di sini, kita akan mengkalasifikasikan pendapat-pendapat tersebut menjadi tiga bagian:
Pertama: Pendapat Sekte Wahabisme
Dalam hal ini, kita akan menukilkan pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pelopor dan pendiri sekte Wahabisme) yang dalam kita “Kasyfus Syubuhaat” menyatakan: “Jika ada sebagian orang musyrik (muslim non-Wahaby .red) mengatakan kepadamu; “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Yunus: 62)”, atau mengatakan bahwa syafa’at adalah benar, atau mengatakan bahwa para nabi memiliki edudukan di sisi Allah, atau mengungkapkan perkataan Nabi untuk berargumen menetapkan kebatilannya (seperti Syafa’at, Tawassul/Istighatsah, Tabarruk…dst. Red) sedang kalian tidak memahaminya (tidak bisa menjawabnya) maka katakanlah: Sesungguhnya Allah dalam al-Quran menjelaskan bahwa orang-orang yang menyimpang adalah orang yang meninggalkan ayat-ayat yang jelas (muhkam) dan mengikuti yang samar (mutasyabih)”. (Lihat: Kitab Kasyfus Syubuhaat halaman 60). Di sini jelas sekali bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan ‘sesat’ (bahkan menuduh musyrik) orang-orang yang meyakini adanya syafaat, kedudukan tinggi para nabi di sisi Allah sehingga dimintai istighatsah/tawassul…dst. Bahkan di sini, Muhammad bin Abdul Wahhab mengajarkan kepada para pengikutnya “trik melarikan diri” dari diskusi tentang doktrinan sektenya dengan kelompok lain dengan cara melarikannya kepada pembagian tasyabuh dan muhkam ayat-ayat al-Quran. Termasuk trik mengajak para pengkritisi ajaran Wahabisme untuk bertobat ‘tanpa terbukti’ kesalahannya. Ternyata, akhirnya ‘trik-trik licik’ ini pun yang sering dipakai banyak para pengikut sekte Wahaby ketika terpepet dalam berargumentasi ketika membela keyakinan wahabismenya, bahkan menjadi ‘kebiasaan buruk’ mayoritas para pengikut sekte tersebut.

Contoh lain. Nashiruddin al-Bani -yang konon- adalah seorang ahli hadis dari kalangan Wahaby pun pernah menyatakan dalam salah satu karyanya yang berjudul “at-Tawassul; Ahkaamuhu wa Anwa’uhu” (Tawassul; hukum-hukum dan jenis-jenisnya) begitu juga dalam mukaddimahnya atas kitab “Syarh at-Thawiyah” (Lihat: di halaman 60 dari kitab Syarh Thahawiyah) dia mentakan bahwa; “Sesungguhnya masalah tawassul bukanlah tergolong masalah akidah”.

Dan contoh lainnya adalah apa yang dinyatakan oleh Abdullah bin Baz seorang mufti Wahaby: “Barangsiapa yang meminta (istighatsah/tawassul) kepada Nabi dan meminta syafaat darinya maka ia telah merusak keislamannya” (Lihat: Kitab Al-‘Aqidah as-Shohihah wa Nawaqidh al-Islam).

 

Kedua: Pendapat Ahlusunnah wal Jamaah (bahkan Islam secara keseluruhan).

Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah ini. Insya-Allah pada kesempatan selanjutnya akan lebih kita perjelas mengenai ungkapan-ungkapan mereka. Namu di sini kita akan memberikan contoh beberapa tokoh dari mereka saja:

  1. Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas endatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)
  2. As-Samhudi yang bermazhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi SAW .red) dengan meminta pertolongan berkaitan suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasul memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafaatnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan doanya. Walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala seseorang meminta; aku memohon kepadamu (wahai Rasul .red) untuk dapat menemanimu di sorga…tiada yang dikehendakinya malainkan bahwa Nabi SAW menjadi sebab dan pemberi syafaat” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374).
  3. As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah melalui para nabi dan manusia saleh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37).
  4.  Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh mazhab Hambali pernah menyatakan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Jakfar (salah seorang cucu Rasulullah yang dianggap salah seorang Imam oleh Syiah .Red) dan aku bertawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagaimana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).

 

Ketiga: Pendapat Ibnu Taimiyah al-Harrani
Jika kita telaah beberapa karya Ibnu Taimiyah maka akan kita dapati bahwa ia telah mengalami kebingungan dalam menentukan masalah ini. Kita akan dapati bahwa terkadang ia mengingkarinya, terjadang membolehkannya, dan terkadang menjawabnya dengan membagi-baginya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat apa yang telah ditulisnya dalam salah satu kitab yang berjudul “At-Tawassul wal Wasilah” dimana ia membagi Tawassul menadi tiga kategori, ia mengatakan:

  1. Tawassul dengan ketaatan Nabi dan keimanan kepadanya. Ini tergolong asal muasal Iman dan Islam. barangsiapa yang mengingkarinya berarti telah mengingkarinya (kufur) terhadap hal yang umum dan yang khusus.

 

2.  Tawassul dengan doa dan syafa’at Nabi.dalam arti bahwa Nabi secara langsung dapat memberi syafaat dan mendengar doa- semasa hidupnya dan sehingga di akherat kelak mereka akan bertawassul kepadanya untuk mendapat syafaatnya. Barangsiapa yang mengingkari hal tersebut maka dia tergolong kafir murtad dan harus dimintai tobatnya. Jika tidak tobat maka ia harus dibunuh karena kemurtadannya.

3.   Tawassul untuk mendapat syafaatnya pasca kematiannya. Sungguh ini merupakan bid’ah yang dibuat-buat. (Lihat; Kitab At-Tawassul wal Wasilah karya Ibnu Taimiyah halaman 13/20/50)
Jadi jelaslah bahwa Ibnu Taimiyahpun tergolong orang yang tidak mengingkari legalitas tawassul, walaupun dalam beberapa hal ia nampak rancu dalam menentukan sikapnya. Dari penjelasan di atas tadi membuktikan bahwa, pengkategorian bid’ah dalam tawassul versi Ibnu Taimiyah terletak pada hidup dan matinya obyek yang ditawassuli. Benarkah demikian? Kita akan buktikan -nanti- bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah itu tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.
Yang perlu saya perjelas dari ungkapan saya di atas berkaitan dengan pendapat kedua “Islam secara keseluruhan” melegalkan konsep dan praktik Tawassul/Istighatsah kepada Nabi dan orang-orang saleh adalah, bukan hanya Ahlusunnah wal Jamaah saja (termasuk ahli tasawwuf), bahkan kelompok Syiah pun meyakininya. Jadi Sufi dan Syiah kedua kelompok yang paling dibenci oleh kaum Wahhaby pun memiliki kesamaan –juga dalam banyak hal yang dituduhkan Wahaby terhadap Ahlusunnah- dengan kelompok Ahlusunnah. Jadi dalam masalah ini –terkhusus masalah Tawassul/Istighatsah, juga masalah-masalah lain yang dinyatakan syirik dan bid’ah oleh sekte Wahaby- ternyata kelompok Salafy gadungan itu (Wahaby) sendirian, selain karena mereka juga tidak memiliki dalil yang kuat baik bersandarkan dari al-Quran, sunnah Rasul, dan perilaku Salaf Saleh. Dengan kata yang lebih singkat dan mengena.

Ayat – Ayat al-Quran tentang Legalitas Tawassul / Istighotsah.

Sekarang yang menjadi pertanyaan kita untuk kaum pengikut sekte Wahhaby adalah; Jikalau istighotsah adalah syirik, lantas apakah mungkin para nabi-nabi Allah tadi membiarkan umat mereka melakukan syirik padahal mereka di utus untuk menumpas segala macam bentuk syirik? Jikalau istighotsah dan tawassul syirik, apakah mungkin mereka mengiyakan permintaan kaum musyrik yang justru akan menyebabkan mereka berlebihan dalam melakukan kesyirikan, berarti para nabi itu telah melakukan tolong menolong terhadap dosa dan permusuhan (ta’awun ‘alal istmi wal ‘udwan)? Naudzubillah min dzalik. Jika istighotsah dan tawassul adalah perbuatan sia-sia maka, apakah mungkin para nabi membiarkan –bahkan meridhoi dan mengajarkan- umat mereka melakukan perbuatan sia-sia dimana kita tahu bahwa pebuatan sia-sia adalah perbuatan yang tercela bagi makhluk yang berakal? Apakah para nabi tidak tahu bahwa Allah Maha mendengar dan lagi Maha mengetahui sehingga membiarkan, meridhoi dan bahkan mengajarkan umatnya ajaran tawassul dan istighotsah?

Setelah kita melihat secara ringkas pembagian pendapat beberapa kelompok berkaitan dengan legalitas Tawassul / istighotsah, pada kesempatan kali ini kita akan mengkaji secara global ayat-ayat al-Quran -yang menjadi pedoman utama kaum muslimin- yang menjelaskan tentang konsep tersebut.

Dalam pandangan al-Quran akan kita dapati bahwa hakekat Istighotsah / Tawassul adalah merupakan salah satu pewujudan dari peribadatan yang legal dalam syariat Allah SWT. Ini merupakan hal yang jelas dalam ajaran al-Quran sehingga tidak mungkin dapat dipungkiri oleh muslim manapun, hatta kalompok Wahhaby, jika mereka masih mempercayai kebenaran al-Quran. Dalam al-Quran akan kita dapati beberapa contoh dari permohonan pertolongan (istighotsah) dan pengambilan sarana (tawassul) para pengikut setia para nabi dan kekasih Ilahi yang berguna untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal itu agar supaya Allah SWT mengabulkan doa dan hajatnya dengan segera. Di sini kita akan memberi beberapa contoh yang ada:  

  1. Dalam surat Aali Imran ayat 49, Allah SWT berfirman: “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang Berkata kepada mereka): “Sesungguhnya Aku Telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan Aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”. Dalam ayat di atas disebutkan bahwa para pengkut Isa al-Masih bertawassul kepadanya untuk memenuhi hajat mereka, termasuk menghidupkan orang mati, menyembuhkan yang berpenyakit sopak dan buta. Tentu, mereka bertawassul kepada nabi Allah tadi bukan karena mereka meyakini bahwa Isa al-Masih memiliki kekuatan dan kemampuan secara independent dari kekuatan dan kemampuan Maha Sempurna Allah SWT, sehingga tanpa bantuan Allah-pun Isa mampu melakukan semua hal tadi. Mereka meyakini bahwa Isa al-Masih dapat melakukan semua itu (memenuhi berbagai hajat mereka) karena Isa memiliki ‘kedudukan khusus’ (jah / wajih) di sisi Allah, sebagai kekasih Allah, sehingga apa yang diinginkan olehnya niscaya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Ini bukanlah tergolong syirik, karena syirik adalah; “meyakini kekuatan dan kemampuan Isa al-Masih (makhluk Allah) secara independent dari kekuatan dan kemampuan Allah”. Dan tentu, muslimin sejati tidak akan meyakini hal tersebut. Namun aneh jika kelompok Wahhaby langsung menvonis musyrik bagi pelaku istighotsah kepada para kekasih Ilahi semacam itu.
  2. Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah SWT berfirman: “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)””. Jika kita teliti dari ayat di atas maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Yakqub mereka tidak meminta pengampunan dari Yakqub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah SWT. Dan ternyata, nabi Yakqub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah SWT karena Allah Maha mendengarkan segala permohonan dan doa, malahan Yakqub menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan: “Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang””(QS Yusuf: 98).
  3. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah SAW sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki kedudukan (jah / maqom / wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah SWT. Dan terbukti (nanti kita akan perjelas dalam kajian mendatang) bahwa banyak dari para sahabat mulia Rasul yang tergolong Salaf Saleh menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memohon ampun kepada Allah SWT melalui perantara Rasulullah SAW. Hal ini yang menjadi kajian para penulis Ahlusunnah wal Jamaah dalam mengkritisi ajaran Wahhabisme, termasuk orang seperti Umar Abdus Salam dalam karyanya “Mukhalafatul Wahhabiyah” (Lihat: halaman 22).
Sekarang yang menjadi pertanyaan kita untuk kaum pengikut sekte Wahhaby adalah; Jikalau istighotsah adalah syirik, lantas apakah mungkin para nabi-nabi Allah tadi membiarkan umat mereka melakukan syirik padahal mereka di utus untuk menumpas segala macam bentuk syirik? Jikalau istighotsah dan tawassul syirik, apakah mungkin mereka mengiyakan permintaan kaum musyrik yang justru akan menyebabkan mereka berlebihan dalam melakukan kesyirikan, berarti para nabi itu telah melakukan tolong menolong terhadap dosa dan permusuhan (ta’awun ‘alal istmi wal ‘udwan)? Naudzubillah min dzalik. Jika istighotsah dan tawassul adalah perbuatan sia-sia maka, apakah mungkin para nabi membiarkan –bahkan meridhoi dan mengajarkan- umat mereka melakukan perbuatan sia-sia dimana kita tahu bahwa pebuatan sia-sia adalah perbuatan yang tercela bagi makhluk yang berakal? Apakah para nabi tidak tahu bahwa Allah Maha mendengar dan lagi Maha mengetahui sehingga membiarkan, meridhoi dan bahkan mengajarkan umatnya ajaran tawassul dan istighotsah?

Jikalau benar bahwa ajaran Istighotsah / tawassul adalah perbuatan syirik, bid’ah, sia-sia, khurafat, akibat tidak mengenal Allah yang Maha mendengar doa, dst….maka Oh betapa bodohnya –naudzuillah min dzalik- para nabi Allah itu tentang konsep ajaran Allah…dan Oh betapa cardasnya –naudzubillah min dzalik- Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi beserta para pengikut sektenya terhadap ajaran murni Ilahi.

Oleh karena itu wahai saudara-saudaraku muslimin, marilah kita simak kebodohan-kebodohan Wahhaby tentang berbagai ajaran Ilahi berdasarkan ayat-ayat al-Quran, as-Sunnah Rasulillah, prilaku Salaf Saleh dan fatwa para pemuka mazhab Ahlusunnah, walaupun para pengikut Wahhaby tetap merasa benar sendiri dengan bekal kecongkakan dan kebodohannya.

Jika ada kelompok muslim yang membolehkan menjadikan ‘doa’ manusia saleh sebagai sarana (wasilah) menuju ridho Allah maka menjadikan sarana (wasilah) kepribadian (dzat / syakhsyiyah) dan kedudukan (jah / maqom / manzilah / karamah / fadhilah) manusia saleh tadi pun lebih utama untuk diperbolehkan. Karena antara ‘sarana pengkabulan doa’ dan ‘sarana kedudukan/kepribadian agung manusia saleh’ terdapat relasi erat dan menjadio konsekuensi logis, riil dan legal (syar’i). Memisahkan antara keduanya sama halnya memisahkan dua hal yang memiliki relasi erat, bahkan sampai pada derajat hubungan sebab-akibat. Karena, pengkabulan doa manusia saleh oleh Allah disebabkan karena kepribadiannya yang luhur, dan kepribadian luhur itulah yang menyebabkan kedudukan mereka diangkat oleh Allah SWT.

Dalam al-Quran, Allah SWT telah menekankan kepada umat Muhammad SAW untuk melaksanakan tawassul, dan Ia telah mengizinkan mereka untuk melakukan tawassul dengan berbagai jenis dan bentuknya. Ini semua menjadi bukti bahwa tawassul sama sekali tidak bertentangan dengan konsep kesempurnaan Ilahi, termasuk dengan ke-Maha Mendengar-an dan ke-Maha Mengetahui-an Allah terhadap doa hamba-hamba-Nya, apalagi dengan kesia-siaan perbuatan tawassul. Di sini, kita akan sebutkan secara ringkas beberapa bentuk tawassul yang dilegalkan menurut al-Quran.

Tawassul dengan Nama-Nama Agung Allah
Allah SWT berfirman: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS al-A’raf: 180).

Ayat di atas dalam rangka menjelaskan tentang kebaikan nama-nama Allah tanpa ada perbedaan dari nama-nama itu. Dan melalui nama-nama penuh berkah itulah kita diperkenankan untuk berdoa kepada Allah. Tentu nama Allah bukan Dzat Allah sendiri. Akan tetapi melalui nama-nama Allah yang memiliki kandungan sifat keindahan, rahmat, ampunan dan keagungan itulah kita disuruh memohon kepada Dzat Allah SWT, obyek utama doa, untuk pengkabulan segala hajat dan pengampunan dosa.

Tawassul melalui Amal Saleh
Amal saleh merupakan salah satu jenis sarana (wasilah) yang dilegalkan oleh Allah SWT. Amal saleh juga bukan Dzat Allah itu sendiri, namun Allah membolehkan kita mengambil sarana darinya untuk memohon sesuatu kepada Dzat Allah SWT. Melalui sarana tersebut seorang hamba akan didengar semua keinginannya oleh Allah. Ketika tawassul berarti; “Mempersembahkan (menyodorkan) sesuatu kepada Allah demi untuk mendapat Ridho-Nya” maka tanpa diragukan lagi bahwa amal saleh adalah salah satu dari sekian sarana yang baik untuk mendapat ridho Ilahi. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika pertama kali membangun Ka’bah. Allah dalam al-Quran berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS al-Baqarah 127-128).

Ayat di atas menjelaskan bagaimana hubungan antara Amal Saleh (pembangunan Ka’bah) dengan keinginan Ibrahim al-Khalil agar Allah menjadikan dirinya, anak-cucunya sebagai muslim sejati dan agar Allah menerima taubatnya.

Tawassul melalui Doa Rasul
Allah SWT dalam al-Quran (dalam banyak ayat) menyebutkan betapa agung kedudukan para Nabi dan Rasul di sisi-Nya. Allah SWT juga menekankan bahwa mereka adalah manusia-manusia khusus yang berbeda secara kualitas maupun kuantatitas bobot penciptaan yang mereka miliki dibanding manusia biasa, apalagi berkaitan dengan pribadi agung Muhammad bin Abdillah SAW sebagai penghulu para Nabi dan Rasul. Atas dasar itu, jika kita lihat, dalam masalah seruan (panggilan) saja –yang nampaknya remeh- para manusia diperintah untuk menyamakannya dengan seruan terhadap manusia biasa lainnya. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS an-Nur: 63).

Bahkan dalam kesempatan lain Allah SWT juga menjelaskan, betapa manusia agung pemilik kedudukan (jah) tinggi di sisi Allah SWT itu telah mampu menjadi pengaman bagi penghuni bumi ini dari berbagai bencana. Allah SWT berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS al-Anfal: 33).

Bahkan dalam banyak kesempatan (ayat), Allah SWT menyandingkan nama-Nya dengan nama Rasulullah SAW dan menyatakan bahwa perbuatan keduanya dinyatakan sebagai berasal dari sumber yang satu. Ini sebagai bukti, betapa tinngi, agung dan mulianya sosok Nabi Muhammad SAW di mata Allah SWT. Sebagai contoh, apa yang dinyatakan Allah SWT dalam al-Quran yang berbunyi: “Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘uzurnya kepadamu, apabila kamu Telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: “Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) Sesungguhnya Allah Telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. dan Allah serta rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, Kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah: 94). Atau ayat yang berbunyi: “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka Telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan Telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali Karena Allah dan rasul-Nya Telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi” (QS at-Taubah: 74) dan masih banyak ayat lainnya yang menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW adalah makhluk termulia dan memiliki kedudukan khusus di sisi Khaliknya.

Jika kita telah mengetahui kedudukan tinggi Rasul semacam ini maka kita akan mendapat kepastian (tentu dengan berdasar dalil) bahwa permohonan doa –tentu doa yang baik- dengan menjadikan Rasul sebagai sarana (wasilah) niscaya Allah SWT akan enggan menolak permintaan kita dengan membawa nama kekasih-Nya tersebut. Dengan menyebut nama Rasulullah Muhammad bin Abdullah SAW maka kita telah menyeru Allah SWT dengan berpegangan terhadap tonggak yang sangat kokoh yang tidak akan tergoyahkan. Atas dasar itu, Allah SWT memerintahkan kepada para pelaku dosa dari kaum muslimin untuk berpegangan dengan tonngak yang tak tergoyahkan tersebut (hakekat Muhammad Rasulullah SAW) dan meminta pengampunan di setiap majlis mereka, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Karena melalui permohonan ampun melalui hakekat pribadi Muhammad SAW adalah kunci dari penyebab turunnya rahmat, pengampunan dan ridho Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa’: 64). Ayat tadi dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah SWT: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri” (QS al-Munafiqqun: 5).

Semua itu sebagai sedikit bukti bahwa Rasulullah SAW memiliki kedudukan, kemualiaan dan keagungan di mata Allah SWT, Pencipta dan Penguasa alam semesta. Hakekat tersembunyi dari pribadi agung Muhammad semacam ini hanya akan bisa dipahami dan diyakini dengan baik oleh pribadi-pribadi yang mengenal betul siapakah gerangan Muhammad bin Abdillah SAW tadi. Bagi orang yang belum mengenal diri baginda Rasul niscaya ia akan meragukannya, karena masih mengaggap Rasul sebagai manusia biasa, selayaknya manusia biasa lainnya. Anggapan kerdil semacam inilah yang menyebabkan beberapa pengikut sekte Wahaby terjerumus ke lembah penyesatan kelompok lain yang mengetahui rahasia keagungan Rasul sewaktu mereka memuji Rasulullah SAW dengan pujian-pujian yang bersumber dari al-Quran dan Hadis sahih, baik pujian yang terjelma dalam kitab-kitab maulid maupun kitab-kitab ratib. Rahasia hakekat Muhammad –dan nabi-nabi lain- ini pulalah yang akan kita jadikan dalil “Legalitas Tawassul kepada Pribadi Agung yang secara Zahir telah Meninggal”, pada kesempatan mendatang.

Tawassul melalui Doa Saudara Mukmin
Salah satu sarana lain yang disinggung oleh Allah SWT dalam al-Quran adalah, doa saudara mukmin. Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”” (QS al-Hasyr: 10). Ayat di atas menjelaskan bahwa kaum mukmin yang datang terakhir telah mendoakan untuk mendapat pengampunan bagi kaum mukmin yang terdahulu. Ayat ini selain membuktikan bahwa doa kepada orang terdahulu sangat ditekankan oleh Islam, juga bisa menjadi bukti global bahwa memberi hadiah doa kepada yang telah mati –walau bukan anak serta famili (kerabat)- akan dapat sampai dan bermanfaat buat sang mayit di alam sana.

Tawassul melalui Diri Para Nabi dan Hamba Saleh
Bagian dari tawassul ini berbeda dengan bagian sebelumnya (lihat no 3). Jika pada kesempatan yang lalu disebutkan mengenai tawassul melalui doa Nabi maka pada kesempatan kali ini kita diberitahukan tentang tawassul kepada diri dan pribadi Nabi agar menjadi sarana pengkabulan doa, karena mereka memiliki kedudukan (jah) di sisi Allah SWT. Sebagai contoh apa yang dilakukan nabi Ayyub dengan baju bekas dipakai (melekat di badan) oleh Yusuf sebagai sarana (wasilah) kesembuhannya dari kebutaan, berkat izin Allah SWT. Jelas sekali perbedaan antara tawassul melalui doa Nabi, dengan tawassul melalui diri Nabi.

Jadi, di sini kita diberitahukan tentang legalitas tawassul kepada Allah melalui keutamaan (fadhilah), kedudukan (jah), kemuliaan (karamah) dan keagungan (adzamah) pribadi Nabi/Rasul di sisi Allah SWT. Ini merupakan bentuk anugerah khusus (‘inayah khasshah) yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul, juga para kekasih-Nya yang lain. Jadi sarana (wasilah) yang dijanjikan Allah SWT itu diletakkan kepada pribadi para hamba Allah yang telah dimuliakan, diagungkan dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Hal itu sebagaimana Allah telah mengangkatnya ke pangkuan-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” (QS al-Insyirah: 4). Orang-orang semacam itu (manusia Saleh pengikut sejati Rasul), mereka adalah para pemiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, maka Allah SWT memerintahkan kepada segenap kaum muslimin lainnya untuk memuliakan dan menghormati mereka. Allah SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-A’raf: 157).

Jika kunci terkabulnya doa terdapat pada kepribadian dan kedudukan luhur di sisi Allah SWT yang dimiliki oleh setiap manusia Saleh tadi maka sudah menjadi hal yang utama jika mereka dijadikan sebagai sarana (wasilah) oleh segenap manusia muslim biasa untuk mendapat keridhoaan Allah. Sebagaimana doa mereka pun selalu didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Jika ada kelompok muslim yang membolehkan menjadikan ‘doa’ manusia saleh sebagai sarana (wasilah) menuju ridho Allah maka menjadikan sarana (wasilah) kepribadian (dzat / syakhsyiyah) dan kedudukan (jah / maqom / manzilah / karamah / fadhilah) manusia saleh tadi pun lebih utama untuk diperbolehkan. Karena antara ‘sarana pengkabulan doa’ dan ‘sarana kedudukan/kepribadian agung manusia saleh’ terdapat relasi erat dan menjadio konsekuensi logis, riil dan legal (syar’i). Memisahkan antara keduanya sama halnya memisahkan dua hal yang memiliki relasi erat, bahkan sampai pada derajat hubungan sebab-akibat. Karena, pengkabulan doa manusia saleh oleh Allah disebabkan karena kepribadiannya yang luhur, dan kepribadian luhur itulah yang menyebabkan kedudukan mereka diangkat oleh Allah SWT.

Tawassul jenis ini juga memiliki sandaran hadis yang diriwayatkan oleh para imam perawi hadis dari Ahlusunnah melalui jalur yang sahih. Untuk menyingkat waktu, bagi yang ingin menelaah lebih lanjut hadis-hadis tersebut, silahkan merujuknya dalam kitab-kitab hadis seperti;

  1. Musnad Imam Ahmad bin Hambal; jilid: 4 halaman: 138 hadis ke-16789
  2. Sunan Ibnu Majah; jilid: 1 halaman: 441 hadis ke-1385
  3. Sunan at-Turmudzi; jilid: 5 halaman: 531 dalam kitab ad-Da’awaat, bab 119 hadis ke-3578

 

Tawassul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Saleh
Disamping yang telah kita singgung pada bagian sebelumnya (no 5), jika kita telaah dari sejarah hidup para pendahulu dari kaum muslimin niscaya akan kita dapati bahwa mereka melegalkan tawassul dengan jalan ini, sesuai pemahaman mereka tentang syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mereka bertawassul melalui kedudukan dan kehormatan para manusia Saleh, dimana diyakini bahwa para manusia saleh tadi pun memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Manusia saleh yang dimaksud di sini adalah sebagaimana apa yang dikemukakan oleh Rasul kepada Muadz bin Jabal ini, Rasul bersabda: “Wahai Muadz, apakah engkau mengetahui apakah hak Allah kepada hamba-Nya?”. Muadz menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Lantas Rasul bersabda: “Sesunguhnya hak Allah kepada Hamba-Nya adalah hendaknya hamba-hamba-Nya itu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya terhadap apapun”. Agak beberapa lama, kembali Rasul bersabda: “Wahai Muadz!”, aku (Muadz) menjawab: “Ya wahai Rasul!?”. Rasul bertanya: “Adakah engkau tahu, apakah hak seorang hamba ketika telah melakukan hal tadi?”. aku (Muadz) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasul bersabda: “Ia tiada akan mengazabnya”. (Lihat: Sohih Muslim dengan syarh dari an-Nawawi jilid: 1 halaman: 230-232). Dari hadis tadi jelas bahwa maksud dari Saleh adalah setiap orang yang melakukan penghambaan penuh (ibadah) kepada Allah dan tidak melakukan penyekutuan terhadap Allah SWT. Dan dikarenakan tawassul (mengambil wasilah) bukanlah tergolong penyekutuan Allah –karena dilegalkan oleh Allah SWT- maka para pelaku tawassul pun bisa masuk kategori orang Saleh pula, jika ia melakukan peribadatan yang tulus dan tidak melakukan kesyirikan (penyekutuan Allah). Orang-orang saleh semacam itulah yang dinyatakan dalam al-Quran sebagai pemancar cahaya Ilahi yang dengannya mereka hidup di tengah-tengah manusia. Allah SWT berfirman: “Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan” (QS al-An’am: 122). Atau sebagaimana dalam firmah Allah SWT lainya; “Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hadid: 28). Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa, fungsi dan kekhususan cahaya adalah; “ia sendiri terang dan mampu menerangi obyek lain”. Begitu juga dengan manusia saleh yang mendapat otoritas pembawa pancaran Ilahi.

Dari sini jelas sekali bahwa al-Quran telah menun jukan kepada kita bahwa, para nabi dan manusia saleh dari hamba-hamba Allah –seperti peristiwa umat Isa al-Masih atau saudara-saudara Yusuf (anak-anak Yakqub)- telah melakukan tawassul. Dan al-Quran pun telah dengan jelas memberikan penjelasan tentang beberapa obyek tawassul. Tawassul tersebut bukan hanya sebatas berkaitan dengan doa para manusia kekasih Ilahi itu saja, bahkan pada pribadi para manusia kekasih Ilahi itu juga. Hal itu karena antara pribadi para kekasih Ilahi dengan bacaan doa mereka tidak dapat dipisahkan dan terjadi relasi (konsekuensi) yang sangat erat

Kejelasan-kejelasan semacam inilah yang tidak dapat dipungkiri oleh kaum muslimin manapun, terkhusus para pengikut sekte Wahabisme. Atas dasar itu, Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya “at-Tawassul wa al-Wasilah” dengan mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti; Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi, at-Thabrani, dan sebagainya telah melegalkan tawassul sesuai dengan hadis-hadis yang ada.

  1. 7 Juni 2010 pukul 12:27 | #1

    sangat menarik. boleh tahu sumber artikel ini?

  2. badrus
    27 Agustus 2010 pukul 09:28 | #3

    definisi tawasul itu apa? baik definisi secara lughowi maupun syar’i…
    mhn penjelasannya…

  3. ardi
    1 Oktober 2010 pukul 08:02 | #4

    Assalamu’alaykum.
    saya tadi niatnya mau nyari definisi tawassul, tapi saya melihat di artikel ini ada kata-kata “sekte wahabi”. kebetulan sy br baca ttg wahabi di situs muslim.or.id di situ dijelaskan bahwa wahabi bukanlah sebuah sekte, tapi mengikuti keyakinan ahlussunnah waljama’ah. silakan baca sendiri di situsnya.

  4. 26 Maret 2011 pukul 03:36 | #5

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Nampaknya penulis begitu menggebu-gebu dalam mencoba menjelaskan pengertian Tawassul dan Istighotsah sehingga harus nabrak sana sini dan semaraut dalam mengambil penukilan dalil, apa lagi dalam menukil pendapat/ fatwa ulama ulama sunnah yang disebutnya sekte Wahhabi/salafy. Apalagi menggelari ulama-ulama yang tidak sepaham sebagai ulama yang jumud, kaku dan memahami secara literlek saja dalil atau ayat Al-Qur’an, penulis mengatakan :”“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35).Yang menjadi pertanyaan adalah; adakah sarana-sarana lain yang legal menurut syariat Islam yang mampu menghantarkan manusia menuju Allah SWT, ataukah dalam penentuan sarana-sarana tadi telah sepenuhnya diserahkan kepada manusia?. Untuk menjawab secara ringkas maka dapat kita katakana bahwa; jelas sekali bahwa penentuan sarana pendekatan diri kepada Allah SWT tidak terdapat campur tangan manusia sehingga dengan ijtihad pribadinya dapat menentukan sarana-sarana apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya sarana-sarana yang telah ditentukan oleh syariat Islam –yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah as-Sohihah Rasulullah SAW- saja yang dapat menjadi penghantar manusia menuju Allah SWT. Sehingga dari sini dapat kita simpulkan bahwa, semua sarana yang tidak mendapat legalitas syariat –baik dengan dalil umum maupun khusus- maka tergolong bid’ah dan kesesatan yang nyata. Perkataan ini benar adanya tapi persoalannya perkataan itu apakah sesuai degan tingkah pola dalam mengaplikasikan ajaran syari’at islam?Apakah istighostsah dan tawassul yang kebanyakan dilakukan yang berpemahama sama dengan sama sesuai dgn apa yang dimaksudkan Al-Qur’an dan Assunnah? Atau sudah ittiba’ dgn Rasulullah? atau hanya mengambil wasilah sesuai dgn hawa nafsu anda, berikut saya jelaskan perinciannya versi yang anda sebut Wahabi/salafy agar ada amanah ilmiah yang jelas, bukan sepotong-sepotong sebagimana anda tulis, padahal sebenarnya merekalah Ahlussunnah Waljama’ah:
    Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua bentuk ibadah yang sangat dekat dengan keseharian manusia, khususnya hamba-hamba Allah yang shaleh dan dekat dengan-Nya. Merekalah orang-orang yang mampu merealisasikan penghambaan diri yang sebenarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, yang tersimpul dalam firman-Nya,

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

    “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Faaihah: 5).

    Imam Ibnu Katsir berkata, “(Mengamalkan kandungan ayat) ini adalah kesempurnaan taat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), bahkan (inti) agama Islam seluruhnya kembali kepada dua makna ini (beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya). Sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf. ‘Surat Al-Fatihah adalah rahasia (inti kandungan) Al-Quran dan rahasia (inti kandungan) Al-Fatihah adalah kalimat (ayat) ini.”[1]

    Termasuk bentuk doa dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ibadah agung, yang kita kenal dengan nama istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]

    Pengertian istigatsah dan perbedaannya dengan doa

    Menurut para ahli bahasa Arab, istigatsah termasuk dari jenis-jenis an-nida’ (panggilan/seruan), yang secara bahasa berarti: meminta kepada pihak yang diseru untuk menghilangkan kesulitan orang lain.[3]

    Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Istigatsah artinya meminta al-gauts yang berarti menghilangkan kesusahan, sama dengan (kata) al-istinshaar artinya meminta bantuan dan al-isti’aanah artinya meminta pertolongan.”[4]

    Ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

    إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لكم

    “(Ingatlah), ketika kalian beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9).

    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Artinya: kalian meminta pertolongan kepada-Nya dari musuh-musuh kalian (orang-orang kafir) dan berdoa kepada-Nya agar kalian mengalahkan mereka.”[5]

    Adapun perbedaan antara istigatsah dengan doa adalah bahwa istigatsah hanya dikhusukan pada permohonan dalam keadaan sulit dan susah, sedangkan doa bersifat lebih umum, karena bisa dilakukan dalam kondisi susah maupun kondisi lainnya. Oleh karena itu, semua bentuk istigatsah adalah temasuk doa, tapi tidak semua doa adalah istigatsah.[6]

    Dalil-dalil istigatsah dan hukumnya dalam Islam

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

    “Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)

    Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa Dialah (satu-satunya) yang diseru ketika (timbul) berbagai macam kesusahan, dan Dialah yang diharapkan (pertolongan-Nya) ketika (terjadi) berbagai macam malapetaka, sebagaimana firman-Nya,

    وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ

    “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, maka hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Allah.” (QS. Al-Isra’: 67).

    Juga firman-Nya,

    ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

    “Kemudian bila kamu ditimpa bencana, maka hanya kepada-Nyalah kamu memohon pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)[7]

    Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    “Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “(Arti ayat ini): Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Muhammad, jika Allah menimpakan kesusahan atau bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Rabb-mu (Tuhanmu) yang telah menimpakannya kepadamu, dan bukanlah sembahan-sembahan dan tandingan-tandingan lain (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang disembah oleh orang-orang musyrik itu (yang mampu menghilangkannya).”[8]

    Semua ayat di atas menunjukkan bahwa istigatsah adalah termasuk ibadah yang paling agung dan mulia, yang hanya layak ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Sehingga menujukannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).

    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan hukum ini dengan tegas dalam firman-Nya,

    وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

    “Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim (musyrik).” (QS. Yunus: 106).

    Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “(Dalam ayat ini), zalim yang dimaksud adalah syirik, sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala,

    إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

    “Sesungguhnya (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

    Maka, seandainya sebaik-sebaik manusia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyeru kepada selain Allah bersamaan dengan menyeru-Nya maka niscaya beliau termasuk orang-orang yang zalim dan musyrik, maka bagaimana lagi dengan orang selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? (Tentu lebih besar lagi dosanya).”[9]

    Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis-jenis kesyirikan yaitu meminta (pemenuhan) hajat dari orang-orang mati (yang dianggap sebagai wali), beristigatsah dan menghadapkan diri kepada mereka. Inilah pangkal kesyirikan (yang terjadi) di alam semesta. Orang yang telah mati telah terputus amal perbuatannya dan dia tidak memiliki (kemampuan untuk memberi) manfaat maupun (mencegah) keburukan bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang (lain) yang beristigatsah kepadanya atau meminta (pemenuhan) hajat kepadanya!”[10]

    Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab mencantumkan hal ini dalam Kitab At-Tauhid[11] pada bab khusus, (yaitu bab) “Termasuk (perbuatan) syirik (mempersekutukan Allah) adalah melakukan istigatsah kepada selain-Nya atau menyeru (memohon) kepada selain-Nya.”
    Secara garis besar, istigatsah terbagi menjadi dua macam:[1]

    Pertama, istigatsah masyru’ah (istigatsah yang disyariatkan dalam agama Islam). Ini ada dua macam bentuknya:

    1. Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Inilah istigatsah yang diperintahkan dalam Islam. Tidak ada yang dapat menghilangkan kesusahan secara mutlak kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya, dan semua pertolongan yang datang kepada manusia adalah dari sisi-Nya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang istigatsah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum pada malam hari sebelum Perang Badar,

    إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

    “(Ingatlah), ketika kamu beristigatsah kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut.’” (QS. Al-Anfal: 9)[2]

    Syekh Muhamad bin Shalih Al-’Utsaimin berkata, “Istigatsah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk amal shalih yang paling utama dan paling sempurna (pahalanya), dan merupakan kebiasaan para rasul ‘alaihimus salam dan pengikut mereka.”[3]

    2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita, dalam hal-hal yang mampu dilakukan oleh manusia pada umumnya.

    Istighatsah semacam ini diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan meminta pertolongan kepada mereka dalam hal-hal tersebut.[4]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis salam,

    وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِين

    “Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang dari golongannya beristigatsah (meminta pertolongan) kepadanya, untuk mengalahkan orang yang berasal dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah orang itu. Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya setan itu musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’” (QS. Al-Qashash: 15).

    Dalam ayat ini, orang dari kalangan Bani Israil tersebut ber-istigatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dalam hal yang mampu dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salam, dan ini tidak bertentangan dengan kesempurnaan tauhid.[5]

    Akan tetapi, perlu diingatkan di sini, bahwa ketika kita meminta pertolongan kepada seseorang dalam hal yang mampu dilakukannya, maka dalam rangka menjaga kesempurnaan tauhid, kita wajib meyakini bahwa pertolongan orang tersebut hanyalah sebab semata, dan tidak memiliki pengaruh secara langsung dalam menghilangkan kesulitan yang kita alami, karena yang mampu melakukan semua ini hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jangan sampai kita bersandar kepada orang tersebut dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan semua sebab, karena ini semua akan merusak kesempurnaan tauhid kita.[6]

    Kedua, istigatsah mamnu’ah (istigatsah yang dilarang/ diharamkan dalam agama Islam). Ini juga ada dua macam bentuknya:

    1. Istigatsah kepada orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati dan tidak ada di hadapan kita, dalam hal-hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti memberi rezeki, keselamatan, menyembuhkan penyakit, menolak bencana dan lain-lain. Ini adalah perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya murtad (keluar dari agama Islam). Pelakunya bisa menjadi murtad karena mereka yang melakukan perbuatan ini meyakini bahwa orang yang mereka mintai pertolongan tersebut memiliki kemampuan tersembunyi (gaib) untuk mempengaruhi dan mengatur kejadian di alam semesta ini, padahal (kemampuan) ini adalah milik khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Sehingga dengan ini, mereka telah memberikan sebagian dari sifat-sifat rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala (mengatur dan menguasai alam semesta) kepada selain-Nya, dan ini adalah perbuatan syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

    “Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengambil peringatan.” (QS. An-Naml: 62)[7]

    2. Istigatsah kepada orang yang masih hidup dan ada di hadapan kita, tapi dia tidak mampu memberikan pertolongan., tanpa meyakini bahwa orang tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib). Misalnya: orang yang akan tenggelam meminta pertolongan kepada seorang yang lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali. Ini adalah perbuatan sia-sia dan pelecehan terhadap orang yang dimintai pertolongan, maka dengan sebab ini perbuatan tersebut dilarang dalam Islam.

    Ada juga sebab lain, yaitu dikhawatirkan timbul keyakinan yang rusak bahwa orang yang dimintai pertolongan tersebut memiliki kekuatan yang tersembunyi (gaib) untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya.[8]

    Kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!

    Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta beserta isinya, Dialah semata-mata yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan bahaya serta kesulitan, tidak ada yang mampu melakukan semua itu kecuali Dia semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.

    Maka, seharusnya hanya Dialah satu-satunya tempat memohon, meminta pertolongan, dan mengadukan segala kesusahan.[9] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    “Jika Allah menimpakan suatu kesulitan kepadamu, maka tidak ada yang (mampu) menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107)

    Alangkah buruk serta sesat orang yang memalingkan semua itu kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,

    وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

    “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon (pertolongan) kepada (sembahan-sembahan) selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 5)

    Maka, kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyandarkan semua urusan kita, meminta pertolongan dan keselamatan dari semua kesusahan kepada-Nya semata. Inilah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ. وَلا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

    “Maka segeralah kamu berlari (kembali) kepada Allah. Sesungguhnya, aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain selain Allah (berbuat syirik kepada-Nya). Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50–51)

    Artinya, berlindunglah kepada-Nya dan bersandarlah kepada-Nya dalam semua urusanmu.[10]

    Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan perintah untuk kembali kepadanya dengan firman-Nya: firru ilallah (berlarilah menuju/ kepada Allah) karena adanya makna yang agung dan tinggi dalam ungkapan ini.

    Syekh ‘Abdur Rahman As-Sa’di berkata, “Allah menamakan (sikap) kembali kepada-Nya dengan al-firaar (berlari kepada-Nya), karena (sikap) kembali (bersandar) kepada selain Allah akan menimbulkan berbagai macam ketakutan dan kesusahan. (Sebaliknya), kembali kepada Allah akan mendatangkan berbagai macam kemudahan, keamanan, kebahagiaan, dan keberhasilan.”[11]

    Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala selanjutnya “Dan janganlah kamu menjadikan sembahan yang lain di samping Allah (berbuat syirik kepada-Nya)” menunjukkan bahwa menjauhi perbuatan syirik adalah termasuk sikap kembali kepada Allah. Bahkan ini adalah landasan utama kembali kepada-Nya, yaitu dengan meninggalkan semua yang disembah dan dimintai pertolongan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memurnikan ibadah, rasa takut, barharap, berdoa, dan meminta pertolongan semata-mata hanya kepada-Nya.[12]

    Penutup

    Sebagai penutup, renungkanlah nasihat Syekh ‘Abdul Muhsin Al-Qasim[13] berikut ini, “Istigatsah kepada Allah mengandung (sikap) merasa butuh yang sempurna kepada Allah dan keyakinan (yang utuh) akan kecukupan dari-Nya, dan ini termasuk amal shaleh yang paling utama dan mulia. Seorang manusia dalam hidupnya selalu menghadapi berbagai macam bencana dan kesusahan, sehingga barangsiapa yang ber-istigatsah kepada Allah untuk menghilangkan segala kesusahan (yang menimpanya) maka sungguh dia telah menunaikan suatu ibadah besar yang biasa dilakukan oleh para nabi ‘alaihimus salam dan orang-orang yang shaleh ketika mereka menghadapi kesulitan, dan kemudian Allah menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka.”[14]

    Demikianlah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan kesyirikan, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

    وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    [1] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 41–43.

    [2] Ibid, hlm. 41–42.

    [3] Kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 60.

    [4] Ibid, hlm. 61.

    [5] Lihat muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 42.

    [6] Lihat keterangan Syekh Muhammad Al-’Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid: 1/261.

    [7] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61, dan muqaddimah tahqiq kitab Al-Istigatsatu fir Raddi ‘alal Bakri, hlm. 43.

    [8] Lihat kitab Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 61.

    [9] Lihat kitab Fathul Majid, hlm. 206–207.

    [10] Tafsir Ibnu Katsir: 4/303.

    [11] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.

    [12] Kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 811.

    [13] Beliau adalah salah seorang imam dan khatib Mesjid Nabawi di Madinah saat ini.

    [14] Kitab Taisirul Wushul, hlm. 98.

  5. 30 Maret 2011 pukul 09:15 | #6

    ALE BAWEAN, Silahkan baca terlebih dahulu seluruhnya, jgn baca setengah2 nantinya tdk bisa di pahami makna tawassul nya, mengenai ada perbedaan pemahaman antara saya dgn saudara, kami sangat paham, krn memang cara pandang kita juga berbeda, yg penting jaga persatuan, dan hormati perbedaan,

    • 30 Desember 2011 pukul 04:02 | #7

      saya setuju dengan perkataan antum: hormati perbedaan, jaga persatuan; tetapi dengan tulisan anda yang cenderung memojokkan apakah itu cocok dengan komentar antum…?
      maaf sebelumnya…

    • hanafi
      3 Juni 2012 pukul 02:15 | #8

      mas, klo ga salah nabi muhammad saw sendiri awalnya mengharamkan/tidak boleh mendatangi kuburan karena takut terjadi seperti kasus2 agama2 sebelumnya pengagungan pada orang2 yg sudah meninggal, lata uzza manna contohnya, pada masa nabi hidupun tidak mau di agungkan berlebihan oleh sahabt2nya… karena nabi inggin sekali menjaga kemurnian tauhid pada ALLAH. nah kita lihat sekarang fenomena yang terjadi setiap bulan-bulan tertentu buanyak sekali kuburan2 yang di jadikan tempat jiarah untuk meminta berkahnya. sedangkan kalo kita mau jujur, hal2 yang jelas2 dianjurkan untuk terkabulnya doa malah jarang atau g pernah di perjuangkan dengan sungguh2 spti conthnya sedekah tahjud, sholat hajt, duha dll yg jelas2 nabi contohkan. padahal nabi pernah menegaskan tujuan utama dibolehkan jiarah setelah sekian lama dilarang adalah, MENGINGAT MATI, DAN MENDOAKAN YANG SUDAH MENINGGAL, walaupun itu syeh harus kita doakan semoga ALLAH memuliakan beliau dengan segala kebaikannya… namun point yang terpenting adalah kita ingat Akan KEMATIAN YANG AKAN MENJEMPUT KITA karena kita mash diberi kesmpatan hidup. kesempatan beramal sholeh. yang pda akhirnya sama akan dikuburkan dalam tanah, nah agar perasaan itu timbul maka sebaiknya kita jiarah ke orang2 yang dekat dengan kita karena itu akan sangat trasa sekali makna ada dan tiada, karena kita pernah bergaul dengannya semasa hidup, ngobrol, berbagi dll kesungguhan dalam berdoapun akan timbul bila kita berjiarah pda orng2 dkt. jadi diijinkannya jiarah karena dua sebab, mendoakan dan ingat maut. karena sesungguhnya bagi yang meninggal sangat membutuhkan doa dari yg hidup bukan sebaliknya, karena siapapun tidak tau nasib yang sudah meninggal seperti apa, kecuali sahabat2 nabi dan nabi sendiri yg memang sudah dijamin masuk syurga, jadi menurut saya bertawasul boleh pada orang soleh yg masih hidup. karena intinya sama orang soleh itupun berdoa, mendoakan kita agar terkabul doanya… kalo yg mati itu malah minta didoakan. mengenai ada orng berdoa disamping kuburan trus terkabul itu bukan jaminan kalau itu sesutau yang benar karena baik tidaknya sesuatu bagaimna kita menjalaninya sesuai alquran sunnah tidak, apakah kita berdoa pada pohon trus terkabul merupakan indikasi ALLAH meridoi??? kan belum tentu. saya pikir itulah trik muslihat iblis setan dan para pasukanna untuk menyesatkan manusia sedikit demi sedikit tapi pasti. agama islam sekarang dan agama tauhid dari jaman nabi adam dapat kita lihat benang merahnya atau persamaan trik sesat setan iblis terlaknat. yaitu mengagungkan sesuatu selain ALLAH sedikit demi sedikit ALLAH terlupakan , sedikit2 demi sedikit aturan yang jelas nabi contohkan dilupakan malah menikutu orang2 yang di anggap agung dan mulia, bukan melihat alquran dan sunnah lagi.
      karena saya yakin ALLAH lebih suka hambanya tersungkur menangis memohon ampun, memohon terkabulnya doa pada sepertiga malm dengan tahajud, daripada datang ke kuburan, yang merupakan celah celah setan masuk. ingat kita ini ada yang menggiring tauhid kita pada kesyirikan itu trik iblis hati2 sobat iblis sangat berpengalaman dalam menyesatkan umat manusia, sprti nabi isa yg sudah menjadi tuhan.menurut pemahamn sesat nasrani sekarang dan banyak lagi agama2 yang megagungkan orang dari pada tuhannya sendiri.

      • 11 Juli 2012 pukul 04:34 | #9

        hanafi, terima kasih telah memperjelas artikel di atas, saya setuju dengan saudara, rahmatullah alaika wa’alanaa, ya akhi. amin

  6. 28 Juli 2011 pukul 09:57 | #10

    waduh mass…itu para habaib2 pakai tawassul lho…mas anggap apa..ahli bidah…ahli bidah masuk neraka dong,nah masa’ keturunan nabi Muhammad SAW masuk neraka,padahal besok di hari kiamat yang memberi minum dari telaga kautsar itu para habaib…nah…lho…ayo mass…bilang para habaib masuk neraka…pasti mass ahli narr selamanyaa…yang benerrr mas…kalau bukan ahli agama enggak usah ngutip2 Al-Qur’an & Al-Hadits,wong cuma awamm ajaa kebanyakan tingkah….

  7. 11 Oktober 2011 pukul 00:04 | #11

    Assalamualaikum..
    Sangat dan sangat mendukung pendapat penulis,
    iman bukanlah ilmu pasti Tapi pasti, kita harus mengimani setiap Nabi dan orang2 yang di Muliakan Allah pasti semua membawa mamfaat.

  8. 5 November 2011 pukul 05:30 | #12

    Orang wahabi gk suka bid’ah(kullu bid’atin dlolalah), tp mereka melaksanakan tarowih berjamaah. memang perbuatan dan perkataan beda, itukah yg hrs diikiuti?

  9. 30 Desember 2011 pukul 03:50 | #13

    ikut nimbrung ya…
    masalah tawasul dan istigasah antara kaum salaf (baca: NU) dan salafi (baca: wahabi) adalah tidak ada perbedaan kecuali sedikit.
    mereka sepakat kebolehan tawasul dg doa, amal sholeh, nama-nama Allah.
    mereka hanya berbeda di dalam bentuk tawasul dengan orang yang sudah meninggal, jah orang-orang sholeh… bagi wahabi, mereka lebih memilih untuk melarangnya tapi bagi NU masing menggunakannya.
    tapi perlu diingat bahwa tawasul yang terakhir ini bisa mengakibatkan seseorang untuk ghuluw terhadap orang yang ditawasuli, maka alangkah baiknya kita menjauhinya atau mengubah jah dengan kecintaan saja.. insyaAllah itu lebih aman bagi keimanan seseorang.
    misalnya: “Ya Allah dengan kecintaanku kepada syeikh …, kabulkanlah doaku atau Ya Allah dengan kecintaanku kepada orang yang ada di kubur ini, kabulkanlah doaku.”
    untuk hal ini, baik wahabi dan NU tidak ada perbedaan pendapat, semuanya menyetujuinya… wallahu a’lam
    ingat al-khuruj minal khilaf mustahab dan dar’ul mafasid muqaddamu ‘ala jalbil masholih: menghindari seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan lebih didahulukan dari pada mempraktekkan tawasul yang hanya menjadi salah satu metode dalam berdoa toh masih banyak metode dalam berdoa yang lain seperti dengan asmaul husna, amal sholeh dll…
    terima kasih….

  10. 30 Desember 2011 pukul 03:59 | #14

    untuk saudara sayyid arif basyaiban, yang cenderung mengkontradiksikan amalan para habaib dengan amalan kebid’ahan sepertinya kurang pas…
    yang perlu kita pegangi adalah al-Qur’an dan Hadis,…
    Rasulullah saw pernah bersabda, ‘seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya…..
    hal itu dilakukan agar sikap adil bisa terwujud dan tidak terjadi guluw.
    dengan mengatakan suatu amalan itu dilakukan oleh para habaib, itu berindikasi sepertinya semua yang dilakukan para habaib adalah benar semua…
    walau saya yakin merekalah yang memberi minum dari telaga kautsar, tetapi perkataan itu tetap kurang pas… wallahu a’lam

    • hanafi
      3 Juni 2012 pukul 02:13 | #15

      mas, klo ga salah nabi muhammad saw sendiri awalnya mengharamkan/tidak boleh mendatangi kuburan karena takut terjadi seperti kasus2 agama2 sebelumnya pengagungan pada orang2 yg sudah meninggal, lata uzza manna contohnya, pada masa nabi hidupun tidak mau di agungkan berlebihan oleh sahabt2nya… karena nabi inggin sekali menjaga kemurnian tauhid pada ALLAH. nah kita lihat sekarang fenomena yang terjadi setiap bulan-bulan tertentu buanyak sekali kuburan2 yang di jadikan tempat jiarah untuk meminta berkahnya. sedangkan kalo kita mau jujur, hal2 yang jelas2 dianjurkan untuk terkabulnya doa malah jarang atau g pernah di perjuangkan dengan sungguh2 spti conthnya sedekah tahjud, sholat hajt, duha dll yg jelas2 nabi contohkan. padahal nabi pernah menegaskan tujuan utama dibolehkan jiarah setelah sekian lama dilarang adalah, MENGINGAT MATI, DAN MENDOAKAN YANG SUDAH MENINGGAL, walaupun itu syeh harus kita doakan semoga ALLAH memuliakan beliau dengan segala kebaikannya… namun point yang terpenting adalah kita ingat Akan KEMATIAN YANG AKAN MENJEMPUT KITA karena kita mash diberi kesmpatan hidup. kesempatan beramal sholeh. yang pda akhirnya sama akan dikuburkan dalam tanah, nah agar perasaan itu timbul maka sebaiknya kita jiarah ke orang2 yang dekat dengan kita karena itu akan sangat trasa sekali makna ada dan tiada, karena kita pernah bergaul dengannya semasa hidup, ngobrol, berbagi dll kesungguhan dalam berdoapun akan timbul bila kita berjiarah pda orng2 dkt. jadi diijinkannya jiarah karena dua sebab, mendoakan dan ingat maut. karena sesungguhnya bagi yang meninggal sangat membutuhkan doa dari yg hidup bukan sebaliknya, karena siapapun tidak tau nasib yang sudah meninggal seperti apa, kecuali sahabat2 nabi dan nabi sendiri yg memang sudah dijamin masuk syurga, jadi menurut saya bertawasul boleh pada orang soleh yg masih hidup. karena intinya sama orang soleh itupun berdoa, mendoakan kita agar terkabul doanya… kalo yg mati itu malah minta didoakan. mengenai ada orng berdoa disamping kuburan trus terkabul itu bukan jaminan kalau itu sesutau yang benar karena baik tidaknya sesuatu bagaimna kita menjalaninya sesuai alquran sunnah tidak, apakah kita berdoa pada pohon trus terkabul merupakan indikasi ALLAH meridoi??? kan belum tentu. saya pikir itulah trik muslihat iblis setan dan para pasukanna untuk menyesatkan manusia sedikit demi sedikit tapi pasti. agama islam sekarang dan agama tauhid dari jaman nabi adam dapat kita lihat benang merahnya atau persamaan trik sesat setan iblis terlaknat. yaitu mengagungkan sesuatu selain ALLAH sedikit demi sedikit ALLAH terlupakan , sedikit2 demi sedikit aturan yang jelas nabi contohkan dilupakan malah menikutu orang2 yang di anggap agung dan mulia, bukan melihat alquran dan sunnah lagi.
      karena saya yakin ALLAH lebih suka hambanya tersungkur menangis memohon ampun, memohon terkabulnya doa pada sepertiga malm dengan tahajud, daripada datang ke kuburan, yang merupakan celah celah setan masuk. ingat kita ini ada yang menggiring tauhid kita pada kesyirikan itu trik iblis hati2 sobat iblis sangat berpengalaman dalam menyesatkan umat manusia, sprti nabi isa yg sudah menjadi tuhan.menurut pemahamn sesat nasrani sekarang dan banyak lagi agama2 yang megagungkan orang dari pada tuhannya sendiri.

  1. 30 Juni 2012 pukul 00:24 | #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: