Beranda > Tak Berkategori > MAULID MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIST

MAULID MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIST


kabbaniPerintah Meningkatkan Rasa Cinta dan Hormat kepada Nabi saw.

Pertama, Allah swt meminta Nabi saw. agar mengingatkan umatnya bahwa sangatlah penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk mencintai Nabi-Nya juga, “Katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian mencintai Allah swt, ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku, niscaya Allah swt akan mencintai kalian’” (3:31).

Memperingati hari kelahiran Nabi saw. didorong oleh perintah untuk mencintai, menaati, mengingat, dan mengikuti contoh Nabi saw., serta merasa bangga dengannya sebagaimana Allah swt menunjukkan kebanggaan-Nya dengannya. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah swt begitu membanggakannya dengan berfirman, “Sungguh engkau memiliki budi pekerti yang begitu agung” (68: 4).

Cinta kepada Nabi saw. dapat menjadi pembeda keimanan di antara kaum beriman. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhârî dan Muslim, Nabi saw. pernah bersabda, “Tak seorang pun di antara kamu beriman, sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai anak-anaknya, orang tuanya, dan semua orang.” Dalam hadis al-Bukhârî lainnya, beliau bersabda, “Tak seorang pun di antara kamu beriman sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.” ‘Umar ibn al-Khaththâb ra berkata, “Wahai Nabi saw, Aku sungguh mencintaimu melebihi diriku sendiri.”

Kesempurnaan iman tergantung pada cinta kepada Nabi saw., karena Allah swt dan para malaikat-Nya terus-menerus menyatakan penghormatannya, sebagaimana begitu jelas disebutkan dalam ayat berikut, “Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw” (33:56). Perintah Tuhan, “Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kepadanya,” segera menyusulnya, menambah jelas bahwa kualitas seorang mukmin sangat tergantung pada dan dijelmakan dengan pembacaan selawat kepada Nabi saw.

Nabi saw. Menekankan Hari Senin sebagai Hari Beliau Dilahirkan

Kedua, Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya mengenai puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.”1

Syekh Mutawallî al-Sya‘râwî menulis, “Banyak peristiwa luar biasa terjadi pada hari kelahirannya sebagaimana disebutkan dalam hadis dan sejarah. Malam waktu Nabi saw dilahirkan tidaklah seperti malam-malam kelahiran manusia lainnya.” 2

Sedangkan menurut Ibn al-Hajj, “Adalah suatu keharusan bagi kita pada setiap hari Senin bulan Rabiul Awal untuk meningkatkan ibadah kita sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas karunia-Nya yang begitu besar yang telah diberikan kepada kita–yaitu diutusnya Nabi saw. untuk membimbing kita kepada Islam dan kedamaian … Nabi saw., ketika menjawab seseorang yang bertanya kepada beliau mengenai puasa di hari Senin, menyatakan, “Aku dilahirkan pada hari itu.” Oleh karena itu, hari tersebut memberikan kehormatan bagi bulan itu, karena itu adalah harinya Nabi saw. … dan beliau pun mengatakan, “Aku junjungan (sayyid) bagi semua anak-cucu Adam as, dan aku mengatakannya tanpa kesombongan” … dan beliau pun mengatakan, “Adam as dan siapa saja keturunannya akan berada di bawah benderaku pada Hari Peradilan kelak.” Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh al-Syaykhâni (al-Bukhârî dan Muslim). Muslim dalam Shahîh-nya menyatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Pada hari itu, yaitu Senin, saya dilahirkan, dan pada hari itu pula risalah pertama disampaikan kepadaku.”3

Nabi saw. menaruh perhatian khusus pada hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah swt, karena memberinya kehidupan, dengan berpuasa pada hari itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abû Qatâdah. Nabi saw. menyatakan kebahagiaannya akan hari tersebut dengan berpuasa, yang merupakan sebentuk ibadah. Sebagaimana Nabi saw. telah memberi perhatian khusus pada hari tersebut dengan berpuasa, maka ibadah dalam bentuk apa saja untuk memberi perhatian khusus atas hari tersebut dapat pula dibenarkan. Meskipun bentuk ibadahnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama. Oleh karena itu, berpuasa, memberi makan fakir miskin, berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi saw., atau berkumpul untuk mengingat perilaku dan budi pekerti baiknya, semuanya dapat dipandang sebagai cara menaruh perhatian khusus pada hari tersebut.4

Allah swt Berfirman, “Bergembiralah dengan Nabi saw”

Ketiga, Menyatakan kebahagiaan dengan kedatangan Nabi saw. adalah perintah Allah swt dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Dengan karunia Allah swt dan rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira” (10:58).

Perintah ini ada karena rasa senang dapat membuat hati merasa bersyukur atas rahmat Allah swt. Rahmat Allah swt mana yang lebih besar ketimbang diri Nabi saw. sendiri. Allah swt menyatakan, “Tiadalah Aku utus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (21:107).

Karena Nabi saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia, maka merupakan suatu keharusan, tidak saja atas muslimin tetapi juga semua umat manusia untuk merayakan kehadirannya. Sayangnya, masih ada sebagian muslim yang tampil menolak perintah Allah swt untuk bersuka ria atas kelahiran Nabi-Nya.

Nabi saw. Memperingati Peristiwa-Peristiwa Besar dalam Sejarah

Keempat, Nabi saw. selalu membuat hubungan di antara peristiwa-peristiwa agama dan sejarah, sehingga bila tiba suatu hari ketika terjadi suatu peristiwa penting, beliau mengingatkan para sahabat untuk merayakan hari itu dan menegaskan keistimewaannya, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada masa yang sangat lampau. Dasarnya dapat ditemukan dalam hadis berikut.

Tatkala Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Beliau bertanya mengenai hari tersebut, dan beliau diberi tahu bahwa pada hari itu Allah swt menyelamatkan Nabi mereka, yakni Musa as, dan menenggelamkan musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah swt atas karunia ini.5

Pada saat itu juga Nabi saw. menanggapinya dengan hadis yang terkenal, “Kita lebih berhak atas Musa as daripada kalian,” dan beliau pun melakukan puasa pada hari itu dan hari sebelumnya.

Allah swt Berfirman, “Berselawatlah kepada Nabi saw”

Kelima, peringatan atas kelahiran Nabi saw. mendorong kita untuk berselawat kepada Nabi saw. dan menyampaikan pujian atasnya, yang menjadi suatu keharusan berdasarkan ayat, “Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw. Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi saw dan ucapkanlah salam kepadanya dengan sepenuh hati” (33:56). Karena datang bersama-sama dan mengenang jasa-jasa Nabi saw. dapat membawa kita untuk berselawat dan memujinya, maka ini selaras dengan perintah Allah swt. Siapakah yang punya hak untuk mengingkari keharusan yang telah diperintahkan Allah swt kepada kita melalui Alquran? Manfaat yang dibawa oleh ketaatan pada perintah Allah swt dan cahaya yang dibawanya ke dalam hati tidaklah dapat diukur. Lebih jauh lagi, keharusan tersebut dinyatakan dalam bentuk jamak, yaitu Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat dan mengucap salam kepada Nabi saw.—secara bersama-sama. Karena itu, sama sekali tidaklah benar mengatakan bahwa membaca selawat dan salam kepada Nabi saw. tak boleh dilakukan secara berkelompok, tetapi harus sendiri-sendiri.

Pengaruh Menyaksikan Peringatan Kelahiran Nabi terhadap Kaum Kafir

Keenam, mengungkapkan kegembiraan dan memperingati hari kelahiran Nabi saw., dengan karunia dan rahmat Allah swt, dapat mendatangkan keberuntungkan bagi orang kafir sekalipun.6 Imam al-Bukhârî menyatakan dalam hadisnya bahwa setiap hari Senin, Abû Lahab dibebaskan dari siksaannya di alam kubur, karena ia telah memerdekakan budak perempuannya, yaitu Tsuwaybah, pengasuh Nabi saw. Beberapa ulama, di antaranya Ibn Katsîr dan Ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî, mengatakan bahwa ini karena Abû Lahab sangat bergembira tatkala Tsuwaybah membawa kabar kepadanya tentang kelahiran keponakannya itu. Meskipun demikian, agaknya pemerdekaan ini terjadi pada saat Nabi saw sudah dewasa, yaitu pada saat hijrah ke Madinah.7

Tentang hal ini, Hafiz Syams al-Dîn Muhammad ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî menulis bait syair berikut, “Bila ini, seorang kafir yang dikutuk untuk kekal di neraka dengan ucapan ‘celakalah kedua tangannya’ (Q. 111), dikatakan menikmati masa tenang pada setiap hari Senin, karena ia bergembira dengan (kelahiran) Ahmad saw, lantas bagaimana menurutmu seorang hamba yang, sepanjang hidupnya, bergembira dengan Ahmad saw, dan meninggal seraya mengucap, ‘Ahad (Esa)’”8

Keharusan Mengetahui Sirah Nabi saw. dan Meniru Perilakunya

Ketujuh, kita dituntut untuk mengetahui Nabi saw., baik kehidupannya, mukjizatnya, kelahirannya, perilakunya, keimanannya, tanda-tanda (kenabian)-nya, khalwatnya, ataupun ibadahnya. Tidakkah mengetahui hal-hal seperti ini merupakan keharusan bagi setiap muslim?

Apa lagi yang lebih baik dari merayakan dan memperingati kelahirannya, yang mewakili babak penting hidupnya, untuk dapat memahami kehidupannya? Memperingati kelahirannya akan mengingatkan kita tentang segala hal lain yang berhubungan dengan kehidupannya, sehingga memungkinkan kita untuk mengenal perjalanan hidup (sirah) Nabi saw. dengan lebih baik. Kita akan lebih siap untuk menjadikan Nabi saw. sebagai panutan, memperbaiki diri kita, dan meniru kepribadian beliau. Itulah mengapa perayaan hari kelahirannya merupakan suatu karunia besar bagi seluruh umat muslim.

Nabi saw. Setuju dengan Syair Pujian Terhadapnya

Kedelapan, sudah diketahui benar bahwa pada masa Nabi saw., para penyair berdatangan ke hadapannya dengan berbagai jenis karyanya yang berisi pujian terhadapnya. Mereka menulis dalam syair-syair tersebut tentang perang dan panggilan jihadnya, juga tentang para sahabatnya. Ini dapat ditemukan dalam berbagai syair yang dikutip dalam sirah Nabi saw. yang disusun oleh Ibn Hisyâm, al-Wâqidî, dan yang lain. Nabi saw. sangat senang dengan syair yang bagus, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhârî dan yang lain bahwa beliau bersabda, “Dalam syair itu ada hikmah (kata-kata bijak).”9 Paman Nabi saw., al-‘Abbâs, menggubah sebuah syair yang menyanjung kelahiran Nabi saw, yang memuat bait-bait berikut:

Tatkala engkau dilahirkan, bumi bersinar terang,

Dan cakrawala benderang penuh cahayamu,

Sehingga kami dapat tembus memandang,

Segala syukur kupanjatkan atas sinar terang,

Cahaya dan jalan yang menunjuki itu.10

Ibn Katsîr menyebutkan fakta bahwa, menurut para sahabat, Nabi saw. memuji namanya sendiri dan membacakan syair tentang dirinya di tengah-tengah Perang Hunain untuk membangkitkan semangat para sahabatnya dan membuat takut musuh-musuhnya. Pada hari itu beliau mengatakan: “Akulah Nabi saw! Ini bukan kebohongan. Aku anak ‘Abd al-Muthâlib.”

Nabi saw. merasa senang dengan orang-orang yang menyampaikan pujian kepadanya, karena itu merupakan perintah Allah swt dan beliau pun suka memberi mereka sesuatu yang Allah swt anugerahkan kepadanya. Allah swt sudah pasti sangat menyenangi orang-orang yang berkumpul dan berusaha mengenali dan mencintai Rasulullah saw.

Menyanyi dan Membacakan Syair

Ada keterangan kuat bahwa Nabi saw. menyuruh ‘Â’isyah membiarkan dua gadis menyanyi pada hari raya. Beliau berkata kepada Abû Bakr, “Biarkanlah mereka menyanyi, karena setiap bangsa memiliki hari rayanya, dan hari ini adalah hari raya kita.” Ibn al-Qayyim berkomentar bahwa Nabi saw. juga mengizinkan menyanyi pada perayaan perkawinan, dan membolehkan syair dibacakan kepadanya.11 Beliau mendengarkan Anas dan para sahabatnya yang memuji-mujinya dan membacakan syair-syair sambil menggali tanah sebelum terjadinya Perang Khandak (Parit) yang terkenal itu; beliau mendengarkan mereka yang mengatakan: “Kitalah orang-orang yang memberikan baiat (sumpah setia) kepada Muhammad saw untuk berjihad sepanjang hayat.”

Ibn al-Qayyim juga menyebutkan bahwa ‘Abd Allâh ibn Rawâhah membacakan sebuah syair panjang yang memuji-muji Nabi saw. tatkala beliau memasuki Mekah, yang setelah itu Nabi saw. berdoa untuknya. Nabi saw. berdoa agar Allah swt memberi kekuatan kepada al-Hasan ibn Tsâbit dengan ruh suci sehingga ia dapat mendukung Nabi saw. dengan syair-syairnya. Demikian pula, Nabi saw. pernah menghadiahi Ka‘b ibn Zuhayr sebuah jubah karena syair pujiannya. Nabi saw. pernah meminta al-Syarîd ibn Suwayd al-Tsaqafî untuk membacakan sebuah syair pujian sepanjang seratus bait yang digubah oleh Umayyah ibn Abî al-Salt.12 Ibn al-Qayyim melanjutkan, “‘Â’isyah selalu membacakan syair-syair yang memujinya dan beliau pun merasa senang dengannya itu.”

Umayyah ibn Abî al-Salt adalah seorang penyair jahiliah yang meninggal sebelum Islam datang. Ia seorang saleh yang tidak lagi minum khamar ataupun menyembah berhala.13 Bagian dari syair pujian yang mengiringi penguburan Nabi saw. yang dibacakan oleh al-Hasan ibn Tsâbit, menyatakan:

Aku katakan, dan tak seorang pun dapat menemukan cela dari ucapanku

Kecuali orang yang telah kehilangan segala akal sehatnya:

Aku tidak akan pernah berhenti menyanjung dan memujinya

Karena dengan berbuat begitu, mungkin aku akan kekal di dalam surga

Bersama Sang Pilihan, yang dorongannya untuk itu aku harapkan.

Dan untuk mencapai hari itu, segala ikhtiarku kupertaruhkan.14

Membaca Alquran dan Melagukannya

Ibn al-Qayyim mengatakan dalam Madârij al-Sâlikîn,

Allah swt telah membolehkan Nabi-Nya saw. membaca Alquran dengan cara dilagukan. Abû Mûsâ al-Asy‘arî ra suatu kali membaca Alquran dengan suara merdu, sementara Nabi saw mendengarkannya. Setelah ia selesai, Nabi saw. mengucapkan selamat kepadanya atas bacaannya dengan suara merdu dan berkata: “Engkau memiliki suara yang indah.” Beliau pun menyatakan tentang Abû Mûsâ al-Asy‘arî bahwa Allah swt telah memberinya satu dari mizmar (seruling) Dâwud. Kemudian Abû Mûsâ ra berkata: “Ya Rasulullah saw, kalau saja aku tahu bahwa engkau mendengarkanku, aku pasti akan membacakannya dengan suara yang jauh lebih merdu dan lebih indah yang belum pernah engkau dengar sebelumnya.”

Ibn al-Qayyim juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Hiasilah Alquran dengan suara-suaramu,” dan “Barang siapa tidak melagukan Alquran bukanlah dari golongan kita.” Ibn al-Qayyim kemudian mengomentari:

Mendapatkan kesenangan dengan suara indah adalah diperbolehkan, sebagaimana mendapat kesenangan dengan pemandangan yang indah, seperti gunung atau alam, atau dari wewangian, atau makanan lezat, selama sesuai dengan syariah. Apabila mendengarkan suara yang indah diharamkan, maka mencari kesenangan dengan semua hal-hal lainnya pun diharamkan juga.

Nabi saw. Membolehkan Bermain Gendang Bila dengan Niat Baik

Ibn ‘Abbâd, seorang ahli hadis, memberikan fatwa berikut dalam Rasâ’il-nya. Ia memulai dengan sebuah hadis,

Seorang gadis datang kepada Nabi saw. ketika beliau baru pulang dari salah satu peperangan. Gadis itu berkata: “Ya Rasulullah saw, saya telah bersumpah kepada Allah swt bahwa bila Allah swt mengirim engkau kembali dalam keadaan selamat, saya akan memainkan gendang ini di dekatmu.” Nabi saw. kemudian berkata: “Tunaikanlah sumpahmu itu.”15

Ibn ‘Abbâd kemudian melanjutkan:

Tidak syak lagi bahwa menabuh gendang merupakan sejenis hiburan, meskipun demikian Nabi saw. menyuruh gadis tersebut untuk menunaikan sumpahnya. Beliau melakukannya karena niatnya adalah untuk menyambut beliau karena telah pulang dengan selamat, dan niatnya itu suatu niat baik, bukan niat melakukan dosa atau membuang waktu. Karena itu, bila ada orang yang merayakan saat-saat kelahiran Nabi saw. dengan cara yang baik dan dengan niat yang baik seperti dengan membaca sirah Nabi dan menyampaikan puji-pujian kepadanya, maka itu diperbolehkan.

Nabi saw. Menaruh Perhatian Khusus pada Kelahiran Para Nabi

Kesembilan, Nabi saw. dalam hadisnya memberikan perhatian khusus pada hari dan tempat kelahiran nabi-nabi terdahulu. Sehubungan dengan keistimewaan Jumat sebagai hari besar, Nabi saw. mengatakan, “Pada hari tersebut (yaitu Jumat), Allah swt menciptakan Adam as.” Dengan demikian, hari Jumat diberi penekanan karena Allah swt menciptakan Adam as pada hari tersebut. Hari tersebut diberi perhatian khusus karena hari tersebut menyaksikan penciptaan seorang nabi dan bapak semua umat manusia. Bagaimana halnya dengan hari ketika seorang nabi teragung dan manusia terbaik diciptakan? Nabi saw. bersabda: “Sungguh Allah swt telah menciptakanku sebagai Penutup para Nabi (khatam al-nabiyyîn) sementara Adam as di antara air dan tanah.”16

Mengapa al-Bukhârî Memberi Perhatian Khusus pada Kematian di Hari Senin

Imam al-Qasthallânî, dalam komentarnya atas al-Bukhârî, mengatakan:

Dalam bagian “al-Jana’aiz (Jenazah)”, al- Bukhârî menamai satu bab utuh “Mati pada Hari Senin”. Di dalamnya ada sebuah hadis dari ‘Â’isyah as yang meriwayatkan pertanyaan dari ayahnya (Abû Bakr al-Shiddîq ra), “Pada hari apakah Nabi saw. wafat?” Ia menjawab: “Hari Senin.” Beliau bertanya: “Hari apa sekarang?” Ia menjawab: “Ayah, sekarang hari Senin.” Abû Bakr ra pun kemudian mengangkat tangannya dan berkata: “Ya Allah swt aku memohon kepadamu biarkanlah aku meninggal pada hari Senin agar bersamaan dengan hari wafatnya Nabi saw.”

Imam al-Qasthallânî melanjutkan:

Mengapa Abû Bakr ra memohon agar kematiannya terjadi pada hari Senin? Karena dengan begitu, kematiannya akan bersamaan hari dengan hari wafatnya Nabi saw., maksudnya untuk mendapatkan barakah dari hari tersebut … Apakah ada orang yang akan mencela permohonan Abû Bakr ra untuk meninggal pada hari tersebut untuk mendapatkan barakah? Pada masa sekarang, mengapa ada orang-orang yang mencela kegiatan merayakan dan memberi perhatian khusus pada hari kelahiran Nabi saw. dengan maksud memperoleh keberkahan?

Nabi saw. Memberi Perhatian pada Tempat Kelahiran Para Nabi

Sebuah hadis yang dianggap sahih oleh Hafiz al-Haytsamî menyatakan bahwa, pada malam Isra Mikraj, Nabi saw. disuruh oleh Jibril as untuk salat dua rakaat di Bayt Lahm (Bethlehem). Jibril as bertanya kepadanya, “Tahukah engkau di manakah engkau melakukan salat?” Ketika Nabi saw. bertanya kepadanya “Di mana?” Ia memberi tahu beliau, “Engkau salat di tempat Isa dilahirkan.”17

Ijmak Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi saw.

Kesepuluh, memperingati hari kelahiran Nabi saw. merupakan suatu tindakan yang telah dan masih disepakati oleh para ulama di dunia Islam. Untuk alasan inilah, hari tersebut dijadikan sebagai hari libur di semua negara muslim. Allah swt tentu meridainya karena selaras dengan perkataan Ibn Mas‘ûd, “Apa saja yang dipandang baik oleh mayoritas muslimin, itu baik di sisi Allah swt; dan apa saja yang dipandang buruk oleh mayoritas muslimin, itu buruk di sisi Allah swt.”18

Catatan:

1. Shahîh Muslim, “Kitâb al-Shiyâm”.

2. Peristiwa-peristiwa ini dan hadis yang berkaitan, seperti bergoncangnya istana Kisra, padamnya api seribu tahun di Persia, dan sebagainya, diceritakan dalam al-Bidâyah karya Ibn Katsîr, j. 2, h. 265-268.

3. Ibn al-Hajj, Kitâb al-Madkhal, 1:261.

4. Lihat juga hadis tentang meninggal pada hari Senin di bawah.

5. Al-Bukhârî dan yang lain.

6. Kisah ini disebutkan dalam Shahîh al-Bukhârî.

7. Hadis ini disebutkan al-Bukhârî dalam bagian “al-Nikâh” dan yang lain. Ibn Katsîr menyebutkannya dalam, Sîrat al-Nabî (1:124), Mawlid al-Nabî (h. 21), dan al-Bidâyah (h. 272-273). Ada keraguan berkenaan dengan adanya hubungan antara pembebasan Tsuwaybah dan kelahiran Nabi saw. Riwayat al-Bukhârî, demikian pula dengan riwayat Muslim, al-Nasâ’î dan Ahmad, dalam hal ini membingungkan: Ursah menceritakan, Tsuwaybah adalah budak perempuan Abû Lahab yang telah dimerdekakan dan dibebaskan olehnya, dan pernah menyusui Nabi saw. Ketika Abû Lahab meninggal, salah seorang familinya bermimpi melihat ia dalam keadaan yang sangat buruk dan bertanya kepadanya, “Apa yang engkau rasakan?” Abû Lahab berkata, “Aku tak pernah merasakan istirahat sejak meninggalkanmu, selain aku diberi air untuk minum di sini (ruang antara ibu jarinya dan jari-jarinya yang lain) dan itu karena aku memerdekaan Tsuwaybah.” Keterangan dari Ibn Sa‘ad dalam Thabaqât menunjukkan bahwa Abû Lahab memerdekakan Tsuwaybah dalam kaitannya dengan hijrah Nabi saw. Sumbernya adalah penjelasan dalam al-Ishâbah karya Ibn Hajar, yaitu dalam bagian tentang perempuan, di bawah judul “Tsuwaybah” (8:36), yang menyebutkan riwayat dari Ibn Sa‘ad dalam Thabaqât, bab tentang orang-orang yang mengasuh Nabi saw: “Tsuwaybah adalah pengasuh yang memberi susu kepada Nabi saw dan beliau memperlakukannya sebagai keluarga selagi beliau di Mekah, dan Khâdijah memperlakukannya dengan penuh hormat; pada waktu itu ia masih dimiliki oleh Abû Lahab dan Khâdijah pernah memintanya untuk menjualnya kepadanya, tetapi ia menolak. Ketika Nabi saw. berhijrah, Abû Lahab memerdekakannya.”

8. Hafiz Syams al-Dîn Muhammad ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî, Mawrid al-Sâdî fî Mawlid al-Hâdî.

9. Al-Adab al-Mufrad.

10. Teks ini ditemukan dalam al-Suyûthî, “Husn al-Maqshid”, h. 5; dan Ibn Katsîr, Mawlid, h. 30; juga Ibn Hajar, Fath al-Bârî.

11. Ibn al-Qayyim, Madârij al-Sâlikîn.

12. Diriwayatkan oleh Muslim.

13. Diceritakan oleh al-Dzahabî, Siyar A‘lâm al-Nubalâ’ (2:23)

14. Catatan Ibn Hisyâm untuk kitabnya, Sîrat Rasûl Allâh, terjemahan A. Guillaume, cetakan ke-9 (Karachi: Oxford U. Press, 1990), h. 797.

15. Hadis ini terdapat dalam kitab-kitab-hadis Abû Dâwud, al-Tirmidzî, dan Ahmad.

16. Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad, al-Bayhaqî dalam Dalâ’il al-Nubuwwah, dan yang lain; diakui kesahihannya dan dapat dipercaya.

17. Diriwayatkan dari Syaddâd ibn Aws oleh al-Bazzâr, Abû Ya‘lâ, dan al-Thabrânî. Al-Haytsamî mengatakan dalam Majma‘ al-Zawâ’id (1:47), “Periwayatnya adalah para penyusun himpunan hadis-hadis sahih.” Ibn Hajar menyebutkan hadis ini dalam Fath al-Bârî (7:199) tanpa mengatakan sesuatu yang menentangnya.

18. Diceritakan dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang sahih.

Sumber:

Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi SAW (Syekh Hisyam Kabbani QS)

Seri Akidah Ahlussunah, penerbit Serambi

Terjemahan dari:

The Prophet: Commemorations, Visitation and His Knowledge of the Unseen (Mawlid, ziyara, Ilm al-Ghayb), oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs (KAZI Publications, 1998)

Kategori:Tak Berkategori
  1. Abu Ulya
    15 Juni 2010 pukul 03:32 | #1

    PERINGATAN MAULID NABI HUKUMNYA BID’AH, SESAT DAN MENYESATKAN, KENAPA PARA SAHABAT TIDAK PERNAH MEMPERINGATI KELAHIRAN NABI SAW..?, MAULID NABI HANYALAH PERKARA BARU DALAM ISLAM YG DIBUAT ORANG2 SUFI SESAT, WASPADALAH…TERHADAP PERKARA BARU/BID’AH

    • 13 Juli 2010 pukul 12:14 | #2

      Memang paling mudah membid’ahkan sesuatu,,, Makan dgn piring, pakaian jaz, kaos,,, apa ada pada masa Rasulullah saw?,,

      • badrus
        27 Agustus 2010 pukul 09:41 | #3

        yg namanya bid’ah itu ada dalam ibadah maghdoh (tata caranya sdh ditentukan) sebab dlm kaidah usul fiqh : al aslu fil ibadah batil hatta yaduladdaliilu ala amrih(asal segala ibadah itu haram, selama ada dalil yg memerintahkannya) contoh shalat. Klo masalah keduniaan Rasulullah menyerahkan kpd kita, dg dalilnya : antum a’lamu bi umuridunyakum (kamu lbh tau tentang urusan duniamu). jd makan dg piring, memakai jaz, kaos itu mslh dunia, jadi boleh2 saja walaupun blm ada pada jaman Rasul. Tapi klo masalah ibadah maghdoh, kita mengerjakannya hrs sesuai dg perintah Rasul, tdk boleh kita membuat-buat sendiri

    • Baehaki
      18 Januari 2011 pukul 05:34 | #4

      saya tanya sma kmu bid’ah itu aph?
      jangan sekali-sekali menyatakan bahwa orang2 sufi itu sesat. bukan mereka yang sesat tapi kamu yang tidak mau mempelajari islam lebih dalam lagi

  2. jokotry
    4 Desember 2010 pukul 01:29 | #5

    apakah peringatan maulid nabi itu termasuk Ibadah Maghdoh, sehingga menjadi sesat bila di lakukan ???

  3. Baehaki
    18 Januari 2011 pukul 05:31 | #6

    hanya orang” bodoh yang mengatakan bahwa maulid itu bid’ah. Padahal dirinya setiap saat selalu melakukan hal-hal yang bid’ah. Mengaku cinta kepada rasul tapi kecintaannya hanya dimulut saja. sekalian ajh lu bilang bid’ah shalawat

  4. 21 Februari 2011 pukul 03:31 | #7

    Memang mudah kaum GAM (Gerakan Anti Maulid) menghina dan mempermasalahkan amaliah kaum dari Majhab Syafi’i yg salah satunya adalah merayakan maulid, namun mereka lupa bahwa Allah SWT saja dan para Malaikiat bershalawat kepada Rasulullah SAW,kenapa kita yg hanya manusia biasa dan ngaku2 Islam tidak bershalawat?? jgn terus tenggelam dalam kebodohan wahai kaum GAM !!!

    • 21 Februari 2011 pukul 07:04 | #8

      Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin sholaatan tukhrijunii min dzulumaatil waHmi watukrimunii BI NUURIL FAHMI wa tuwadhihu lii maa asykala hatta yufHama annaka anta ta’lamu walaa a’lamu annaka antal ‘allamul ghuyuub.

      Jangan salah faham mengenai maulid, krn Rasulullah saw yg memerintahkan untuk merayakannya. dan Rasululah saw pun selalu merayakannya dengan berpuasa di hari kelahirannya yaitu hari senin, hanya se iring beredarnya waktu umatnya merayakannya dengan berbeda2, yg penting dalam perayaannya untuk memperingati kelahiran Manusia agung, mengenang perjuangannya, dengan membacakan riwayat hidup beliau kpd yg hadir. kalau lah tradisi ini tdk dijaga, niscaya anak cucu kita takkan ada yg mengenal siapa itu Rasulullah saw, bgmn perjuangannya, bgmn pedihnya ktk mendapat siksaan dari kaum kafir demi menjunjung kalimat Tauhid di dunia sampai akhir zaman.

      Hal2 yg dilarang dalam merayakan maulid Rasulullah saw hanyalah jika merayakannya dengan menyediakan sesajen, berqurban kepada Alam, kita ambil contoh seperti berqurban kepada laut, gunung, hal ini bukan saja bid’ah Dhalaah malah sudah masuk kedalam perbuatan syirik. Hindari merayakan maulid dengan bercampurnya kaum adam dan kaum hawa, yg membahayakan jiwa karena berebut makanan, menghamburkan makanan dengan sia2
      Silahkan yg sibuk untuk membid’ahkan maulid, bid’ahkanlah sesuka kalian, kalau munurut kalian Ulama yg lebih luhur Ilmu dan telah mendapatkan derajat yg baik disisi Allah tidaklah lebih pintar dari kalian. saya hanya kalian untuk membuktikan kejeniusan kalian dalam menentang dallil2 diatas yg telah menjadi rujukan para Ulama dan Muballigh.

      Syaratnya. ungkapkan dengan kata2 yg bijak dan dgn kata2 tdk memprovokasi, Kita semua Mencintai Rasulullah saw, maka ungkapkanlah kecintaan kalian kpdnya dengan bertuturkata yg baik agar kalian tdk di cap sbg orang yg mencintai Rasulullah saw namun hanya dibibir saja, sedangkan hatinya jauh dari perilaku Kekasih kita saw.

      • al faqir ilallah
        3 Februari 2012 pukul 06:16 | #9

        setahu saya Rasulullah berpuasa hari senin bukan karena kelahiran beliau, tapi ada pasangannya yaitu hari kamis, kenapa puasa senin kamis bukan senin saja, karena pada 2 hari itu catatan amal diangkat, sebagaimana dalam riyadhus sholihin, tentang maulid nabi yang jadi masalah adalah baru dilaksanakan di jaman sholahuddin al ayubi rahimahullah, dengan tujuan dan manfaat yang jelas dan cara yang tidak berlebihan , sekarang bagaimana? jauh panggang dari api.

  5. rustam ahmad
    28 Maret 2011 pukul 04:16 | #10

    saya s7 bgt, org” yg bodoh, psti akan bilang sesat kpd org yg merayakan maulid n brshalawat kpd BAGINDA ROSULULLAH SAW, krna mreka sma skali tdak mempunyai rasa cinta kpd ROSULULLAH SAW,,

    jangan ngku” umat rosul dh, klo klian msih bilng shalawat n memperingati maulid itu bid’ah..

  6. bintoro
    20 Oktober 2011 pukul 02:29 | #11

    Orang Wahabi (GAM) hanya mempelajari Islam dan Iman saja tanpa ada Ihsan (Tasawuf / Akhlaq). Karena ilmunya hanya dari Sisa2 hadits yang ada di buku. Imam Bukhari saja hafal 600rb hadits hanya sempat menulis hadits cuma 7 ribuan saja. Dan Wahabi memang TIDAK PUNYA GURU, karena Albani ulamanya itu, ngerti Hadits cuma baca di perpustakaan dan tidak berguru ataupun bertanya lagi dengan ulama di zamannya. Bukankah org yang tidak mau bertanya / berguru itu karena ada sifat sombong, dan sombong itu ajaran Syaithan. Wahabi hanya menafsirkan berdasarkan pikirannya sendiri. Imam Tasawuf sj spt Imam Ghazali hafal 300rb lebih hadits sementara ulama wahabi tidak satupun yg hafal 1 haditspun karena mereka tidak punya guru. Salah satu kriteria hadits DHAIF karena SANADnya di ragukan. Wahabi emang punya sanad / guru ? Hehehehe SANGAT SANGAT DIRAGUKAN ALIAS SESAT MENYESATKAN. Bertaubatlah saudaraku.

  7. bintoro
    20 Oktober 2011 pukul 03:25 | #12

    Utk Abu Ulya : Maulid di adakan karena ulama melihat dizaman skrg org sudah tidak perduli lg dgn Nabinya SAW. Sedangkan para sahabat Cintanya mereka kpd Nabi SAW tidak usah dipertanyakan lagi kan ? Dizaman Nabi SAW apakah ada Al Quran, Sayyidina Umarlah yg mengusulkannya juga tarawih berjamaah. Di Zaman Utsman Adzan Jumat 2X. Di zaman para sahabat juga tidak ada KITAB2 HADITS tuh. Apakah itu BID’AH SESAT juga. Jadi para sahabat semua SESAT ? Cuma anda dan WAHABI yang bener ? Astaghfiullah. Semoga anda bisa belajar dari sejarah dan semoga kita semua dilimpahi hidayah oleh ALLAH SWT, sehingga tidak saling mencaci TAPI saling membenahi.

  8. el falah
    1 Februari 2012 pukul 04:48 | #13

    Abu ulya : gak usah ente sok tau gitu,bilang2 klo muludan bid’ah karena ente gak perrnah lepas dari sifat bid’ah. ane gak suka bngt sm ente yang sok pinter,yang kayanya tau bener tentang hukum muludn,emang salah memulyakan orang yang sudah memperjuangkan agama islam?muludan kan positif baca sholawat kpadnya karena Allah juga dan para Malaikatnya Membacakan sholawat kepadanya,ente umat nabi muhammad bukan?
    palsu ente mah,cinta ke nabi tapi tidak mau memuliakannya,sebbel bngt ane sm antum.maaf.tapi semuanya hanya Allah yang Tau segala hal,

  9. Ibnu Hajar
    23 Februari 2012 pukul 02:14 | #14

    untuk Yth. Abu Ulya : klo yang “baru” dikatain Bid’ah berarti kite harus hidup di hutan belantara dong ya… soalnya semua yang ada dalam kehidupan kita saat ini tidak ada dalam zaman nabi, misalnya TV, HP, Kameja, piring, gelas, sarung, komputer, Ipad, satelit, kapal…. de el el…. wahabi lucuuu, bercandanya jelek

  10. Sahrul
    30 Juni 2012 pukul 08:52 | #15

    Bid’ahyang dimaksud adalah dalam urusan agama… kalo maslah keduniaan antum a’lamu bi umri dunyakum (anda yg lebih tau dengan dunia kalian)… Renungkan ini baik2 wahai saudaraku seislam:

    Imam Malik bin Anas (93 – 179 H) رحمه الله تعالى berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agama-mu untukmu…” [Al-Maa-idah:[3]. (Imam Malik rahimahullah selanjutnya berkata), “Maka sesuatu yang pada hari itu bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama” [Al-I’tisham (I/ 64-65) tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly cet. I, th. 1412 H, Daar Ibni Affan]

  11. s
    13 September 2012 pukul 08:41 | #16

    kita selalu ribut masalah, penetapan bulan ramadhan, masalah maulid dan masalah taraweh. apakah kita pernah berfikir untuk membantu umat Nabi Muhammad, SAW mengejakan shalat wajib 5 waktu secarah berjamah. mari kita bersama-sama bersatu
    Firman Allah dalam QS Al Anfal : 46). LEMAH
    “…dan janganlah kamu saling berselisih karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu”

  12. 25 April 2013 pukul 10:50 | #17

    Hey There. I found your blog using msn. This is an extremely well written article.
    I will make sure to bookmark it and return to read more of your useful information.

    Thanks for the post. I’ll certainly comeback.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: